Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia ke Empat Negara

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 09:34 WIB 6
Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia ke Empat Negara

Cokelat masih menjadi salah satu rasa favorit masyarakat Indonesia, tetapi pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra berhasil membawanya naik kelas. Lewat merek Cokelatin Signature, keduanya mengolah kakao asli Indonesia dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menjadi produk bernilai jual tinggi. Produk itu tidak hanya diminati pasar domestik, tetapi juga telah masuk ke sejumlah negara. Langkah ini menunjukkan potensi kakao Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.

Irena mengatakan ekspor Cokelatin Signature telah dilakukan ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Namun, kapasitas pengiriman masih terbatas karena perusahaan memilih tidak mengekspor bahan mentah. Fokus mereka adalah menjaga identitas merek sekaligus mempertahankan kualitas produk olahan. Kisah ini menjadi contoh bagaimana UMKM lokal bisa tumbuh dari kecintaan pada produk sederhana.

Cokelatin Signature dan ekspor

Irena menjelaskan bahwa pasar utama bisnis mereka saat ini masih berada di dalam negeri. Meski demikian, ekspor sudah berjalan ke beberapa negara dengan skala yang belum besar. Perusahaan tetap menjaga prinsip untuk tidak menjual kakao dalam bentuk mentah. Menurutnya, nilai tambah harus hadir melalui produk jadi yang membawa nama merek Indonesia.

Dalam keterangannya di Trade Expo Indonesia, ICE BSD, Tangerang, Irena menyebut pengiriman sudah dilakukan ke Boston di Amerika Serikat, Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Ia menegaskan bahwa ekspor itu dilakukan sebagai brand, bukan sebagai pemasok bahan baku. Pendekatan tersebut membuat Cokelatin Signature memiliki posisi yang lebih kuat di pasar tujuan. Strategi ini juga membantu memperkenalkan cita rasa cokelat Indonesia ke konsumen luar negeri.

Meski sudah melangkah ke pasar ekspor, perusahaan belum mengejar volume besar. Irena menilai kapasitas produksi harus disesuaikan dengan kemampuan menjaga mutu. Ia ingin ekspor tetap berjalan tanpa mengorbankan standar yang telah dibangun sejak awal. Karena itu, pertumbuhan dilakukan secara bertahap dan terukur.

Awal usaha dari minat pribadi

Awal bisnis Cokelatin Signature berangkat dari kebiasaan Irena menyukai minuman manis. Ia kemudian melihat bahwa cokelat Indonesia memiliki rasa yang enak dan layak diolah lebih serius. Dari situ, ia mencoba meracik produk untuk dirinya sendiri. Hasilnya ternyata mendapat respons positif dari orang-orang di sekitarnya.

Pada 2016, Irena masih bekerja sebagai karyawan swasta ketika mulai memperkenalkan racikannya kepada teman kantor. Sambutan yang baik membuatnya yakin untuk terus belajar tentang cokelat. Saat itu, ia juga mengakui belum memahami bisnis maupun dunia UMKM. Namun, proses belajar tersebut justru menjadi fondasi pertumbuhan usaha hingga sekarang.

Nama Cokelatin sendiri berasal dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi. Menurut Irena, nama itu dipilih karena terasa dekat dengan perjalanan mereka sebagai pasangan. Ia juga memandang cokelat sebagai simbol cinta yang hangat dan mudah diterima banyak orang. Dari identitas sederhana itu, merek kemudian berkembang menjadi usaha yang lebih terstruktur.

Fokus produk bubuk minuman

Saat ini Cokelatin Signature memang sudah memiliki produk cokelat bar. Akan tetapi, produksi terbesar masih berada pada bubuk minuman cokelat. Irena menilai produk minuman lebih sesuai dengan minat pasar yang ingin dijangkau perusahaan. Selain itu, format bubuk lebih fleksibel untuk dikirim ke berbagai negara.

Menurut Irena, produk minuman cokelat juga lebih mudah ditangani dalam proses ekspor. Kemudahan logistik menjadi pertimbangan penting ketika perusahaan ingin memperluas jangkauan pasar. Ia menyebut orientasi bisnis mereka bukan hanya domestik, tetapi juga internasional. Karena itu, produk yang dipilih harus efisien dari sisi produksi dan distribusi.

Perusahaan terus mengembangkan varian minuman cokelat agar tetap relevan di pasar. Inovasi dilakukan tanpa meninggalkan karakter rasa yang berbasis kakao asli Indonesia. Bagi Irena, kualitas rasa menjadi alasan utama konsumen mau mencoba dan kembali membeli. Pendekatan ini membuat produk mereka memiliki diferensiasi yang jelas.

Potensi kakao Indonesia

Kisah Cokelatin Signature memperlihatkan bahwa kakao Indonesia memiliki potensi besar di pasar global. Produk olahan yang dibangun dari bahan baku lokal dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat citra Indonesia. Hal itu juga memberi nilai tambah yang lebih tinggi dibanding menjual bahan mentah. Dengan strategi yang tepat, UMKM mampu menembus pasar ekspor.

Keberhasilan tersebut juga sejalan dengan tren konsumen yang semakin mencari produk autentik dan memiliki cerita asal-usul yang kuat. Cokelatin Signature menawarkan keduanya melalui kakao dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Identitas bahan baku ini memberi keunikan yang sulit ditiru pesaing. Di sisi lain, merek lokal ikut mendapat tempat di pasar premium.

Perjalanan Irena dan Nugroho menunjukkan bahwa usaha kecil bisa berkembang melalui konsistensi, pembelajaran, dan keberanian mengambil peluang. Dari racikan sederhana di rumah, produk mereka kini sudah dikenal lintas negara. Ekspor memang belum dalam skala besar, tetapi fondasinya sudah terbentuk kuat. Langkah berikutnya adalah menjaga kualitas sambil memperluas pasar secara berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!