Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan Nasional

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 00:58 WIB 2
Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan Nasional

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah dinilai berhasil mengubah tantangan pesisir menjadi peluang ekonomi. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw menerima penghargaan perempuan inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak karena kontribusi mereka dalam membangun usaha, menggerakkan komunitas, dan mendukung perikanan berkelanjutan.

Keduanya tumbuh sebagai pelaku perubahan di wilayah pesisir, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar. Melalui pengolahan hasil laut, penguatan jejaring pemasaran, dan penerapan pendekatan ekonomi biru, mereka menunjukkan bahwa perempuan nelayan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

Perempuan nelayan dan ekonomi pesisir

Sri Fany Mony memulai kiprahnya dari seorang ibu rumah tangga yang belum memiliki usaha ekonomi. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar atau Poklahsar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Kelompok ini mengembangkan beragam olahan ikan dan produk ecoprint yang bernilai jual.

Transformasi Fany menjadi contoh nyata pemberdayaan perempuan pesisir yang terukur dan berkelanjutan. Pada 2025, kelompok yang dipimpinnya mencatat pendapatan Rp 44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain mendorong pendapatan, kelompok Dullah Tama juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Aktivitas tersebut memperluas pengaruh perempuan pesisir di luar komunitas lokal. Dengan cara itu, usaha kecil berbasis hasil laut dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah.

Inovasi olahan ikan bernilai tambah

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda melalui Kelompok Seraphim Bofuwer di Teluk Arguni, Kaimana. Sebagai pendeta Protestan sekaligus ketua wilayah, ia mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih efisien. Langkahnya berangkat dari potensi ikan kakap cina yang sebelumnya kurang dimanfaatkan secara optimal.

Melalui inisiatif tersebut, kakap cina diolah menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan bergizi lainnya. Pemanfaatan ini mengurangi pemborosan sumber daya perikanan sekaligus menambah nilai ekonomi komoditas lokal. Produk olahan juga memberi peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir.

Inovasi Nova tidak berhenti pada pengolahan, tetapi juga menyentuh ketahanan pangan keluarga. Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional seperti Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 serta mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Penghargaan dan seleksi ketat

Kedua perempuan tersebut memperoleh penghargaan sebagai perempuan inspiratif 2025 dalam acara bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Penghargaan ini diberikan oleh KemenPPPA sebagai bentuk apresiasi atas peran perempuan dalam pembangunan nasional. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan.

Latif menjelaskan, proses seleksi dilakukan secara kolaboratif antara KemenPPPA dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Mekanisme ini memastikan penghargaan diberikan kepada sosok yang benar-benar membawa perubahan.

Kedua penerima penghargaan juga merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency. Fokus utamanya adalah penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur.

Jejaring program dan dampak nyata

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa peran Champion dirancang untuk menjaga keberlanjutan dampak program. Para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang dapat melanjutkan misi CFI, KKP, dan GEF setelah proyek berakhir. Mereka diperkuat melalui pelatihan komunitas, pengembangan mata pencaharian alternatif, dan praktik perikanan berkelanjutan.

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan. Program ini mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern.

Produk kelompok binaan kini dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan berdampak langsung pada ekonomi keluarga dan ketahanan sosial-ekologis pesisir. Dari wilayah pesisir, keduanya menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi motor penting bagi ekonomi biru Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!