Bahaya Konsumsi Jeroan Berlebihan Saat Idul Adha

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 04:12 WIB 3
Bahaya Konsumsi Jeroan Berlebihan Saat Idul Adha

Momen Idul Adha kerap dimanfaatkan banyak orang untuk menikmati berbagai olahan daging dan jeroan, mulai dari sate hati, gulai kikil, paru goreng, usus, hingga babat. Di balik cita rasa gurih yang menggoda, konsumsi jeroan berlebihan dapat memberi beban pada tubuh, terutama pada fungsi hati dan ginjal.

Jeroan memang mengandung sejumlah nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, dan protein. Namun, organ dalam hewan juga memiliki kandungan kolesterol, purin, dan lemak yang relatif tinggi, sehingga perlu dibatasi agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Jeroan dan Risiko Asam Urat

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa konsumsi jeroan yang berlebihan dapat memicu peningkatan asam urat. Kondisi tersebut dapat terjadi karena tubuh menerima asupan purin dalam jumlah tinggi dari makanan yang dikonsumsi.

Menurut dr Aru, penumpukan asam urat di dalam darah tidak hanya berdampak pada persendian, tetapi juga pada organ lain seperti ginjal. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih serius.

Asam urat yang tinggi dapat memicu peradangan pada sendi dan menyebabkan rasa nyeri yang mengganggu aktivitas. Pada sebagian orang, keluhan ini muncul setelah konsumsi makanan tinggi purin dalam jumlah besar, terutama saat perayaan hari besar.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk mengatur porsi jeroan agar tidak dikonsumsi secara berlebihan. Langkah sederhana ini dapat membantu menekan risiko gangguan metabolik yang sering muncul setelah pesta makan saat Idul Adha.

Dampak Pada Ginjal

Penumpukan asam urat dalam darah juga dapat memengaruhi fungsi ginjal. Salah satu risikonya adalah terbentuknya kristal yang kemudian berkembang menjadi batu saluran kemih.

Dr Aru menyebut kondisi tersebut dapat memicu batu asam urat yang berpotensi menimbulkan keluhan nyeri hebat. Gejala lain yang bisa muncul antara lain mual, tidak nyaman di perut, dan gangguan buang air kecil.

Batu asam urat terbentuk ketika urine terlalu asam dan mengandung kadar asam urat yang tinggi. Situasi ini membuat kristal mengeras di ginjal dan menghambat aliran urine.

Jika dibiarkan, gangguan tersebut dapat memperburuk fungsi ginjal dan menambah beban kesehatan tubuh. Karena itu, pola makan saat Idul Adha perlu dijaga agar tidak memicu penumpukan zat yang sulit dibuang oleh tubuh.

Nutrisi Jeroan Perlu Dibatasi

Jeroan sebenarnya bukan makanan yang sepenuhnya harus dihindari, karena masih menyimpan manfaat gizi tertentu. Kandungan zat besi dan vitamin B12 di dalamnya dapat mendukung pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

Meski begitu, manfaat tersebut tidak sebanding jika dikonsumsi tanpa kendali. Kandungan kolesterol dan lemak jenuh yang tinggi dapat memperberat metabolisme tubuh, terutama pada orang dengan riwayat penyakit tertentu.

Karena itu, porsi menjadi faktor penting dalam mengonsumsi jeroan. Menggabungkan jeroan dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup dapat membantu tubuh tetap seimbang.

Pilihan memasak juga berpengaruh terhadap beban yang diterima tubuh. Olahan yang terlalu berminyak atau bersantan pekat dapat menambah asupan lemak dan membuat risiko kesehatan semakin besar.

Langkah Aman Saat Idul Adha

Masyarakat disarankan untuk tidak menjadikan jeroan sebagai menu utama dalam setiap hidangan Idul Adha. Membatasi frekuensi konsumsi menjadi cara paling sederhana untuk mengurangi risiko asam urat dan gangguan ginjal.

Orang dengan riwayat asam urat, batu ginjal, atau gangguan metabolik sebaiknya lebih berhati-hati. Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan batas aman konsumsi sesuai kondisi tubuh masing-masing.

Menjaga hidrasi juga penting untuk membantu ginjal membuang sisa metabolisme dengan lebih baik. Air putih yang cukup dapat membantu mengurangi risiko penumpukan kristal di saluran kemih.

Dengan pengaturan pola makan yang tepat, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan Idul Adha tanpa mengorbankan kesehatan. Keseimbangan antara kenikmatan dan kendali porsi menjadi kunci agar perayaan tetap terasa aman dan nyaman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!