Bisnis Laundry di Indonesia Masuk Momentum Strategis

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 01:26 WIB 2
Bisnis Laundry di Indonesia Masuk Momentum Strategis

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia dinilai berada pada momentum pertumbuhan yang strategis. Pandangan itu disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam paparannya pada Laundry Innovation Day 2025 di Indonesia. Acara yang digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2025 itu mengusung tema Laundry Business Outlook 2026. Fokus utamanya adalah membaca arah pasar, peluang ekspansi, dan tantangan keberlanjutan dalam industri penatu.

Apik menjelaskan bahwa pasar laundry di Asia Tenggara tumbuh pesat, dengan compound annual growth rate atau CAGR 9,1 persen pada periode 2025-2030. Ia juga menyebut model laundromat atau self-service telah mencapai 18.000 outlet di Asia Pasifik pada 2024. Jumlah itu naik 60 persen dalam empat tahun terakhir, menandakan minat pasar yang semakin kuat. Indonesia pun disebut sebagai salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi di kawasan, bersaing dengan Thailand dan Singapura.

Prospek Bisnis Laundry

Apik menilai industri laundry memiliki ruang tumbuh yang masih luas di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, kebutuhan efisiensi waktu, dan meningkatnya mobilitas menjadi pendorong utama. Dalam kondisi tersebut, layanan penatu dinilai semakin relevan bagi konsumen modern. Peluang ini terbuka tidak hanya di kota besar, tetapi juga di wilayah penyangga yang terus berkembang.

Menurut dia, perkembangan industri ini tidak lagi hanya bertumpu pada layanan cuci kiloan konvensional. Pelaku usaha mulai melihat laundromat sebagai model bisnis yang lebih terukur dan mudah dikembangkan. Sistem self-service memberi pengalaman baru bagi pelanggan yang menginginkan layanan cepat dan fleksibel. Dari sisi pengusaha, model ini juga membuka kesempatan untuk membangun bisnis yang lebih efisien.

Di tingkat kawasan, tren pertumbuhan laundry menunjukkan sinyal positif bagi pelaku usaha di Indonesia. Adopsi yang tinggi di Asia Pasifik memperlihatkan bahwa model bisnis ini sedang memasuki fase ekspansi. Indonesia disebut memiliki karakter pasar yang mendukung, baik dari sisi populasi maupun perilaku konsumsi. Kondisi tersebut membuat sektor laundry berpotensi menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan.

Momentum pertumbuhan itu dinilai penting untuk dibaca secara serius oleh pelaku bisnis. Pasar yang berkembang cepat biasanya diikuti persaingan yang semakin ketat. Karena itu, pengusaha laundry dituntut memahami perubahan kebutuhan konsumen sejak awal. Dengan begitu, strategi usaha dapat disusun lebih tepat dan berkelanjutan.

Inovasi Laundry yang Relevan

Dalam paparannya, Apik menekankan pentingnya inovasi sebagai fondasi utama bisnis laundry modern. Inovasi tersebut tidak hanya berbicara soal mesin dan teknologi, tetapi juga cara membangun pengalaman pelanggan. Pelaku usaha perlu menyesuaikan layanan dengan perilaku konsumen yang serba cepat. Tanpa pembaruan, bisnis berisiko tertinggal di tengah perubahan pasar yang dinamis.

Ia juga menyoroti perlunya digitalisasi dalam operasional laundry. Penggunaan sistem digital dapat membantu pencatatan transaksi, pengelolaan pelanggan, hingga pemantauan layanan secara lebih rapi. Langkah itu dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi potensi kesalahan operasional. Di sisi lain, digitalisasi dapat memperkuat daya saing usaha dalam jangka panjang.

Selain teknologi, efisiensi energi menjadi perhatian penting dalam pengembangan bisnis laundry. Konsumsi listrik dan air yang besar membuat pelaku usaha harus lebih cermat mengelola biaya operasional. Dengan pendekatan yang lebih hemat energi, usaha laundry dapat menjaga margin keuntungan. Pada saat yang sama, strategi tersebut juga membuat bisnis lebih adaptif terhadap isu lingkungan.

Apik menilai kombinasi inovasi, digitalisasi, dan efisiensi akan menjadi pembeda utama di pasar. Pelaku usaha yang mampu menggabungkan ketiganya berpeluang membangun model bisnis yang lebih stabil. Pendekatan ini bukan hanya menjawab kebutuhan pelanggan, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi investor. Karena itu, inovasi dipandang sebagai keharusan, bukan lagi pilihan.

Green Ocean Strategy Laundry

Apique Group kini menjalankan fokus bisnis dengan pendekatan green ocean strategy. Konsep ini memadukan inovasi bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Tujuannya adalah menciptakan usaha yang kompetitif tanpa mengabaikan keberlanjutan. Dengan strategi tersebut, bisnis laundry diarahkan menjadi lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

Apik menjelaskan bahwa strategi itu menekankan kolaborasi antarpelaku usaha dan pemangku kepentingan. Kolaborasi dibutuhkan agar pengembangan bisnis tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan dukungan ekosistem yang kuat, inovasi dapat diadopsi lebih cepat dan lebih luas. Hal ini dinilai penting untuk mempercepat transformasi industri laundry di Indonesia.

Di samping itu, digitalisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi tersebut. Sistem digital memudahkan pengendalian proses, mempercepat layanan, dan meningkatkan akurasi data bisnis. Dalam praktiknya, digitalisasi juga membantu pengusaha memahami perilaku pelanggan secara lebih detail. Data yang baik dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Efisiensi energi melengkapi pendekatan itu sebagai elemen keberlanjutan. Penggunaan sumber daya yang lebih hemat akan membantu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Strategi semacam ini dianggap relevan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap bisnis hijau. Karena itu, model usaha laundry masa depan diprediksi akan semakin menuntut keseimbangan antara profit dan tanggung jawab sosial.

Laundry Innovation Day 2025

Acara Laundry Innovation Day with Expo Laundry 2025 diselenggarakan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Tahun ini, penyelenggaraan dibuat lebih interaktif dibandingkan edisi sebelumnya. Format baru tersebut dirancang untuk mendorong pertukaran gagasan antar pelaku industri. Dengan begitu, peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari diskusi bisnis.

Perubahan konsep itu juga berdampak pada antusiasme peserta. Penyelenggara membatasi jumlah tiket hanya 300 lembar agar interaksi tetap efektif. Seluruh tiket dilaporkan habis terjual satu bulan sebelum acara berlangsung. Fakta itu menunjukkan besarnya minat terhadap isu perkembangan bisnis laundry di Indonesia.

Lewat forum tersebut, pelaku usaha mendapat ruang untuk memahami tren industri secara langsung. Diskusi mengenai prospek pasar, teknologi, dan keberlanjutan menjadi bagian penting dari agenda acara. Informasi semacam ini dinilai berguna bagi pelaku usaha yang ingin memperkuat strategi bisnis. Dalam industri yang bergerak cepat, wawasan pasar dapat menjadi modal penting untuk bertahan dan berkembang.

Apik menutup paparannya dengan menegaskan bahwa masa depan bisnis laundry sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi. Pelaku usaha yang mampu membaca tren dan mengelola operasional secara efisien akan lebih siap menghadapi persaingan. Sementara itu, pendekatan berkelanjutan akan menjadi nilai tambah yang semakin dicari pasar. Dari sana, industri laundry berpeluang tumbuh sebagai sektor usaha yang modern, kompetitif, dan ramah lingkungan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!