Juda Agung: Ekonomi RI Tahan Guncangan di Tengah Ketidakpastian

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 10:34 WIB 2
Juda Agung: Ekonomi RI Tahan Guncangan di Tengah Ketidakpastian

Dolar AS sempat menyentuh Rp17.900 pada Jumat (29/5), memicu perhatian pasar terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan, perekonomian nasional tetap mampu meredam rambatan risiko dari perang tarif dan ketegangan geopolitik karena didukung bauran energi yang kuat dan kebijakan fiskal yang pruden.

Pernyataan itu disampaikan Juda dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor, yang dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Minggu (31/5/2026). Ia menyebut strategi pemerintah selama ini diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya tahan fiskal, dan menjaga pertumbuhan tetap berada di jalur yang sehat.

Ketahanan ekonomi Indonesia

Juda menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik meski menghadapi ketidakpastian global. Kondisi tersebut, menurut dia, tidak lepas dari struktur energi nasional yang semakin beragam dan mampu mengurangi tekanan saat harga minyak dunia melonjak. Indonesia memproduksi minyak, gas, biodiesel, bioenergi, dan batu bara, sehingga bauran energinya relatif lebih kuat. Dengan komposisi itu, perekonomian nasional dinilai lebih siap menghadapi gejolak eksternal.

Ia menegaskan bahwa energi mix yang lebih sehat menjadi penyangga penting bagi stabilitas nasional. Ketika harga energi global meningkat, dampaknya terhadap Indonesia tidak sebesar negara yang bergantung penuh pada impor. Situasi ini juga membantu pemerintah menjaga inflasi agar tetap terkendali. Pada saat yang sama, ruang fiskal tetap bisa digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ketangguhan tersebut, lanjutnya, bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kebijakan yang dijalankan secara konsisten. Pemerintah terus menjaga disiplin dalam pengelolaan anggaran agar risiko dari luar tidak cepat menjalar ke dalam negeri. Pendekatan itu membuat Indonesia masih mampu mempertahankan kepercayaan pasar. Dalam pandangan Juda, ketahanan ekonomi menjadi modal utama untuk menghadapi ketidakpastian yang masih tinggi.

Strategi fiskal pemerintah

Juda memaparkan tiga strategi fiskal yang dijalankan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat. Strategi pertama adalah pengendalian belanja negara agar pengeluaran tetap efisien dan tepat sasaran. Pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi BBM. Di saat yang sama, belanja negara diarahkan pada sektor produktif yang dapat memacu produksi dan membuka lapangan kerja.

Dalam penjelasannya, refocusing anggaran dilakukan agar belanja pemerintah benar-benar memberi dampak ekonomi. Fokus pengeluaran diarahkan pada program yang mendorong permintaan, memperkuat pasokan, dan menciptakan aktivitas usaha baru. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menjaga inflasi tetap rendah. Dengan demikian, belanja negara tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif.

Strategi kedua adalah optimalisasi penerimaan negara dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas. Pemerintah juga memperkuat penerimaan pajak melalui implementasi sistem Coretax. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kepatuhan sekaligus memperbaiki administrasi perpajakan. Juda menilai penerimaan yang kuat menjadi fondasi penting bagi ruang gerak fiskal pemerintah.

Pembiayaan non dolar

Strategi ketiga ditempuh dari sisi pembiayaan, dengan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Pemerintah mendorong penerbitan surat utang dalam mata uang non-USD dengan tingkat bunga yang kompetitif. Instrumen yang digunakan antara lain Samurai bonds berdenominasi yen, Dim Sum bonds dalam renminbi, dan Kangaroo bonds dalam dolar Australia. Langkah ini dinilai lebih adaptif terhadap perubahan pasar keuangan global.

Menurut Juda, diversifikasi pembiayaan menjadi penting untuk mengurangi risiko nilai tukar. Ketika tekanan terhadap dolar meningkat, beban pembiayaan bisa ditekan melalui sumber pendanaan yang lebih beragam. Strategi ini juga memberi fleksibilitas bagi pemerintah dalam mengelola portofolio utang. Dengan struktur pembiayaan yang lebih seimbang, stabilitas fiskal dapat lebih terjaga.

Ia menambahkan bahwa pembiayaan yang pruden menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor. Pemerintah berupaya memastikan setiap kebijakan pembiayaan tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Pendekatan itu diperlukan agar beban fiskal tidak meningkat secara berlebihan di tengah gejolak eksternal. Dalam kerangka ini, pembiayaan non-dolar menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga ketahanan ekonomi.

Kinerja ekonomi tetap terjaga

Juda menyebut efektivitas strategi fiskal tercermin pada kinerja ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen, menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah tantangan global. Inflasi juga tetap terjaga di level 2,42 persen, sehingga daya beli masyarakat tidak tertekan secara signifikan. Selain itu, defisit fiskal tercatat terkendali di level 0,64 persen pada April 2026.

Ia menilai empat indikator utama, yakni pertumbuhan, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN, menjadi ukuran penting bagi kekuatan fiskal Indonesia. Ketika indikator-indikator tersebut tetap stabil, kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah ikut terjaga. Yield SBN dan spread yang masih aman menjadi sinyal positif bagi pasar. Hal ini memperlihatkan bahwa strategi yang dijalankan pemerintah memberi hasil nyata.

Juda menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah berjalan efektif. Menurut dia, kombinasi antara pengendalian belanja, optimalisasi penerimaan, dan pengelolaan pembiayaan telah bekerja dengan baik. Pemerintah pun tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi sambil memastikan pertumbuhan tetap inklusif. Dengan hasil itu, Indonesia dinilai memiliki pondasi yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!