Bisnis Laundry Diprediksi Tetap Tumbuh hingga 2026

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 08:29 WIB 3
Bisnis Laundry Diprediksi Tetap Tumbuh hingga 2026

Bisnis laundry diperkirakan tetap memiliki ruang tumbuh yang kuat pada 2026, seiring kebutuhan mencuci pakaian yang tidak pernah hilang. CEO Apique Group, Apik Primadya, menilai perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di kota besar, membuat layanan ini semakin relevan. Menurutnya, kepraktisan menjadi alasan utama konsumen memilih jasa laundry dibanding mencuci sendiri. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi dan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pasar.

Apik menyebut, selama manusia masih memakai baju, maka bisnis laundry akan selalu dibutuhkan. Ia menegaskan bahwa peluang itu semakin besar karena masyarakat kini cenderung mencari layanan yang cepat dan efisien. Pernyataan tersebut disampaikan kepada detikcom pada Sabtu, 1 November 2025. Dari sisi industri, laundry tidak lagi hanya soal mencuci pakaian, tetapi juga soal pengalaman layanan yang praktis dan modern.

Tren bisnis laundry digital

Apik menilai tren bisnis laundry pada 2026 akan bergerak ke arah digital dan online. Model ini mencakup layanan penjemputan dan pengantaran cucian langsung ke konsumen. Sistem tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang serba cepat. Dengan dukungan teknologi, pelaku usaha dapat memperluas jangkauan layanan tanpa harus bergantung pada lokasi fisik semata.

Menurut Apik, digitalisasi juga membantu pelaku usaha mengelola pesanan secara lebih rapi dan transparan. Konsumen dapat memantau status cucian, jadwal pengantaran, hingga estimasi waktu selesai melalui kanal daring. Kemudahan seperti ini menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan di tengah persaingan usaha jasa. Karena itu, transformasi digital diperkirakan menjadi standar baru dalam industri laundry.

Selain layanan online, konsep laundromat self-service juga dipandang memiliki prospek besar. Model ini biasanya dikemas dengan fasilitas modern, ruang tunggu nyaman, serta layanan pendukung lain yang beroperasi selama 24 jam. Apik menilai konsep tersebut cocok dikembangkan di area perkotaan yang padat aktivitas. Kehadiran fasilitas tambahan membuat laundromat tidak hanya berfungsi sebagai tempat mencuci, tetapi juga ruang produktif bagi pelanggan.

Pelaku usaha juga dapat mengombinasikan layanan digital dengan fasilitas seperti working space, kafe, wifi, dan vending machine. Menurut Apik, kolaborasi berbagai layanan dalam satu lokasi dapat meningkatkan daya tarik usaha. Konsep ini memberi nilai lebih bagi konsumen yang ingin menunggu cucian sambil tetap bekerja atau beristirahat. Dengan strategi tersebut, laundry berpeluang menjadi bisnis yang lebih fleksibel dan kompetitif.

Segmen premium dan spesialis

Selain layanan massal, Apik melihat segmen niche juga menyimpan peluang yang menjanjikan. Salah satunya adalah jasa laundry premium yang menyasar hotel dan resort. Pasar ini membutuhkan standar layanan tinggi, ketepatan waktu, dan hasil cucian yang konsisten. Dengan fokus pada kualitas, pelaku usaha dapat membangun reputasi yang lebih kuat di kelas layanan tertentu.

Jenis laundry spesialis juga disebut memiliki potensi besar di tengah perubahan perilaku konsumen. Layanan untuk pakaian kerja, busana branded, hingga bahan yang memerlukan penanganan khusus semakin dibutuhkan. Konsumen pada segmen ini biasanya lebih memperhatikan hasil, keamanan bahan, dan perlakuan terhadap pakaian. Oleh karena itu, keahlian teknis menjadi faktor pembeda utama dalam layanan premium.

Apik menilai pasar khusus tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk membangun posisi yang lebih jelas. Dengan segmentasi yang tepat, bisnis dapat menyesuaikan harga, kualitas, dan jenis layanan sesuai karakter pelanggan. Strategi ini dinilai lebih efektif dibanding bersaing di pasar umum yang sangat padat. Dalam jangka panjang, fokus pada spesialisasi dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan margin keuntungan.

