BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 22 Mei 2026 12:39 WIB 7
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Langkah ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan mandiri.

Peluang kerja sama itu disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. Kolaborasi yang dibahas mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga sinergi dengan mitra dalam dan luar negeri.

Kolaborasi Satelit LEO

Chusnul menyebut Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi satelit. Selain itu, kerja sama juga dapat memperkuat infrastruktur serta integrasi data satelit nasional. Menurut dia, kebutuhan ekosistem yang solid menjadi kunci agar hasil riset dapat memberi manfaat lebih luas.

BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, arah riset juga mencakup satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi. Pengembangan itu diharapkan memperluas kemampuan Indonesia dalam penyediaan data pengamatan dan komunikasi.

Chusnul menilai peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES turut membuka ruang kolaborasi baru. Pergeseran teknologi tersebut membutuhkan dukungan riset, integrasi sistem, dan kesiapan operasional yang memadai. Karena itu, kerja sama dengan industri dianggap relevan untuk mempercepat penerapan teknologi satelit nasional.

Tantangan Operasional LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, memaparkan bahwa satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi. Periode orbitnya berkisar 90 hingga 120 menit, sehingga sistem operasional harus bekerja dinamis dan responsif. Kondisi tersebut menuntut perencanaan misi yang jauh lebih presisi.

Manajemen misi mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal. Satriya menegaskan bahwa seluruh proses itu harus terintegrasi sejak awal. Tanpa pengaturan yang baik, data satelit berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.

Selain manajemen misi, pengendalian orbit menjadi aspek penting untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala serta antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Langkah tersebut dibutuhkan agar operasi satelit tetap aman dan berkelanjutan.

Komunikasi dan Pemantauan

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi juga memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi syarat penting agar konektivitas tetap stabil.

Operator satelit harus memantau kesehatan satelit secara real time untuk mendeteksi gangguan sejak dini. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Dengan cara ini, potensi masalah dapat segera ditangani sebelum berdampak lebih luas.

Satriya menambahkan, pemantauan yang baik tidak hanya menjaga fungsi satelit, tetapi juga memastikan kualitas layanan data. Dalam sistem LEO yang bergerak cepat, keterlambatan respons dapat memengaruhi hasil operasi. Oleh karena itu, kecepatan analisis dan ketepatan tindakan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Perangkat Lunak Satelit

Pengembangan perangkat lunak dinilai menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak itu mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Seluruh komponen tersebut harus dirancang agar mudah dioperasikan dan andal dalam berbagai skenario.

BRIN menilai penguasaan perangkat lunak akan mendukung kemandirian teknologi nasional. Langkah itu juga dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri. Dengan begitu, ekosistem satelit Indonesia berpeluang tumbuh lebih kuat dan berdaya saing.

Kolaborasi dengan Telkomsat dinilai dapat mempercepat penerapan hasil riset ke lapangan. Sinergi antara lembaga riset dan industri diharapkan melahirkan solusi yang lebih aplikatif. Dalam jangka panjang, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun industri satelit nasional yang lebih unggul.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!