BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telekomunikasi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 29 Mei 2026 22:59 WIB 5
BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telekomunikasi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai industri telekomunikasi di Indonesia tengah menghadapi saturasi pendapatan, sementara kebutuhan efisiensi operasional makin mendesak. Salah satu solusi yang disorot adalah pemanfaatan energi terbarukan untuk menekan biaya energi jaringan.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, mengutip riset PricewaterhouseCoopers (PwC) yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Ia menyampaikan pandangan itu dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu (20/5/2026).

Energi Terbarukan dan Telko

Menurut Dr Mardi, operator telekomunikasi perlu mendorong penjualan layanan baru agar pendapatan tidak bergantung pada layanan lama seperti telepon dan SMS. Ia menilai pasar legacy services semakin menyusut dan tidak lagi menjadi penopang utama pendapatan.

Dalam kondisi tersebut, efisiensi biaya menjadi langkah penting untuk menjaga margin usaha. Salah satu pos yang paling besar adalah biaya energi, karena porsinya mencapai 20 persen dari total biaya operasional operator.

Dr Mardi menjelaskan, dari porsi biaya energi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk membeli bahan bakar dan listrik. Kondisi ini membuat pengelolaan energi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi.

Efisiensi Biaya Operasional

Ia mengacu pada analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi di industri telekomunikasi. Empat faktor tersebut adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari seluruh faktor itu, Dr Mardi menilai potensi penghematan terbesar datang dari pembelian atau pembangkitan energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Pendekatan ini dinilai lebih relevan karena dapat menekan biaya sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Energi terbarukan yang dimaksud dapat berasal dari panel surya, turbin angin, micro hydro, hingga teknologi kinetik, sesuai karakteristik lokasi jaringan. Dengan model ini, operator dapat menyesuaikan sumber energi dengan profil site agar lebih efisien dan andal.

Hambatan Implementasi

Meski peluangnya besar, Dr Mardi mempertanyakan mengapa skema energi terbarukan belum diterapkan secara luas oleh operator di Indonesia. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan bisnis dan strategi implementasi.

Ia mengingat bahwa riset terkait pemanfaatan energi terbarukan di jaringan telekomunikasi sudah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan proyek percontohan instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa gagasan efisiensi energi bukan hal baru di industri ini. Namun, hingga kini penerapannya belum meluas secara menyeluruh, sehingga muncul pertanyaan mengenai hambatan yang masih dihadapi operator.

Arah Industri Telekomunikasi

BRIN menilai industri telekomunikasi perlu menyeimbangkan strategi pertumbuhan pendapatan dengan efisiensi biaya yang lebih agresif. Dengan pertumbuhan yang terbatas, operator dituntut mencari sumber pendapatan baru sekaligus menekan beban operasional.

Penggunaan energi terbarukan dinilai dapat menjadi bagian dari transformasi tersebut. Selain membantu menurunkan biaya, langkah ini juga sejalan dengan tuntutan pengurangan emisi dan keberlanjutan bisnis.

Ke depan, keputusan operator untuk berinvestasi pada energi hijau akan sangat menentukan daya saing mereka. Jika implementasinya berhasil, efisiensi energi dapat menjadi penopang penting di tengah pasar telekomunikasi yang makin jenuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!