Boikot Met Gala 2026 Mencuat Usai Digarap Bezos

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 09:28 WIB 15
Boikot Met Gala 2026 Mencuat Usai Digarap Bezos

Gelombang kritik terhadap Met Gala kembali mencuat menjelang perhelatan tahun depan di Metropolitan Museum of Art, New York City. Seruan boikot menguat setelah terungkap bahwa acara mode bergengsi itu didukung oleh Jeff Bezos dan istrinya, Lauren Sánchez Bezos. Sejumlah aktivis memasang poster protes di sekitar lokasi acara dengan pesan yang menolak keterlibatan pendiri Amazon tersebut. Aksi itu menyoroti ketegangan antara industri mode, filantropi, dan kontroversi politik yang melekat pada nama Bezos.

Met Gala 2026 dijadwalkan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, di The Met, dengan dukungan sponsor utama yang telah diumumkan sejak November. Selain Bezos dan Sánchez Bezos, museum juga menyebut Condé Nast dan Saint Laurent sebagai pihak yang ikut mendukung gelaran tersebut. Page Six melaporkan Bezos menyumbang sekitar US$10 juta atau hampir Rp175 miliar untuk Costume Institute. Besarnya dana itu memicu perdebatan baru soal pengaruh miliarder teknologi dalam ajang mode paling prestisius di dunia.

Boikot Met Gala Menguat

Poster-poster protes muncul di berbagai titik dekat Metropolitan Museum of Art, menandai gelombang penolakan yang semakin terlihat. Salah satu tulisan yang terpampang berbunyi, Bezos Met Gala: Brought to you by the firm that powers ICE, yang menyinggung keterkaitan Amazon dengan kebijakan imigrasi di Amerika Serikat. Pesan lain mengajak publik untuk Boycott the Bezos Met Gala, sebagai bentuk penolakan terhadap peran sang miliarder. Aksi itu membuat Met Gala 2026 tak hanya dibicarakan sebagai perhelatan mode, tetapi juga panggung protes publik.

Para aktivis disebut memanfaatkan ruang publik di sekitar museum untuk menarik perhatian media dan pengunjung. Mereka menilai keterlibatan Bezos tidak bisa dilepaskan dari citra korporasi besar yang kerap menjadi sorotan dalam isu ketenagakerjaan dan imigrasi. Kehadiran poster tersebut mempertegas bahwa Met Gala kembali menjadi arena tarik-menarik antara kemewahan dan kritik sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, acara ini memang kerap disorot bukan hanya karena busana para tamu, tetapi juga isu di balik penyelenggaraannya.

Gelombang boikot ini juga menambah daftar panjang kontroversi yang mengiringi Met Gala dari tahun ke tahun. Banyak pihak melihat acara itu sebagai simbol eksklusivitas yang semakin jauh dari publik umum. Ketika pendanaan besar datang dari tokoh yang kontroversial, persepsi terhadap acara ikut berubah. Kondisi tersebut membuat penyelenggara dihadapkan pada tantangan menjaga reputasi tanpa kehilangan dukungan finansial.

Donasi Bezos Picu Kritik

Pengumuman museum pada November lalu menyebut Met Gala tahun ini dimungkinkan berkat dukungan Bezos dan Sánchez Bezos sebagai sponsor utama. Dana tersebut datang bersama kontribusi dari donor lain, termasuk Condé Nast yang menaungi Vogue dan rumah mode Saint Laurent. Page Six melaporkan bahwa sumbangan Bezos mencapai sekitar US$10 juta. Nilai itu setara hampir Rp175 miliar, dan menjadi salah satu sorotan terbesar dalam polemik ini.

Kritik muncul karena sejumlah pihak menilai Bezos berupaya membeli pengaruh dalam salah satu ajang mode paling prestisius di dunia. Bagi para pengkritik, besarnya donasi membuat batas antara filantropi dan kepentingan citra publik menjadi kabur. Mereka menilai dukungan finansial sebesar itu tidak lepas dari upaya memperkuat posisi sang miliarder di ruang budaya populer. Isu tersebut kemudian meluas ke pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan narasi di balik acara bergengsi seperti Met Gala.

