BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 15:14 WIB 6
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Langkah ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing.

Peluang kerja sama tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Kolaborasi yang dibahas mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan pihak dalam dan luar negeri.

Kolaborasi Satelit LEO

Chusnul menegaskan, BRIN membuka ruang kerja sama yang dapat mempercepat penguatan kapasitas satelit nasional. Menurut dia, Telkomsat memiliki potensi besar sebagai mitra strategis dalam pengembangan ekosistem tersebut.

Kerja sama itu tidak hanya menyasar aspek teknis, tetapi juga hilirisasi teknologi yang lebih luas. BRIN menilai integrasi antara riset dan industri akan mempercepat pemanfaatan hasil inovasi di lapangan.

Ia menambahkan, penguatan jaringan kerja dengan berbagai pihak akan menjadi bagian penting dari pengembangan satelit nasional. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Riset Satelit Nasional

Saat ini, BRIN tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Riset tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam penguatan kapasitas observasi bumi Indonesia.

Ke depan, arah penelitian juga akan diperluas ke satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi. Pengembangan ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan data dan layanan antariksa yang semakin kompleks.

Selain itu, BRIN melihat peluang besar pada peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES. Pergeseran tersebut dinilai membuka ruang kolaborasi baru dalam sistem komunikasi dan pengawasan maritim.

Tantangan Operasi Satelit

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa operasional satelit LEO memiliki tantangan yang tidak sederhana. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut menuntut sistem operasi yang dinamis, responsif, dan terintegrasi. Karena itu, manajemen misi harus dirancang secara presisi sejak tahap perencanaan hingga distribusi data.

Menurut Satriya, pengendalian orbit juga menjadi aspek penting agar satelit tetap berada pada jalur yang aman. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala serta antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Kemandirian Teknologi Satelit

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi juga menghadapi keterbatasan waktu yang ketat. Untuk itu, diperlukan perencanaan uplink dan downlink yang presisi, serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai.

Satriya menambahkan, pemantauan kesehatan satelit secara real time menjadi bagian yang tidak kalah penting. Seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama, harus terus diawasi agar gangguan dapat segera diatasi.

Ia menekankan, pengembangan perangkat lunak merupakan fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak untuk perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah dinilai penting untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!