Bisnis Laundry Diprediksi Tetap Tumbuh di 2026

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 03:37 WIB 6
Bisnis Laundry Diprediksi Tetap Tumbuh di 2026

Bisnis laundry diprediksi tetap memiliki ruang tumbuh pada 2026, seiring kebutuhan mencuci pakaian yang tidak pernah hilang dari kehidupan masyarakat. CEO Apique Group, Apik Primadya, menilai perubahan gaya hidup dan tuntutan kepraktisan menjadi pendorong utama permintaan layanan ini di kota-kota besar.

Apik menyampaikan pandangan itu kepada detikcom pada Sabtu, 1 November 2025. Ia menjelaskan bahwa peluang usaha laundry akan semakin terbuka jika pelaku bisnis mampu mengikuti tren digital, layanan premium, dan konsep ramah lingkungan.

Pelatukan Bisnis Laundry

Apik menegaskan bahwa bisnis laundry akan terus laku selama manusia masih memakai baju. Menurut dia, kebutuhan mencuci pakaian adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, perubahan gaya hidup masyarakat mendorong pilihan layanan yang lebih praktis. Situasi ini membuat laundry menjadi solusi yang relevan bagi konsumen yang sibuk dan tinggal di wilayah perkotaan.

Dalam pandangannya, peluang tersebut tidak hanya muncul dari kebutuhan rutin, tetapi juga dari pola hidup yang semakin cepat. Konsumen kini cenderung memilih layanan yang menghemat waktu dan tenaga.

Karena itu, pelaku usaha perlu membaca perilaku pasar dengan cermat. Pemahaman terhadap kebutuhan konsumen akan menjadi dasar penting untuk menjaga daya saing bisnis laundry.

Digitalisasi Layanan Laundry

Salah satu tren yang diperkirakan menguat pada 2026 adalah layanan laundry berbasis digital atau daring. Model ini mencakup sistem penjemputan dan pengantaran pakaian langsung ke konsumen.

Apik menyebut digitalisasi akan memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi dan memantau layanan. Kemudahan ini menjadi nilai tambah yang semakin dicari masyarakat modern.

Selain itu, sistem online juga membuka peluang efisiensi operasional bagi pelaku usaha. Proses yang lebih terstruktur dapat membantu pengelolaan pesanan, armada, dan waktu pengerjaan.

Dengan dukungan teknologi, laundry tidak lagi dipandang sebagai usaha konvensional semata. Layanan yang responsif dan mudah diakses dapat meningkatkan loyalitas pelanggan.

Konsep Modern dan Self-Service

Tren berikutnya adalah laundromat self-service dengan konsep modern. Model ini biasanya dipadukan dengan fasilitas penunjang seperti ruang kerja, kafe, dan akses wifi.

Apik menilai konsep tersebut cocok untuk menghadirkan pengalaman yang lebih nyaman bagi pelanggan. Kehadiran fasilitas tambahan dapat membuat waktu menunggu menjadi lebih produktif.

Ia juga melihat peluang dari layanan yang beroperasi selama 24 jam. Jam operasional yang panjang memberi fleksibilitas bagi konsumen dengan jadwal kerja padat.

Kolaborasi dengan berbagai fasilitas pendukung dinilai mampu memperluas pasar. Dengan pendekatan itu, laundry dapat berkembang menjadi ruang layanan yang lebih fungsional dan menarik.

Segmen Premium dan Ramah Lingkungan

Peluang lain datang dari segmen niche atau pasar khusus yang lebih spesifik. Apik mencontohkan layanan laundry premium untuk hotel, resor, pakaian kerja, dan pakaian bermerek.

Menurut dia, layanan spesialis seperti ini memerlukan kualitas tinggi dan standar yang konsisten. Kebutuhan pelanggan di segmen tersebut cenderung menuntut hasil yang lebih presisi dan terpercaya.

Selain itu, model hybrid dan multi-channel juga dinilai punya prospek besar. Konsep ini menggabungkan ruang self-service dengan layanan penuh dalam satu lokasi.

Apik juga menyoroti tren sustainability dan eco-laundry yang semakin mendapat perhatian. Menurut dia, banyak konsumen kini lebih peduli pada ekonomi hijau dan layanan yang lebih ramah lingkungan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!