Di kalangan pemerhati industri mode, dukungan dari donor besar memang bukan hal baru. Namun, ketika nama yang terlibat memiliki rekam jejak bisnis dan politik yang kontroversial, kritik cenderung menguat. Hal inilah yang terjadi pada Met Gala 2026, ketika donasi besar justru memantik gelombang penolakan. Sorotan publik pun bergeser dari busana dan tamu undangan ke sumber pendanaan acara.

Simbol Kritik Di Karpet Merah

Salah satu poster protes menampilkan ilustrasi tabung gas air mata di atas karpet merah. Gambar itu dimaksudkan sebagai sindiran atas tudingan bahwa Amazon pernah memberhentikan pekerja gudang asing yang kehilangan izin kerja di tengah kebijakan deportasi era Donald Trump. Simbol tersebut memperlihatkan bagaimana kritik terhadap Bezos dibawa ke ranah visual yang tajam dan mudah dikenali. Dengan cara itu, pesan protes menjadi lebih keras dibanding sekadar ajakan boikot biasa.

Penggunaan simbol karpet merah dalam poster juga menyinggung kemewahan Met Gala yang kontras dengan isu ketenagakerjaan. Para aktivis tampaknya ingin menunjukkan bahwa dunia mode tidak berdiri di ruang hampa. Di balik kilau busana mahal, ada persoalan sosial dan politik yang menurut mereka tidak bisa diabaikan. Karena itu, Met Gala 2026 kini dipandang sebagai ajang yang memantulkan banyak ketegangan sekaligus.

Kritik terhadap Bezos semakin relevan karena nama Amazon kerap dikaitkan dengan perdebatan soal hak pekerja dan pengaruh perusahaan teknologi besar. Ketika figur seperti itu masuk ke ruang mode elit, penolakan dari aktivis menjadi semakin mudah dipahami. Mereka memanfaatkan momentum menjelang acara untuk menekan perhatian publik dan media. Hasilnya, Met Gala kembali berada di pusat percakapan global, bukan hanya sebagai perayaan mode, tetapi juga simbol perlawanan.

Met Gala dan Reputasi The Met

Met Gala selama ini dikenal sebagai ajang penggalangan dana yang penting bagi Costume Institute di The Met. Namun, reputasi acara tersebut kerap diuji oleh kritik soal eksklusivitas, sponsor, dan kedekatan dengan tokoh berpengaruh. Dukungan dari Bezos dan Sánchez Bezos membuat diskusi itu kembali menguat pada tahun ini. Museum pun dihadapkan pada pertanyaan tentang keseimbangan antara kebutuhan dana dan sensitivitas publik.

Di sisi lain, dukungan finansial besar tetap dibutuhkan untuk mempertahankan skala acara yang megah. Costume Institute merupakan divisi pameran fashion yang memerlukan sumber dana signifikan untuk operasional dan pamerannya. Karena itu, sponsor kelas kakap sering dianggap sebagai penopang utama keberlangsungan Met Gala. Meski demikian, setiap nama besar yang masuk ke struktur pendanaan membawa konsekuensi reputasi yang tidak kecil.

Dengan protes yang telah muncul sebelum acara digelar, Met Gala 2026 diprediksi akan berlangsung dalam sorotan yang lebih tajam dari biasanya. Publik kini tidak hanya menunggu busana para tamu, tetapi juga respons penyelenggara terhadap kritik yang berkembang. Jika gelombang boikot terus meluas, reputasi acara bisa ikut terpengaruh dalam jangka panjang. Situasi ini menunjukkan bahwa ajang mode sebesar apa pun tetap tidak kebal dari tekanan opini publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!