Model layanan yang mengedepankan kualitas juga membantu usaha laundry bertahan di tengah persaingan harga. Pelanggan kelas premium umumnya tidak hanya mencari kebersihan, tetapi juga keandalan dan kenyamanan. Karena itu, standar operasional yang ketat menjadi kebutuhan penting. Apik menilai pendekatan tersebut layak dikembangkan agar usaha laundry tidak hanya bertumbuh, tetapi juga memiliki nilai tambah yang berkelanjutan.

Model hybrid dan multi-channel

Tren berikutnya yang dinilai menjanjikan adalah model hybrid dan multi-channel. Konsep ini menggabungkan layanan self-service dengan full service dalam satu lokasi. Dengan begitu, konsumen bisa memilih layanan sesuai kebutuhan dan anggaran masing-masing. Fleksibilitas tersebut menjadi keunggulan yang relevan di tengah pasar yang semakin beragam.

Model gabungan ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas basis pelanggan. Satu lokasi dapat melayani konsumen yang ingin mencuci sendiri maupun pelanggan yang menginginkan layanan lengkap. Pendekatan seperti ini juga memudahkan pemilik usaha memaksimalkan penggunaan ruang dan peralatan. Dalam praktiknya, format tersebut dapat menjadi solusi untuk lokasi usaha dengan permintaan tinggi.

Apik menilai pengembangan layanan multi-channel sejalan dengan perubahan cara konsumen berinteraksi dengan jasa laundry. Sebagian pelanggan lebih nyaman memesan lewat aplikasi, sementara yang lain tetap ingin datang langsung ke gerai. Kombinasi kanal layanan memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk menjangkau lebih banyak segmen. Strategi ini dinilai penting agar bisnis tetap adaptif terhadap perubahan kebiasaan masyarakat.

Di sisi lain, integrasi layanan juga membuat usaha lebih mudah membangun loyalitas pelanggan. Ketika konsumen merasa pilihan layanan tersedia lengkap, mereka cenderung kembali menggunakan jasa yang sama. Karena itu, pengusaha laundry disarankan tidak terpaku pada satu model bisnis saja. Inovasi pada format layanan menjadi salah satu kunci untuk menjaga pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.

Fokus pada sustainability

Aspek keberlanjutan atau sustainability turut masuk dalam tren bisnis laundry yang dipantau Apik. Menurutnya, banyak konsumen kini mulai memperhatikan konsep green economy dalam memilih layanan. Hal ini mendorong pelaku usaha untuk mengurangi dampak lingkungan dari proses operasional. Penggunaan air, energi, dan bahan kimia menjadi perhatian yang semakin besar di industri ini.

Konsep eco-laundry muncul sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Model ini mendorong pemakaian teknologi yang lebih hemat sumber daya dan ramah lingkungan. Selain itu, proses pencucian juga dapat diarahkan agar menghasilkan limbah yang lebih terkendali. Dengan pendekatan seperti ini, bisnis laundry tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membangun citra yang bertanggung jawab.

Apik menyebut sustainability bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dalam pengembangan usaha ke depan. Pelaku bisnis yang mampu menyesuaikan diri dengan tren ini berpeluang lebih mudah diterima pasar. Konsumen modern cenderung memberi perhatian lebih pada layanan yang memiliki kepedulian lingkungan. Karena itu, adaptasi terhadap prinsip keberlanjutan menjadi langkah yang semakin penting.

Ia menegaskan bahwa berbagai model usaha laundry tersebut perlu dicoba dan dikembangkan sesuai kebutuhan pasar. Peluang masih terbuka lebar selama pelaku usaha mampu membaca arah perubahan konsumen. Dengan kombinasi digitalisasi, spesialisasi, hybrid service, dan keberlanjutan, industri laundry dinilai masih sangat prospektif. Pada akhirnya, inovasi menjadi faktor penentu agar bisnis ini tetap laku dan bertahan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!