ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 26 Mei 2026 11:25 WIB 2
ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit Nasional

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan yang luas dan pasar Asia Pasifik yang terus tumbuh. Namun, peluang itu juga dibayangi kompetisi ketat dari pemain global yang membawa teknologi lebih maju dan model bisnis agresif. Kondisi ini membuat isu kedaulatan langit Nusantara semakin mendapat perhatian.

Kehadiran layanan satelit orbit rendah atau low earth orbit, menawarkan konektivitas cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Model tersebut berpotensi mengubah peta persaingan, sekaligus menggeser posisi pemain domestik yang selama ini bertumpu pada satelit orbit geostasioner. Di tengah perubahan itu, pengaturan data, spektrum, dan infrastruktur menjadi kunci utama.

Industri Satelit dan Kedaulatan

Asosiasi Satelit Indonesia menilai perkembangan teknologi global tidak dapat dihindari, tetapi harus direspons dengan strategi nasional yang tepat. Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar. Menurut dia, kontrol atas data dan infrastruktur harus tetap berada di wilayah nasional.

Rusdianto menyampaikan pandangan itu kepada awak media di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia menilai industri satelit nasional harus dibangun dengan orientasi kedaulatan, bukan hanya pertumbuhan layanan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan kepentingan strategis negara.

ASSI juga mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terhubung dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital dan mengurangi risiko keluarnya data strategis dari yurisdiksi nasional. Tanpa pengaturan yang kuat, kontrol atas arus data akan semakin sulit dilakukan.

Di sisi lain, layanan satelit global yang tidak bergantung pada infrastruktur dalam negeri dinilai memberi tantangan tambahan. Operator asing dapat langsung menjangkau pengguna akhir dengan jaringan yang lebih cepat dan efisien. Situasi ini menuntut pemerintah menyiapkan kerangka regulasi yang lebih adaptif dan tegas.

Industri Satelit dan Spektrum

Salah satu tantangan terbesar dalam industri satelit adalah perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit di tingkat global. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya tersebut memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar. Karena itu, penundaan strategi nasional dapat berdampak panjang bagi daya saing Indonesia.

ASSI menilai perlunya orkestrasi nasional dalam pengembangan konstelasi satelit agar antaroperator tidak saling berbenturan. Tanpa koordinasi yang baik, potensi konflik frekuensi dan orbit dapat merugikan industri domestik. Pengaturan yang terintegrasi juga akan membantu efisiensi pemanfaatan sumber daya yang terbatas.

Dalam konteks ini, pemerintah didorong menyiapkan kebijakan yang adil atau level playing field bagi operator lokal dan global. Kesetaraan itu mencakup biaya spektrum, kewajiban operasional, hingga kepatuhan terhadap aturan nasional. Jika tidak setara, pemain domestik berisiko kalah bersaing di pasar sendiri.

Penguatan regulasi dinilai penting agar ekspansi teknologi tidak mengorbankan kepentingan jangka panjang. Spektrum dan orbit bukan sekadar aset teknis, melainkan sumber daya strategis negara. Karena itu, tata kelola harus disusun dengan perspektif kedaulatan, efisiensi, dan perlindungan industri nasional.

Industri Satelit dan Kapasitas

Indonesia sejatinya telah memiliki fondasi awal melalui riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik. Modal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan nasional di sektor ini sudah terbentuk, meski belum sepenuhnya matang. Tantangannya kini adalah memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir.

ASSI menilai kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Salah satu kebutuhan yang mengemuka adalah rencana pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri. Dengan fasilitas itu, ketergantungan terhadap layanan luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.

Peningkatan kapasitas nasional juga diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut menjadi produsen dan pengelola. Langkah ini akan membuka peluang transfer pengetahuan, penguatan sumber daya manusia, dan efisiensi biaya jangka panjang. Dalam ekosistem yang sehat, inovasi lokal memiliki ruang untuk tumbuh lebih cepat.

Di saat yang sama, pengembangan kapasitas harus disertai konsistensi kebijakan dan investasi yang berkelanjutan. Tanpa dukungan tersebut, industri satelit nasional akan sulit mengejar akselerasi pemain global. Karena itu, sinergi antara pemerintah, operator, dan lembaga riset menjadi kebutuhan mendesak.

Industri Satelit Menuju 6G

Tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN menuju era 6G membuat satelit semakin penting dalam ekosistem telekomunikasi nasional. Peran satelit tidak lagi terbatas pada daerah terpencil, tetapi juga mendukung konektivitas masa depan yang lebih luas. Hal ini menjadikan industri satelit bagian dari infrastruktur strategis Indonesia.

ASSI menilai momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional secara menyeluruh. Jika Indonesia terlambat menata kebijakan dan kapasitas industri, ketergantungan terhadap pemain global akan semakin besar. Pada akhirnya, posisi tawar domestik bisa melemah di tengah perubahan teknologi yang cepat.

Rusdianto menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi titik balik bagi penguatan industri dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh tertinggal di rumah sendiri. Menurut dia, negara perlu memastikan agar perkembangan teknologi tetap memberi manfaat langsung bagi kepentingan nasional.

Dengan pasar yang besar, kebutuhan konektivitas yang tinggi, dan pertumbuhan teknologi yang pesat, industri satelit Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan. Namun, prospek itu hanya bisa diwujudkan jika kedaulatan data, spektrum, dan infrastruktur dijaga secara konsisten. Tanpa itu, peluang besar justru berisiko dinikmati oleh pemain asing lebih dulu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!