Pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra meluncurkan Cokelatin Signature, merek cokelat yang mengangkat kakao asli Indonesia. Produk mereka diolah dari biji kakao asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menjadi minuman bubuk serta varian cokelat lainnya. Sejak 2016, keduanya mengubah hobi menjadi usaha yang melayani pasar domestik dan menyiapkan ekspor ke luar negeri.
Di ajang Trade Expo Indonesia 2025 di ICE BSD Tangerang, keduanya menjabarkan bahwa ekspor sudah dilakukan ke beberapa negara, antara lain Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong, meski kapasitas produksi masih terbatas. Irena menekankan bahwa ekspor dilakukan atas nama merek, bukan bahan mentah, untuk menjaga kualitas dan nilai tambah produk. Kisah ini menggambarkan potensi cokelat Indonesia yang berdaya saing di pasar global.
Ekspor Global
Keduanya telah menjajaki rute ekspor ke negara-negara utama, termasuk Amerika Serikat melalui kota Boston. Produk diekspor sebagai merek, bukan bahan mentah, sehingga nilai tambah dapat dipertahankan. Langkah ekspor internasional ini menandai kiprah baru bagi UMKM cokelat Indonesia.
Selain AS, ekspor juga menjangkau Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Kapasitas produksi saat ini dianggap belum besar karena keduanya berkomitmen menjaga kualitas dan tidak menjual bahan mentah. Mereka menilai bahwa bubuk minuman cokelat lebih mudah diperdagangkan secara ekspor berkelanjutan.
Mereka menegaskan ekspor sebagai merek memperkuat nilai brand Indonesia di pasar internasional. Rencana pengembangan varian minuman tetap menjadi fokus utama untuk memenuhi permintaan global. Dengan pendekatan ini, Cokelatin berharap memperluas akses ke pasar regional selain pasar domestik.
Strategi Masa Depan
Sejarah pendirian Cokelatin Signature bermula dari kebiasaan menikmati minuman manis. Nama merek lahir dari inisial Iren Nugi, kemudian disederhanakan menjadi Cokelatin sebagai simbol cokelat. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana gairah pribadi bisa berubah menjadi usaha yang berorientasi ekspor.
Selain minuman bubuk, perusahaan juga mulai mengembangkan cokelat batangan. Namun produksi utama saat ini masih untuk bubuk minuman karena permintaan ekspor lebih tinggi dan logistik lebih mudah. Varian minuman dianggap sebagai kunci pertumbuhan pasar domestik maupun ekspor.
Mereka menegaskan orientasi perusahaan adalah menguatkan pasar domestik sambil terus menyiapkan langkah ekspor. Pengujian varian baru tetap dilakukan untuk memenuhi preferensi konsumen internasional. Dukungan terhadap UMKM kakao lokal menjadi fokus untuk menjaga keberlanjutan produksi.
