Biblical Diet Viral, Pola Makan Alkitab yang Jadi Tren Baru

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 14:00 WIB 3
Biblical Diet Viral, Pola Makan Alkitab yang Jadi Tren Baru

Tren diet kembali bergeser di media sosial, kali ini dengan munculnya biblical diet yang menarik perhatian banyak pengguna internet. Pola makan ini disebut berangkat dari makanan yang tercantum dalam Alkitab, lalu dipopulerkan melalui konten di TikTok, Instagram, hingga Facebook. Selain diklaim lebih alami, biblical diet juga dipandang sebagian orang sebagai bagian dari praktik spiritual.

Minat terhadap pola makan ini meningkat karena dianggap sederhana, minim proses, dan dekat dengan bahan pangan sehari-hari seperti ikan, buah, sayuran, madu, biji-bijian, roti, serta minyak zaitun. Di saat yang sama, makanan ultra-proses dan tinggi bahan tambahan cenderung dihindari. Popularitasnya pun membuat biblical diet tidak lagi sekadar wacana, melainkan tren yang ikut membentuk perilaku konsumsi sebagian warganet.

Biblical Diet di Media Sosial

Biblical diet ramai dibicarakan karena kontennya mudah menyebar di berbagai platform digital. Format video singkat dan narasi religius membuat pesan yang dibawa terasa dekat bagi banyak orang. Tak sedikit pengguna internet yang kemudian penasaran dan mencoba memahami pola makan tersebut lebih jauh.

Konsep ini menekankan konsumsi makanan alami yang disebut dalam Alkitab. Ikan, roti, buah-buahan, sayuran, madu, biji-bijian, dan minyak zaitun menjadi bahan yang paling sering diangkat. Sementara itu, makanan olahan dinilai kurang sejalan dengan prinsip yang diusung.

Popularitas biblical diet juga didorong oleh tren gaya hidup sehat yang terus berubah. Banyak orang mencari pola makan yang dianggap lebih sederhana dibanding program diet modern lain. Dalam konteks itu, biblical diet hadir sebagai pilihan yang memadukan unsur kesehatan dan keyakinan.

Perhatian publik terhadap tren ini memperlihatkan bagaimana media sosial membentuk preferensi masyarakat. Informasi yang dikemas dengan kuat secara visual sering kali lebih cepat diterima. Karena itu, biblical diet berkembang bukan hanya sebagai istilah, tetapi juga sebagai fenomena budaya digital.

Sosok Pendorong Tren

Salah satu figur yang paling sering dikaitkan dengan popularitas biblical diet adalah Kayla Bundy. Perempuan berusia 27 tahun itu dikenal sebagai influencer diet biblical di TikTok dengan lebih dari 500 ribu pengikut. Kehadirannya membuat tren ini mendapat sorotan yang lebih luas dari warganet.

Kayla mengaku telah menjalani pola makan tersebut selama delapan tahun terakhir. Ia mulai tertarik setelah memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi tokoh-tokoh dalam Alkitab. Dari sana, ia melihat adanya keterkaitan antara pola makan, kesehatan, dan nilai spiritual.

Selain Kayla, ada Abbie Stasior, ahli gizi asal Nashville yang kerap mengaitkan makanan sehat dengan ayat-ayat Alkitab. Ia sering menyoroti contoh sarapan roti dan ikan yang disebut sebagai kombinasi karbohidrat dan protein seimbang. Pendekatan ini membuat biblical diet terlihat lebih mudah dipahami oleh pengikutnya.

Nama lain yang ikut menyebarkan tren ini adalah Annalies Xaviera, seorang ibu rumah tangga dengan ratusan ribu pengikut di Facebook. Kontennya banyak membahas makanan lokal, alami, dan tidak diproses, disertai doa serta kutipan ayat Alkitab. Gaya penyampaian seperti ini membuat biblical diet terasa lebih personal dan relevan bagi audiensnya.

Bukan Sekadar Pola Makan

Di balik popularitasnya, biblical diet tidak hanya diposisikan sebagai program penurunan berat badan. Banyak pengikutnya melihat pola makan ini sebagai cara menjaga hubungan dengan spiritualitas. Karena itu, konsumsi makanan dipahami sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih menyeluruh.

Kayla Bundy bahkan menjadikan tren ini sebagai peluang bisnis. Ia menjual panduan digital mengenai superfood ala biblical diet dan membuka sesi konsultasi berbayar. Langkah tersebut menunjukkan bahwa tren kesehatan di media sosial juga dapat berkembang menjadi model usaha.

Pendekatan semacam ini membuat biblical diet memiliki daya tarik berbeda dari diet pada umumnya. Pesan yang dibawa bukan hanya soal kalori atau berat badan, tetapi juga makna dan keyakinan. Bagi sebagian orang, hal itu menjadi alasan kuat untuk mencoba.

Meski demikian, popularitas di dunia maya tidak selalu sejalan dengan bukti ilmiah yang memadai. Setiap klaim tentang manfaat diet tetap perlu dilihat secara hati-hati. Pengguna media sosial tetap perlu memilah informasi sebelum menjadikannya pedoman makan harian.

Catatan Ahli Gizi

Para ahli mengingatkan bahwa pola makan sehat harus tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang. Prinsip dasar gizi tetap berlaku, yakni karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral harus terpenuhi. Karena itu, tidak semua pola diet yang viral otomatis cocok untuk setiap orang.

Pemilihan bahan makanan yang lebih alami memang bisa menjadi langkah baik. Namun, kualitas diet tetap ditentukan oleh kecukupan nutrisi dan kesesuaian dengan kondisi kesehatan masing-masing. Dalam beberapa kasus, pembatasan makanan yang terlalu ketat justru bisa menimbulkan masalah baru.

Bagi masyarakat yang tertarik mencoba biblical diet, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi pilihan yang bijak. Ahli gizi dapat membantu menyesuaikan menu agar tetap aman dan seimbang. Dengan begitu, tren yang diikuti tidak hanya populer, tetapi juga bermanfaat.

Pada akhirnya, tren diet di media sosial perlu disikapi secara kritis dan proporsional. Biblical diet mungkin menarik karena menggabungkan unsur sehat dan spiritual, tetapi kebutuhan tubuh tetap harus menjadi pertimbangan utama. Pola makan terbaik adalah yang seimbang, realistis, dan sesuai kondisi masing-masing individu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!