Bank Indonesia memperluas pilihan mata uang untuk penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), tidak lagi terbatas pada dolar Amerika Serikat. Kebijakan ini didorong oleh meningkatnya transaksi perdagangan Indonesia dengan China, sehingga yuan China mulai diprioritaskan sebagai salah satu opsi. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan hal itu dalam rapat bersama sejumlah asosiasi pengusaha di Jakarta, Kamis (21/5/2026). Aturan baru penempatan DHE SDA tersebut akan berlaku mulai 1 Juni 2026.
Selain memperluas mata uang, BI juga memperpanjang tenor instrumen DHE SDA hingga 12 bulan agar eksportir memiliki fleksibilitas lebih besar. Kebijakan ini diharapkan membuat devisa hasil ekspor yang ditempatkan di perbankan domestik tetap mendukung kebutuhan dunia usaha dan perekonomian nasional. BI menegaskan, perluasan penggunaan mata uang non-USD menjadi langkah penting seiring pendalaman pasar valuta asing di dalam negeri. Salah satu yang mendapat sorotan adalah meningkatnya pemakaian yuan melalui skema Local Currency Transaction atau LCT.
Perluasan DHE SDA ke yuan
Perry menjelaskan bahwa selama ini penempatan DHE SDA umumnya menggunakan dolar AS sebagai instrumen utama. Namun, BI kini memperluas mata uang yang dapat dipakai eksportir dengan membuka ruang bagi non-USD. Langkah ini sejalan dengan perkembangan pasar valas domestik yang semakin dalam dan likuid. Yuan China menjadi salah satu mata uang yang didorong karena volume transaksi perdagangan Indonesia dengan China terus meningkat.
Menurut Perry, transaksi LCT Indonesia-China menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Pada tahun lalu, nilainya tercatat lebih dari 25 miliar dolar AS per tahun. Sementara itu, transaksi bulanan pada tahun ini telah mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penggunaan yuan di Indonesia semakin relevan bagi pelaku usaha.
BI juga telah bekerja sama dengan sejumlah bank dan bank sentral China untuk mendukung transaksi yuan di dalam negeri. Dengan kerja sama itu, masyarakat dan pelaku usaha kini dapat melakukan transaksi yuan secara langsung di Indonesia. Transaksi tersebut tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari spot, swap, hingga forward. Kehadiran infrastruktur ini memperkuat kesiapan pasar valas domestik dalam mendukung kebijakan DHE SDA.
Tenor lebih panjang untuk eksportir
Selain memperluas mata uang, BI memperpanjang tenor instrumen DHE SDA hingga 12 bulan. Kebijakan ini dirancang untuk memberi ruang lebih luas bagi eksportir dalam mengelola devisa hasil ekspor yang ditempatkan di bank domestik. Dengan tenor yang lebih panjang, eksportir memiliki waktu lebih fleksibel untuk menyesuaikan kebutuhan bisnisnya. BI menilai langkah ini dapat meningkatkan kenyamanan pelaku usaha tanpa mengurangi manfaat ekonomi bagi negara.
Perry menegaskan bahwa kebijakan tersebut tetap mengedepankan kepentingan perekonomian nasional. Devisa hasil ekspor diharapkan tidak hanya parkir di perbankan domestik, tetapi juga dapat mendukung aktivitas ekonomi yang produktif. Di sisi lain, eksportir tetap memperoleh ruang untuk mengatur likuiditasnya secara lebih efisien. BI menyebut keseimbangan antara kebutuhan negara dan dunia usaha menjadi kunci dalam implementasi aturan ini.
Perpanjangan tenor juga dipandang selaras dengan upaya BI memperdalam pasar keuangan domestik. Instrumen yang lebih panjang memberi peluang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan layanan yang sesuai kebutuhan eksportir. Pada saat yang sama, kebijakan ini dapat memperkuat stabilitas aliran devisa di dalam negeri. Dengan demikian, DHE SDA diharapkan tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga instrumen ekonomi yang bermanfaat.
Kriteria bank penempatan DHE SDA
Dalam aturan baru, penempatan DHE SDA dapat dilakukan di bank-bank BUMN maupun bank swasta dalam negeri. Namun, bank swasta yang dapat menjadi tempat penempatan harus memenuhi sejumlah syarat dari BI. Di antaranya adalah memiliki kerja sama internasional dan kapabilitas yang memadai untuk melayani transaksi lintas negara. BI menilai kriteria ini penting agar kebutuhan eksportir dapat terlayani dengan baik.
Selain kerja sama internasional, bank yang dipilih harus berukuran besar dan memiliki keterkaitan transaksi yang kuat. Bank tersebut juga dituntut memiliki kompleksitas operasional yang memadai serta manajemen risiko yang baik. Infrastruktur layanan menjadi syarat lain agar bank mampu mendukung kebutuhan transaksi para eksportir. Dengan kriteria itu, BI ingin memastikan implementasi kebijakan berjalan aman dan efisien.
Perry menyebut bank-bank Himbara maupun non-Himbara yang memiliki kerja sama internasional tetap berpeluang menjadi mitra penempatan DHE SDA. Menurutnya, bank yang berkualitas akan mampu memfasilitasi kebutuhan negara, perekonomian, dan pengusaha sekaligus. BI ingin memastikan pilihan bank tidak hanya terbatas pada satu kelompok, tetapi benar-benar kompetitif. Tujuannya agar kebijakan ini dapat menjangkau lebih banyak pelaku ekspor secara efektif.
Dampak untuk perdagangan nasional
Perluasan penggunaan yuan dinilai mencerminkan perubahan struktur perdagangan Indonesia yang semakin erat dengan China. Dengan semakin besarnya transaksi bilateral, kebutuhan akan mata uang non-USD menjadi semakin nyata. Kebijakan BI pun dipandang lebih adaptif terhadap pola perdagangan terkini. Hal ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi tertentu.
Melalui LCT, pelaku usaha dapat melakukan transaksi dengan biaya yang lebih efisien dan proses yang lebih sederhana. Integrasi sistem pembayaran valas di dalam negeri juga membuat aktivitas bisnis menjadi lebih praktis. Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi memperkuat pendalaman pasar keuangan Indonesia. BI menilai ekosistem yang lebih luas akan membantu ketahanan ekonomi nasional.
Aturan DHE SDA yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 menjadi salah satu instrumen penting dalam pengelolaan devisa ekspor. Eksportir diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan skema baru yang lebih fleksibel dan inklusif. Pemerintah dan BI sama-sama menempatkan kebijakan ini sebagai bagian dari upaya menjaga likuiditas valas nasional. Dengan dukungan perbankan dan pasar yang lebih siap, DHE SDA diharapkan memberi manfaat lebih besar bagi ekonomi Indonesia.
