Kolagen Tak Hanya untuk Kulit, Ini Manfaat dan Cara Menjaganya

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 02:11 WIB 2
Kolagen Tak Hanya untuk Kulit, Ini Manfaat dan Cara Menjaganya

Produksi kolagen dalam tubuh akan menurun seiring bertambahnya usia, sehingga banyak orang mulai memperhatikan asupannya sejak usia 25 tahun ke atas. Kolagen kerap dikaitkan dengan kulit yang lebih elastis dan lembap, tetapi perannya ternyata jauh lebih luas. Zat ini juga membantu menjaga kesehatan sendi dan tulang, sehingga mendukung tubuh tetap aktif.

Spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Dr Adrian Setiaji, menjelaskan bahwa tulang dan sendi yang terjaga akan memudahkan seseorang menjalani gaya hidup aktif dan olahraga rutin. Sementara itu, spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, Dr Danar Wicaksono, menegaskan vitamin C berperan sebagai pendorong produksi kolagen sekaligus membantu penyerapannya. Keduanya menyampaikan pandangan itu dalam acara peluncuran Bear Brand Collagen dan Vitamin C di Smash Padel, TB Simatupang, Jakarta Selatan, pada 26 Mei 2026.

Kolagen dan vitamin C

Kolagen merupakan protein struktural yang banyak ditemukan pada kulit, tulang, sendi, dan jaringan ikat. Saat produksinya menurun, tubuh bisa kehilangan sebagian kemampuan alaminya untuk menjaga kekuatan serta elastisitas jaringan. Karena itu, asupan kolagen sering dipertimbangkan sebagai bagian dari dukungan kesehatan harian.

Manfaat kolagen tidak terbatas pada penampilan kulit. Dr Adrian menyebut kolagen juga penting untuk mendukung kesehatan sendi dan tulang agar aktivitas fisik tetap nyaman dilakukan. Dengan kondisi tubuh yang lebih terjaga, olahraga rutin pun dapat dijalani dengan lebih konsisten.

Vitamin C memiliki peran penting dalam proses pembentukan kolagen di dalam tubuh. Menurut Dr Danar, vitamin ini bekerja sebagai booster yang membantu produksi kolagen sekaligus mendukung penyerapannya. Oleh karena itu, kebutuhan vitamin C yang cukup menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan kulit dan jaringan tubuh.

Sumber vitamin C sebenarnya dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Namun, bagi sebagian orang, terutama yang memiliki aktivitas padat, pemenuhan kebutuhan harian dari makanan saja bisa terasa kurang praktis. Dalam kondisi seperti itu, suplemen vitamin C tambahan dinilai dapat membantu karena kandungannya terukur dengan lebih baik.

Asupan harian yang tepat

Tidak ada waktu khusus untuk mengonsumsi suplemen kolagen maupun vitamin C. Konsumsi dapat disesuaikan dengan kebiasaan dan aktivitas masing-masing individu. Dengan cara ini, suplemen bisa lebih mudah menjadi bagian dari rutinitas harian.

Meski demikian, hasil yang optimal tetap membutuhkan pola hidup sehat. Kualitas tidur, olahraga rutin, dan manajemen stres yang baik menjadi faktor pendukung yang tidak bisa diabaikan. Kombinasi ketiganya membantu tubuh bekerja lebih seimbang dalam proses regenerasi.

Dr Adrian menilai, kebiasaan sehat memiliki peran besar dalam mendukung produksi kolagen yang optimal. Saat tidur cukup dan tubuh aktif bergerak, proses pemulihan jaringan dapat berjalan lebih baik. Kondisi ini turut membantu menjaga daya tahan tubuh secara keseluruhan.

Bagi masyarakat perkotaan yang serba cepat, konsistensi menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemenuhan nutrisi dari makanan dan suplemen perlu diimbangi dengan disiplin menjaga gaya hidup. Pendekatan yang seimbang akan membuat manfaatnya lebih terasa dalam jangka panjang.

Tanda tubuh kekurangan kolagen

Kekurangan kolagen sering kali tidak langsung menunjukkan gejala yang jelas. Namun, ketika tubuh mulai lebih mudah terasa nyeri atau rentan cedera, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan. Karena itu, perubahan kecil pada tubuh sebaiknya tidak diabaikan.

Selain nyeri dan mudah cedera, tanda lain yang dapat muncul adalah stretch mark pada kulit. Kondisi ini kerap terlihat sebagai garis-garis atau kulit yang tampak pecah-pecah, terutama pada ibu hamil dan orang yang mengalami kenaikan berat badan. Munculnya stretch mark berkaitan dengan perubahan elastisitas kulit.

Kolagen yang cukup dapat membantu menjaga ketebalan dan kelenturan kulit. Dengan elastisitas yang lebih baik, risiko terbentuknya stretch mark dapat berkurang. Langkah pencegahan ini akan lebih efektif jika dilakukan sejak awal sebelum keluhan muncul.

Namun, jika stretch mark sudah terlanjur terbentuk, suplemen atau makanan tidak dapat menghilangkannya sepenuhnya. Jaringan kulit yang sudah mengalami cedera umumnya memerlukan penanganan lebih lanjut. Dalam kasus seperti ini, tindakan medis menjadi pilihan yang lebih tepat.

Cara atasi stretch mark

Untuk mengurangi stretch mark yang sudah muncul, tindakan medis seperti laser dapat dipertimbangkan. Prosedur ini sebaiknya dilakukan oleh dokter profesional di klinik kecantikan. Pemilihan tindakan juga perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.

Dr Danar menyebut perawatan medis memberikan peluang yang lebih baik dibanding mengandalkan suplemen semata. Hal ini karena stretch mark yang sudah terbentuk berkaitan dengan kerusakan jaringan kulit. Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat menentukan pendekatan yang paling sesuai.

Perawatan kulit tetap akan lebih efektif bila diiringi kebiasaan hidup sehat. Asupan nutrisi, istirahat cukup, dan pengelolaan stres membantu tubuh menjalankan fungsi pemulihan secara optimal. Kebiasaan tersebut juga penting untuk menjaga kualitas kulit dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, kolagen bukan hanya soal penampilan kulit yang lebih terawat. Zat ini juga mendukung sendi, tulang, dan kenyamanan bergerak sehari-hari. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menentukan langkah perawatan yang lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!