BRIN Dorong Operator Telco Maksimalkan Energi Terbarukan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 12:46 WIB 4
BRIN Dorong Operator Telco Maksimalkan Energi Terbarukan

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai industri operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi pendapatan. Kondisi ini membuat ruang pertumbuhan revenue kian sempit, sementara biaya operasional tetap harus ditekan agar kinerja bisnis tetap sehat.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut peluang efisiensi terbesar ada pada penggunaan energi terbarukan. Dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, ia menjelaskan bahwa beban energi masih menyerap porsi besar dari biaya operasional operator, sehingga inovasi pada sisi energi menjadi semakin penting.

Revenue Telco Kian Melambat

Dr Mardi mengutip hasil riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan tren pendapatan industri telekomunikasi sangat terbatas. Berdasarkan analisis historical revenue pada 2021 hingga proyeksi 2032, kenaikan pendapatan hanya sekitar 1,2 persen.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa industri tidak bisa lagi hanya bergantung pada layanan lama. Telepon dan SMS yang dulu menjadi sumber pendapatan utama kini sudah sangat jarang digunakan pelanggan.

Dalam kondisi seperti ini, operator dituntut lebih agresif menggenjot penjualan layanan. Paket yang lebih menarik dan sesuai kebutuhan pelanggan menjadi salah satu cara untuk menjaga pertumbuhan revenue.

Menurut Dr Mardi, tantangan utama bukan hanya soal menambah pelanggan baru. Operator juga harus mempertahankan nilai pendapatan dari basis pelanggan yang ada, sambil menghadapi perubahan perilaku konsumsi layanan digital.

Biaya Energi Tekan Operasional

Selain mengejar pertumbuhan penjualan, operator juga perlu mengoptimalkan biaya energi agar pendapatan tidak tergerus. Dr Mardi menjelaskan bahwa cost of energy mencakup sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi.

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi itu menunjukkan bahwa pengeluaran energi masih menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam industri.

Tekanan biaya ini membuat efisiensi energi tidak lagi bisa dipandang sebagai opsi tambahan. Bagi operator, penghematan pada sisi energi berpotensi langsung meningkatkan margin usaha.

Dr Mardi menegaskan bahwa pengelolaan energi harus menjadi bagian dari strategi bisnis. Tanpa langkah efisiensi yang terukur, operator akan semakin sulit menjaga kinerja keuangan di tengah pertumbuhan revenue yang melambat.

Energi Hijau Jadi Solusi

Menurut analisis McKinsey yang disampaikan Dr Mardi, ada empat pendorong utama efisiensi biaya energi. Empat faktor itu meliputi keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari seluruh faktor tersebut, ia menilai potensi penghematan terbesar berasal dari pembelian atau produksi energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Langkah ini dinilai mampu memberi dampak langsung terhadap struktur biaya operator.

Implementasi energi terbarukan dapat dilakukan melalui solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau sumber lain yang sesuai karakteristik lokasi site. Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan operasional jaringan.

Dengan pendekatan itu, operator tidak hanya menekan biaya, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan energi. Di saat yang sama, mereka dapat memperbaiki citra keberlanjutan di tengah tuntutan industri yang makin ramah lingkungan.

Tantangan Implementasi Di Lapangan

Meski potensi energi terbarukan dinilai besar, Dr Mardi mempertanyakan mengapa penerapannya belum meluas di Indonesia. Ia mengingat bahwa riset terkait sistem ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2010.

Pada saat itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, hingga kini implementasinya belum terlihat diterapkan secara menyeluruh di jaringan operator.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya hambatan yang belum terurai secara tuntas. Hambatan itu bisa berkaitan dengan model bisnis, kesiapan teknologi, maupun skema investasi yang belum sepenuhnya menarik bagi operator.

Dr Mardi menilai pertanyaan paling penting adalah alasan di balik lambatnya adopsi setelah lebih dari satu dekade penelitian. Ia menegaskan, jika hambatan itu dapat diatasi, energi terbarukan berpeluang menjadi solusi strategis bagi industri telekomunikasi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!