Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh, Arah Baru Mulai Terlihat

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 09:18 WIB 5
Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh, Arah Baru Mulai Terlihat

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia tengah berada pada momentum pertumbuhan yang strategis. Hal itu disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam paparannya pada Laundry Innovation Day 2025 di Jakarta. Ajang ini digelar untuk kedua kalinya dengan tema Laundry Business Outlook 2026. Apik menilai, peluang pasar semakin terbuka seiring meningkatnya adopsi layanan laundry modern di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan tersebut, Apik menjelaskan bahwa pasar penatu di Asia Tenggara tumbuh pesat dengan compound annual growth rate atau CAGR 9,1 persen pada periode 2025-2030. Ia juga menyoroti model laundromat atau self-service yang telah mencapai 18.000 outlet di Asia Pasifik pada 2024, naik 60 persen dalam empat tahun terakhir. Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi di kawasan, bersaing dengan Thailand dan Singapura. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa industri laundry mulai memasuki fase ekspansi yang lebih matang.

Prospek Bisnis Laundry

Apik menilai pertumbuhan industri laundry tidak lagi sekadar didorong kebutuhan harian masyarakat. Perubahan gaya hidup perkotaan membuat layanan penatu semakin dibutuhkan oleh konsumen yang menginginkan kepraktisan. Di sisi lain, pertumbuhan hunian vertikal dan mobilitas masyarakat ikut memperkuat permintaan pasar. Faktor-faktor tersebut menjadikan bisnis laundry memiliki ruang pertumbuhan yang menjanjikan.

Menurut dia, pasar Indonesia memiliki karakter yang mendukung perkembangan layanan laundry modern. Jumlah penduduk yang besar, urbanisasi yang terus berlangsung, dan perubahan pola konsumsi menciptakan basis pelanggan yang luas. Pelaku usaha juga mulai melihat laundry sebagai model bisnis yang bisa dikembangkan dengan skala lebih profesional. Dengan pendekatan yang tepat, sektor ini dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi usaha kecil maupun menengah.

Ia menambahkan, tren regional menunjukkan bahwa industri laundry sedang bergerak ke arah yang lebih terstruktur. Di Asia Pasifik, model self-service semakin diterima karena menawarkan efisiensi waktu dan biaya. Indonesia, menurut Apik, tidak hanya mengikuti tren tersebut, tetapi juga berpotensi menjadi pasar yang paling dinamis. Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk masuk lebih awal sebelum persaingan semakin ketat.

Momentum ini dinilai penting karena pelaku usaha perlu membaca arah pasar sejak dini. Dalam industri yang berkembang cepat, keputusan investasi dan inovasi menjadi penentu daya saing. Apik menegaskan bahwa bisnis laundry tidak bisa lagi dijalankan dengan pola lama semata. Pengusaha yang mampu beradaptasi akan memiliki posisi lebih kuat di tengah perubahan perilaku konsumen.

Strategi Green Ocean Laundry

Dalam acara tersebut, Apik juga memaparkan pendekatan green ocean strategy yang tengah diterapkan dalam bisnis laundry. Strategi ini menggabungkan inovasi usaha dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Menurut dia, konsep tersebut dirancang agar perusahaan tetap kompetitif tanpa mengabaikan keberlanjutan. Pendekatan ini menjadi pembeda di tengah pasar yang semakin padat.

Fokus utama strategi itu adalah menciptakan nilai baru melalui kolaborasi, digitalisasi, dan efisiensi energi. Kolaborasi dibutuhkan agar ekosistem bisnis laundry dapat tumbuh lebih sehat dan saling menguatkan. Digitalisasi membantu mempercepat layanan sekaligus meningkatkan pengalaman pelanggan. Sementara itu, efisiensi energi menjadi kunci untuk menekan biaya operasional dan dampak lingkungan.

