Biblical Diet Viral di Media Sosial, Ini Isinya

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 06:43 WIB 3
Biblical Diet Viral di Media Sosial, Ini Isinya

Tren pola makan kembali bergeser di media sosial, kali ini ke arah biblical diet yang ramai dibahas di TikTok, Instagram, hingga Facebook. Diet ini mengacu pada makanan yang disebut dalam Alkitab, dan menarik perhatian karena dikaitkan dengan kesehatan, kesederhanaan, serta nilai spiritual.

Popularitasnya dipicu para influencer yang menampilkan menu berbahan alami seperti ikan, roti, buah, sayuran, madu, biji-bijian, dan minyak zaitun. Meski disebut lebih sederhana daripada diet lain, para ahli tetap menekankan pentingnya kecukupan gizi dan keseimbangan nutrisi.

Biblical diet dan konsep dasarnya

Biblical diet adalah pola makan yang berfokus pada bahan pangan alami dan minim proses. Konsep ini merujuk pada makanan yang disebut dalam Alkitab, sehingga banyak pengikutnya menganggapnya selaras dengan gaya hidup sehat dan religius.

Jenis makanan yang sering dikonsumsi dalam pola ini meliputi ikan, roti, buah-buahan, sayuran, madu, biji-bijian, dan minyak zaitun. Di sisi lain, makanan ultra-proses, tinggi gula, dan banyak bahan tambahan biasanya dihindari.

Popularitas pola makan ini meningkat karena dianggap mudah dipahami dan tidak terlalu rumit diterapkan. Banyak pengguna media sosial juga tertarik karena melihatnya sebagai kombinasi antara kesehatan fisik dan ketenangan batin.

Dalam sejumlah konten, biblical diet diposisikan sebagai jawaban atas pola makan modern yang dinilai terlalu bergantung pada produk olahan. Narasi tersebut membuat tren ini cepat menyebar di berbagai platform digital.

Tokoh yang mempopulerkan tren

Salah satu figur yang paling dikenal dalam tren ini adalah Kayla Bundy, influencer berusia 27 tahun asal Amerika Serikat. Ia memiliki lebih dari 500 ribu pengikut di TikTok dan rutin membagikan konten seputar biblical diet.

Kayla mengaku telah menjalani pola makan tersebut selama delapan tahun terakhir. Ketertarikannya muncul setelah ia memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi tokoh-tokoh dalam Alkitab.

Selain membagikan pengalaman pribadi, Kayla juga menjadikan popularitasnya sebagai peluang bisnis. Ia menjual panduan digital tentang superfood ala biblical diet dan membuka sesi konsultasi berbayar.

Di platform lain, Annalies Xaviera juga ikut mendorong tren serupa melalui konten makanan lokal, alami, dan tidak diproses. Ibu rumah tangga dengan ratusan ribu pengikut di Facebook itu menambahkan doa serta kutipan ayat Alkitab dalam setiap unggahannya.

Peran ahli gizi dalam tren

Tren ini tidak hanya digerakkan oleh influencer, tetapi juga oleh kalangan profesional. Salah satunya adalah Abbie Stasior, ahli gizi asal Nashville, yang kerap mengaitkan pola makan sehat dengan ayat-ayat Alkitab.

Ia sering menyinggung kisah sarapan roti dan ikan yang disantap Yesus bersama para muridnya. Dalam penjelasannya, kombinasi tersebut dianggap mencerminkan keseimbangan karbohidrat dan protein.

Pendekatan seperti ini membuat biblical diet terlihat lebih mudah diterima oleh sebagian masyarakat. Konten yang menggabungkan sains sederhana dan nilai religius dinilai lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, para ahli menilai popularitas di media sosial tidak selalu sejalan dengan ketepatan gizi. Karena itu, setiap pola makan tetap perlu ditinjau dari kebutuhan tubuh masing-masing individu.

Catatan untuk penerapan aman

Para ahli mengingatkan bahwa pola makan sehat tidak cukup hanya berfokus pada jenis makanan tertentu. Tubuh tetap membutuhkan asupan energi, protein, vitamin, mineral, dan serat dalam komposisi yang seimbang.

Diet apa pun yang dijalani sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia, dan aktivitas harian. Tanpa penyesuaian, pola makan yang terlihat sehat justru berisiko menimbulkan kekurangan nutrisi.

Biblical diet mungkin menarik karena menawarkan kesederhanaan dan nilai spiritual. Namun, kesan alami tidak otomatis membuatnya cocok bagi semua orang.

Karena itu, masyarakat disarankan lebih bijak sebelum mengikuti tren yang viral di media sosial. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah penting agar pola makan yang dipilih benar-benar aman dan bermanfaat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!