BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat Usai Kenaikan BI Rate

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 17:17 WIB 6
BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat Usai Kenaikan BI Rate

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah BI menaikkan suku bunga acuan. Penguatan rupiah diperkirakan mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring meredanya tekanan global dan membaiknya arus modal asing. BI memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, disertai kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut diumumkan dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut Perry, secara fundamental rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Tekanan itu datang dari kombinasi faktor eksternal, seperti kebijakan tarif global, konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta arah suku bunga Amerika Serikat yang tetap ketat. Di dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kebutuhan valas musiman pada periode April hingga Juni. Kondisi tersebut terkait pembayaran haji dan umrah, pelunasan utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan.

Rupiah dan tekanan global

Perry menjelaskan tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi di banyak negara berkembang. Harga minyak yang tinggi ikut mendorong inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Di saat yang sama, arah kebijakan moneter berbagai negara cenderung ketat, termasuk suku bunga The Fed, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan penguatan dolar. Kombinasi faktor itu membuat mata uang di banyak negara, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan.

Ia menilai kondisi tersebut menyebabkan pelemahan nilai tukar terjadi hampir secara serempak di pasar global. Karena itu, rupiah disebut masih memiliki ruang untuk pulih ketika tekanan eksternal mulai mereda. BI memandang pelemahan yang terjadi saat ini lebih banyak bersifat sementara. Optimisme itu menjadi dasar bank sentral untuk memperkirakan stabilisasi rupiah dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam pandangan BI, tekanan global pada periode ini juga memicu arus keluar modal asing atau capital outflow. Investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman saat ketidakpastian meningkat. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS menguat di banyak pasar negara berkembang. Situasi ini membuat nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dalam jangka pendek.

Perry menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang rupiah. Defisit transaksi berjalan berada pada level rendah, pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, dan inflasi masih terjaga. Menurutnya, indikator tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih solid. Dengan fondasi itu, rupiah diyakini akan lebih mudah kembali menguat ketika tekanan eksternal menurun.

Tekanan valas domestik

Selain faktor global, pasar valas domestik juga memberi tekanan tambahan pada rupiah. Perry menyebut kebutuhan valuta asing biasanya meningkat pada periode April hingga Juni. Permintaan itu datang dari berbagai kebutuhan musiman yang memang berulang setiap tahun. Kondisi tersebut ikut menekan kurs rupiah di tengah sentimen pasar yang belum sepenuhnya stabil.

Salah satu pendorong utama kebutuhan valas adalah aktivitas ibadah haji dan umrah. Selain itu, perusahaan juga banyak melakukan pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen dalam periode yang sama. Permintaan dolar yang meningkat pada saat bersamaan membuat pasar valas domestik lebih ketat. Hal ini kemudian memperbesar tekanan pada nilai tukar rupiah.

Perry mengatakan kondisi itu membuat pelemahan rupiah pada April hingga Juni relatif dapat dipahami. Menurutnya, pola tersebut telah terlihat dalam histori pergerakan rupiah dari tahun ke tahun. Setelah periode tekanan berlalu, rupiah biasanya memiliki ruang untuk bergerak lebih baik. Karena itu, BI menilai arah jangka menengah rupiah tetap positif.

BI juga menilai permintaan valas musiman tidak akan berlangsung selamanya. Setelah kebutuhan haji, umrah, dan pembayaran korporasi mereda, tekanan di pasar valuta asing diperkirakan menurun. Pada saat yang sama, stabilitas ekonomi domestik masih menjadi penyangga utama. Kombinasi tersebut diyakini memberi ruang bagi rupiah untuk pulih secara bertahap.

Langkah BI menahan pelemahan

Untuk meredam tekanan, BI melakukan intervensi di pasar valas secara intensif. Bank sentral juga menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI agar lebih menarik bagi investor. Kebijakan itu dirancang untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah ketidakpastian global. Perry menyebut langkah tersebut berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar cukup besar.

Intervensi yang dilakukan BI tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas kurs, tetapi juga memperkuat kepercayaan pasar. Dengan penyesuaian suku bunga dan pengelolaan likuiditas, bank sentral berupaya menahan volatilitas yang berlebihan. Pasar dinilai merespons kebijakan tersebut secara bertahap. Arus modal asing pun mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat mengalami tekanan.

Perry menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas makroekonomi. Langkah itu diambil ketika tekanan eksternal masih tinggi dan volatilitas pasar global belum mereda. BI ingin memastikan rupiah tetap berada dalam jalur yang terkendali. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga memberi sinyal bahwa bank sentral siap bertindak menjaga kestabilan pasar keuangan.

Menurut Perry, kombinasi intervensi valas dan penguatan instrumen rupiah akan terus digunakan bila diperlukan. BI memantau pergerakan pasar secara ketat untuk memastikan respons kebijakan tetap tepat sasaran. Dengan pendekatan itu, stabilitas rupiah diharapkan terjaga sampai tekanan musiman dan global mereda. Setelah itu, peluang penguatan rupiah dinilai semakin terbuka.

Prospek rupiah ke depan

BI meyakini rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli serta Agustus 2026. Proyeksi itu didasarkan pada pola historis pergerakan rupiah yang biasanya lebih tertekan pada April hingga Juni. Setelah periode tersebut, permintaan valas domestik umumnya menurun dan sentimen pasar membaik. Karena itu, penguatan rupiah dipandang masih realistis.

Perry menilai arah kebijakan moneter global juga menjadi faktor penting dalam prospek rupiah. Jika tekanan dari dolar AS mulai berkurang, mata uang negara berkembang berpeluang pulih lebih cepat. Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang cukup baik karena fundamental ekonominya masih positif. Dalam skenario itu, rupiah dapat bergerak lebih stabil terhadap dolar AS.

Ia menambahkan, stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan bank sentral, tetapi juga pada kondisi ekonomi dunia. Selama harga minyak tinggi dan suku bunga global tetap ketat, tekanan pada mata uang emerging market masih mungkin berlanjut. Namun, BI menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan dapat dikelola. Oleh sebab itu, proyeksi penguatan rupiah tetap dipertahankan.

Dengan berbagai langkah yang ditempuh, BI optimistis rupiah akan bergerak lebih sehat dalam beberapa bulan ke depan. Kebijakan suku bunga, intervensi pasar, dan penguatan instrumen rupiah menjadi penopang utama stabilitas. Perry menegaskan bahwa rupiah akan cenderung menguat setelah fase tekanan musiman berakhir. Optimisme itu menjadi sinyal bahwa bank sentral masih melihat ruang perbaikan yang cukup besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!