BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 02 Juni 2026 03:02 WIB 3
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki kerja sama strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pertemuan tersebut berlangsung di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, saat BRIN menerima kunjungan kerja Telkomsat. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan terintegrasi. Fokus kerja sama mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, serta penguatan infrastruktur pendukung.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyebut Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi. BRIN saat ini juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset satelit akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar dan satelit komunikasi. Selain itu, peralihan teknologi dari Automatic Identification System ke VHF Data Exchange System turut membuka peluang kolaborasi baru.

Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Chusnul menilai kolaborasi dengan Telkomsat dapat mempercepat penguatan ekosistem satelit nasional. Kerja sama tersebut tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga pengembangan kapasitas manusia. BRIN membuka peluang sinergi dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri untuk mendukung tujuan itu. Menurut dia, pendekatan kolaboratif dibutuhkan agar Indonesia memiliki kemandirian dalam teknologi satelit.

Dalam pertemuan tersebut, BRIN menekankan pentingnya hilirisasi agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium. Telkomsat dinilai memiliki peran dalam membawa teknologi satelit masuk ke tahap pemanfaatan yang lebih luas. Integrasi data satelit nasional juga menjadi salah satu bidang yang dinilai strategis. Dengan begitu, hasil pengamatan dan komunikasi satelit dapat memberi manfaat yang lebih nyata bagi sektor publik dan industri.

Chusnul menyebut pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi utama dalam kerja sama ini. Alih teknologi diperlukan agar pengetahuan yang dibangun di BRIN dapat terserap secara berkelanjutan. Kolaborasi juga diharapkan mendorong lahirnya tenaga ahli yang mampu mengelola sistem satelit secara mandiri. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia di industri antariksa.

Selain itu, BRIN dan Telkomsat melihat peluang besar pada integrasi layanan satelit untuk kebutuhan nasional. Dukungan infrastruktur yang memadai akan menentukan keberhasilan operasional di lapangan. Kerja sama ini juga berpotensi mendorong penggunaan data satelit yang lebih efisien. Dalam jangka panjang, ekosistem yang kuat diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Tantangan Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki karakteristik operasional yang sangat dinamis. Satelit jenis ini bergerak cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem pengelolaan yang responsif dan terintegrasi. Karena itu, setiap aktivitas satelit harus dirancang dengan tingkat presisi yang tinggi.

Menurut Satriya, manajemen misi menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas operasi satelit. Tahapan ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi. Semua proses itu harus disusun agar manfaat satelit dapat dimaksimalkan. Tanpa pengelolaan yang baik, data yang dihasilkan berisiko tidak optimal untuk digunakan.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek krusial dalam operasional satelit LEO. Koreksi orbit berkala diperlukan agar satelit tetap berada pada jalurnya. Selain itu, operator harus mengantisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Upaya ini menjadi bagian dari keselamatan misi sekaligus perlindungan aset satelit.

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena waktu kontak berlangsung singkat. Oleh sebab itu, penjadwalan uplink dan downlink harus dilakukan dengan presisi. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi syarat penting. Dengan sistem yang tertata, proses pertukaran data dapat berjalan lebih efisien dan andal.

Penguatan Teknologi dan Data

Satriya menegaskan bahwa pemantauan kesehatan satelit harus dilakukan secara waktu nyata atau real time. Operator perlu mengawasi seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Jika ada anomali, penanganan bisa dilakukan lebih cepat sebelum gangguan meluas. Pendekatan ini penting untuk menjaga keberlanjutan layanan satelit.

Dalam sistem satelit modern, perangkat lunak memegang peranan sentral. Perangkat lunak digunakan untuk perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Dengan penguasaan perangkat lunak yang kuat, sistem kendali satelit dapat bekerja lebih efektif. Hal itu sekaligus menjadi kunci dalam pengembangan teknologi yang berdaulat.

BRIN menilai penguatan perangkat lunak juga membantu mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri. Kemandirian ini menjadi sasaran penting dalam pengembangan teknologi satelit nasional. Selain efisiensi, penguasaan teknologi lokal juga memberi fleksibilitas lebih besar dalam pengembangan fitur baru. Kondisi tersebut diharapkan mendukung keberlanjutan riset dalam negeri.

Integrasi data satelit nasional menjadi salah satu manfaat yang ingin didorong melalui kolaborasi ini. Data yang terhubung dengan baik dapat mendukung berbagai sektor, mulai dari pemantauan wilayah hingga komunikasi. BRIN menilai sinergi dengan Telkomsat akan mempercepat pemanfaatan data tersebut. Pada akhirnya, kerja sama ini diharapkan menjadi pijakan menuju ekosistem satelit nasional yang lebih tangguh.

Prospek Industri Satelit Indonesia

Kerja sama BRIN dan Telkomsat menunjukkan bahwa industri satelit Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan. Penguatan operasional LEO menjadi langkah penting untuk menjawab kebutuhan layanan data dan komunikasi yang semakin kompleks. Di sisi lain, riset satelit optik dan SAR memberi arah baru bagi pengembangan teknologi antariksa nasional. Kombinasi itu dapat memperluas manfaat satelit bagi pemerintah, industri, dan masyarakat.

Peralihan dari AIS ke VDES juga dipandang sebagai momentum penting dalam pengembangan layanan maritim berbasis satelit. Teknologi ini membuka ruang kolaborasi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan. BRIN melihat peluang tersebut sebagai bagian dari strategi hilirisasi yang lebih luas. Dengan dukungan mitra industri, inovasi riset berpeluang lebih cepat digunakan secara praktis.

Telkomsat dinilai dapat berperan dalam memperkuat infrastruktur dan rantai layanan satelit nasional. Kemitraan ini tidak hanya penting untuk sisi teknis, tetapi juga untuk memperluas kapasitas ekosistem. Keterlibatan pelaku industri diyakini mampu mempercepat transfer pengetahuan dari riset ke pemanfaatan. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi Indonesia.

Ke depan, BRIN berharap sinergi dengan Telkomsat dapat menghasilkan sistem satelit nasional yang lebih unggul dan andal. Pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, dan perangkat lunak menjadi elemen yang saling terkait. Jika kolaborasi berjalan konsisten, Indonesia berpeluang memperkuat posisi di sektor antariksa. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi bagi ekosistem satelit yang lebih kompetitif di masa mendatang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!