Apik menilai, bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan akan lebih mudah diterima konsumen masa kini. Masyarakat kini semakin memperhatikan aspek ramah lingkungan dalam memilih layanan. Karena itu, usaha laundry perlu menghadirkan proses yang hemat air, hemat listrik, dan lebih bertanggung jawab. Dengan begitu, bisnis tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membangun citra jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa strategi hijau bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan bisnis ke depan. Perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan standar keberlanjutan akan lebih siap menghadapi perubahan pasar. Selain meningkatkan efisiensi, langkah ini juga bisa memperluas peluang kemitraan dan investasi. Dalam jangka panjang, model usaha seperti ini dinilai lebih tahan terhadap tekanan kompetisi.

Digitalisasi Dorong Efisiensi

Digitalisasi menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan bisnis laundry modern. Teknologi membantu pelaku usaha mengelola pesanan, memantau layanan, dan meningkatkan akurasi operasional. Sistem yang tertata juga membuat pengalaman pelanggan menjadi lebih nyaman dan cepat. Di tengah persaingan yang makin ketat, efisiensi digital menjadi nilai tambah yang signifikan.

Menurut Apik, penggunaan teknologi tidak hanya memudahkan operasional, tetapi juga memperkuat hubungan dengan konsumen. Layanan yang terintegrasi dapat memberikan informasi yang lebih jelas mengenai status cucian dan waktu penyelesaian. Hal ini meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap penyedia jasa. Dalam industri jasa, kepercayaan merupakan salah satu modal terpenting untuk menjaga loyalitas.

Ia juga menyoroti pentingnya data dalam pengambilan keputusan bisnis. Melalui sistem digital, pelaku usaha dapat membaca pola permintaan, jam sibuk, hingga preferensi pelanggan. Informasi tersebut berguna untuk menyesuaikan kapasitas layanan dan strategi promosi. Dengan begitu, bisnis dapat berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.

Digitalisasi pada akhirnya mendorong transformasi bisnis laundry dari usaha tradisional menjadi layanan berbasis sistem. Perubahan ini membuat pelaku usaha lebih siap bersaing di pasar yang terus berkembang. Selain itu, penggunaan teknologi juga membuka peluang untuk ekspansi cabang yang lebih terukur. Di tengah pertumbuhan industri, kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi keharusan.

Antusiasme Pasar Menguat

Antusiasme pasar terhadap Laundry Innovation Day 2025 terlihat dari habisnya seluruh tiket acara dalam waktu satu bulan sebelum penyelenggaraan. Panitia membatasi jumlah tiket hanya 300 lembar karena konsep acara dibuat lebih interaktif. Pembatasan itu justru menunjukkan tingginya minat pelaku usaha terhadap perkembangan industri laundry. Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor ini mendapat perhatian serius dari pasar.

Acara yang digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2025 itu menghadirkan ruang diskusi dan pameran yang lebih dekat dengan pelaku industri. Format interaktif dipilih agar peserta dapat bertukar pengalaman dan memperluas jejaring bisnis. Model acara seperti ini dinilai lebih efektif untuk membangun kolaborasi nyata. Selain itu, peserta juga bisa melihat langsung inovasi yang relevan dengan kebutuhan usaha.

Menurut Apik, respons positif terhadap acara ini mencerminkan kesiapan industri untuk bergerak ke tahap berikutnya. Pelaku usaha kini tidak hanya mencari inspirasi, tetapi juga solusi praktis yang bisa langsung diterapkan. Karena itu, forum seperti Laundry Innovation Day menjadi penting sebagai wadah pembaruan pengetahuan. Dari sana, pelaku bisnis dapat memahami arah pasar dan tantangan yang akan datang.

Ia menutup paparannya dengan menegaskan bahwa industri laundry Indonesia memiliki masa depan yang menjanjikan. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimaksimalkan jika pelaku usaha berani berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Kombinasi antara efisiensi, keberlanjutan, dan digitalisasi menjadi fondasi utama pertumbuhan. Dengan pendekatan itu, bisnis laundry berpotensi menjadi salah satu sektor jasa yang semakin kuat di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!