Remaja Prancis Terbangun dan Mengira Punya Tiga Anak

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 09:33 WIB 2
Remaja Prancis Terbangun dan Mengira Punya Tiga Anak

Seorang remaja perempuan asal Lyon, Prancis, membuat staf medis terkejut setelah terbangun dari koma dan langsung menanyakan keberadaan tiga putrinya. Gadis bernama Clelia Verdier, 19 tahun, meyakini dirinya telah menjalani kehidupan sebagai ibu selama tujuh tahun, padahal semua itu hanya terjadi dalam mimpi.

Pengalaman yang dialami Clelia berlangsung setelah ia koma selama tiga minggu pada 2025 akibat percobaan bunuh diri dengan meminum obat. Saat membuka mata, kata-kata pertamanya bukan tentang rasa sakit atau kecelakaan, melainkan tentang anak-anak yang menurutnya telah ia besarkan dengan penuh kasih sayang.

Mimpi Koma yang Sangat Nyata

Clelia mengaku mimpi tersebut terasa seperti kehidupan nyata yang berlangsung panjang dan utuh. Dalam pengakuannya kepada DailyMail, ia merasa benar-benar menjadi seorang ibu selama tujuh tahun. Ia bahkan bisa mengingat detail keseharian yang menurutnya dijalani bersama tiga anak kembar.

Menurut ceritanya, kehidupan itu dimulai dari proses melahirkan yang penuh stres dan rasa sakit. Ia menyebut bayi-bayinya diberi nama Mila, Miles, dan Mailee. Salah satu bayi yang ia kenang, Mailee, disebut meninggal tak lama setelah lahir.

Clelia mengatakan ia merasakan kesedihan mendalam, rasa bersalah, dan kehilangan yang amat kuat. Ia juga mengingat momen kontak kulit ke kulit dengan bayi-bayinya, yang menurutnya sangat berkesan. Pengalaman itu membuatnya yakin bahwa semua yang diingatnya benar-benar pernah terjadi.

Ia bahkan menyebut adanya rutinitas keluarga setelah kelahiran, seperti berjalan-jalan, makan bersama, dan membaca cerita sebelum tidur. Bagi Clelia, semua itu terasa seperti kehidupan rumah tangga yang lengkap. Namun dokter kemudian memastikan bahwa ia tidak pernah hamil, apalagi melahirkan.

Reaksi Medis dan Keluarga

Staf rumah sakit disebut terkejut ketika Clelia terus bertanya tentang ketiga putrinya setelah sadar. Tim medis menjelaskan bahwa tujuh tahun kehamilan yang ia ingat sepenuhnya tidak nyata. Penjelasan itu sulit diterima Clelia karena ingatannya terasa sangat detail.

Ia dikabarkan sempat tidak percaya saat diberi tahu bahwa dirinya belum pernah menikah dan belum memiliki anak. Kondisi tersebut membuatnya terpukul karena rasa kehilangan yang ia alami berasal dari sesuatu yang tidak pernah ada. Baginya, emosi dalam mimpi itu terasa sama kuatnya dengan pengalaman nyata.

Clelia mengaku masih merasa sangat terputus dari orang lain hingga saat ini. Ia juga mengatakan masih merindukan putri-putri yang hanya hidup dalam alam bawah sadarnya. Pengakuan itu menunjukkan dampak emosional yang masih membekas setelah ia sadar.

Dalam pernyataannya, Clelia menegaskan bahwa dirinya tetap merasa telah menjadi seorang ibu. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai satu-satunya realitas yang sempat ia miliki. Bagi dirinya, cinta dan kehilangan yang dirasakan di dalam mimpi tetap meninggalkan jejak yang nyata.

Penjelasan Ahli Neurologi

Kasus Clelia kemudian dikaitkan publik dengan kisah-kisah dalam film, termasuk karakter fiksi Wanda Maximoff. Meski demikian, para ahli neurologi menilai mimpi saat koma bukanlah hal yang aneh. Fenomena ini terutama bisa muncul pada pasien dengan cedera otak traumatis.

Menurut penjelasan medis, pasien dalam kondisi koma tidak selalu berada dalam keadaan gelap tanpa pengalaman. Sebagian justru melaporkan mimpi yang sangat jelas, rinci, dan terasa nyata. Pengalaman tersebut bisa membentuk ingatan yang kuat ketika pasien kembali sadar.

Di sisi lain, ada pula pasien yang bangun tanpa mengingat apa pun selama koma. Variasi ini menunjukkan bahwa respons otak terhadap koma tidak selalu sama pada setiap orang. Faktor cedera, kondisi tubuh, dan proses pemulihan diduga ikut memengaruhi.

Kisah Clelia menjadi pengingat bahwa pengalaman di alam bawah sadar dapat meninggalkan dampak emosional yang besar. Meski sebagian besar orang menganggapnya seperti mimpi biasa, bagi pasien tertentu hal itu bisa terasa seperti kehidupan yang benar-benar dijalani. Karena itu, kasus seperti ini menarik perhatian tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga psikologi manusia.

Dampak Psikologis Pasca Koma

Setelah sadar, Clelia disebut mengalami kesedihan yang cukup mendalam. Ia harus menerima kenyataan bahwa keluarga yang ia rindukan tidak pernah ada di dunia nyata. Situasi ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional yang dapat terbentuk dalam mimpi.

Para tenaga medis umumnya melihat kondisi seperti ini sebagai bagian dari proses kompleks otak saat pulih dari koma. Pengalaman yang sangat realistis dapat membingungkan pasien ketika kesadaran kembali penuh. Dalam beberapa kasus, bantuan psikologis diperlukan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan kenyataan.

Kisah Clelia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, terutama setelah percobaan bunuh diri dan perawatan intensif. Peristiwa tersebut bukan hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada kondisi emosional dan ingatan seseorang. Pemulihan karena itu tidak cukup hanya secara fisik.

Bagi Clelia, pengalaman sebagai ibu dalam mimpi akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Walaupun tidak terjadi di dunia nyata, emosi yang ia rasakan tetap meninggalkan bekas. Cerita ini memperlihatkan bahwa batas antara mimpi, ingatan, dan realitas kadang bisa sangat tipis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!