BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco di Indonesia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 23:50 WIB 2
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Temuan tersebut didorong oleh menurunnya kontribusi layanan legacy, sementara pertumbuhan revenue industri diperkirakan hanya 1,2 persen hingga 2032. Di tengah kondisi itu, energi terbarukan disebut sebagai salah satu solusi untuk menekan biaya operasional jaringan.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyampaikan hal itu dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, Rabu (20/5/2026). Ia mengacu pada analisis PricewaterhouseCoopers dan menegaskan bahwa operator perlu mendorong penjualan sekaligus mengoptimalkan biaya energi. Menurut dia, tekanan pendapatan dan biaya membuat efisiensi menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Energi dan Revenue Telco

Dr Mardi menjelaskan bahwa riset PwC menunjukkan pendapatan industri telekomunikasi diproyeksikan tumbuh sangat terbatas. Dari historical revenue 2021 hingga proyeksi 2032, kenaikannya hanya sekitar 1,2 persen. Kondisi ini menandakan ruang pertumbuhan bisnis operator semakin sempit.

Ia menilai operator harus agresif mencari sumber pendapatan baru melalui paket layanan yang lebih menarik. Layanan telepon dan SMS, yang selama ini menjadi penopang utama, kini sudah jauh berkurang penggunaannya. Karena itu, strategi bisnis tidak lagi bisa bergantung pada model lama.

Menurutnya, tantangan tersebut menuntut operator untuk memperkuat penjualan dan inovasi produk. Langkah itu perlu dilakukan agar revenue tetap terjaga di tengah perubahan perilaku pelanggan. Tanpa adaptasi, tekanan pada kinerja keuangan akan semakin besar.

Dr Mardi juga menekankan bahwa efisiensi energi harus menjadi bagian dari strategi bisnis. Penghematan biaya energi dapat membantu memperbaiki margin di saat pertumbuhan pendapatan melambat. Dengan demikian, operator memiliki ruang lebih luas untuk mempertahankan daya saing.

Biaya Energi Operator

Ia menyebut biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi. Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Angka tersebut menunjukkan betapa besar beban energi dalam struktur biaya industri.

Karena itu, pengelolaan energy cost menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas. Jika biaya energi dapat ditekan, operator berpeluang meningkatkan efisiensi secara signifikan. Hal ini juga dapat memperkuat kemampuan perusahaan menghadapi tekanan persaingan.

Dr Mardi menilai efisiensi energi tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga pada keberlanjutan bisnis. Operator yang mampu mengelola konsumsi energi dengan baik akan lebih siap menghadapi kebutuhan jaringan yang terus berkembang. Di sisi lain, pemborosan energi akan memperberat beban operasional.

Ia menekankan bahwa kebutuhan energi jaringan perlu dianalisis secara lebih rinci agar solusi yang diambil tepat sasaran. Setiap site memiliki karakteristik berbeda, sehingga pendekatan efisiensi tidak bisa disamaratakan. Dengan perencanaan yang baik, biaya dapat ditekan tanpa mengganggu kualitas layanan.

Energi Terbarukan Telco

Menurut Dr Mardi, potensi penghematan biaya terbesar justru datang dari purchasing atau generating green energy untuk jaringan telekomunikasi. Energi terbarukan dapat menjadi opsi yang lebih efisien dalam jangka panjang. Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan agenda pengurangan emisi.

Ia menyebut beberapa teknologi yang dapat digunakan, seperti solar PV, wind turbine, dan micro hydro kinetic. Pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokasi dan profil site. Dengan pendekatan tersebut, sistem energi menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Analisis McKinsey yang dirujuk BRIN menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Dari seluruh komponen itu, energi hijau dinilai paling potensial untuk menghemat biaya.

Dr Mardi menilai pemanfaatan energi terbarukan dapat memberi manfaat ganda bagi operator. Selain menekan biaya, perusahaan juga dapat memperkuat citra keberlanjutan di mata publik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menjadi keunggulan kompetitif.

Hambatan Energi Hijau

Meski potensinya besar, implementasi renewable energy di jaringan operator Indonesia dinilai masih lambat. Dr Mardi mempertanyakan alasan belum meluasnya adopsi teknologi tersebut, padahal pembahasannya sudah dimulai sejak 2010. Ia mengingat Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project di Kalimantan dan Sumatera.

Menurut dia, adanya pilot project menunjukkan bahwa solusi teknis sebenarnya sudah pernah diuji. Namun, hingga hampir 15 tahun berlalu, penerapannya belum dilakukan secara menyeluruh. Situasi ini mengindikasikan masih ada hambatan di tingkat implementasi.

Ia menduga ada barrier yang membuat operator ragu memperluas penggunaan energi terbarukan. Hambatan itu bisa berkaitan dengan investasi awal, kesiapan infrastruktur, maupun model bisnis yang belum sepenuhnya mendukung. Tanpa kejelasan strategi, transisi energi akan berjalan lambat.

Dr Mardi menegaskan bahwa industri telekomunikasi perlu melihat energi terbarukan sebagai investasi jangka panjang. Jika hambatan dapat diatasi, operator berpeluang menekan biaya sekaligus memperkuat keberlanjutan operasional. Dengan demikian, transformasi energi dapat menjadi bagian penting dari masa depan jaringan telekomunikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!