Limbah Daun Nanas Diolah Jadi Serat Bernilai Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 13:52 WIB 2
Limbah Daun Nanas Diolah Jadi Serat Bernilai Ekspor

Bagi sebagian besar petani, daun nanas selama ini hanya dianggap limbah panen yang tidak bernilai dan kerap berakhir dibakar. Namun bagi Alan Sahroni, sisa tanaman itu justru menjadi bahan baku bisnis yang mampu mengangkat pendapatan petani sekaligus menciptakan produk bernilai tinggi.

Melalui usahanya di Alfiber, Alan mengolah daun nanas menjadi serat yang digunakan untuk tekstil, fesyen, dan kerajinan. Produk tersebut bahkan telah menembus pasar Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang, setelah perjalanan panjang dimulai dari sebuah lomba business plan pada 2013.

Serat nanas jadi peluang usaha

Alan mulai melihat potensi daun nanas ketika menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung. Ia menyadari bahwa Subang bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil buah nanas, tetapi juga menyimpan potensi serat kuat dari daunnya.

Dari temuan itu, ia memandang daun nanas sebagai bahan baku alternatif yang dapat diolah menjadi kain dan produk fashion. Gagasan tersebut kemudian membawanya mengikuti lomba business plan nasional sebagai syarat mengambil ijazah, sekaligus membuka jalan bagi usaha yang kini berkembang.

Kemenangan dalam lomba itu menjadi titik awal yang penting bagi Alan. Ia kemudian mendapat fasilitas untuk mengembangkan mesin pengolah daun nanas menjadi serat, sehingga ide bisnisnya dapat diwujudkan secara lebih serius.

Mesin pengolah dirancang sendiri

Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, Alan bersama dosen merancang dekortikator untuk mengolah daun nanas. Mesin tersebut berfungsi memisahkan serat dari daun agar bisa diproses menjadi bahan baku yang lebih siap pakai.

Rancang bangun mesin itu menjadi fondasi produksi komersial Alfiber yang dimulai pada 2013. Dari awal, Alan tidak hanya menjual serat, tetapi juga menyiapkan paket produksi lengkap bagi calon mitra.

Paket tersebut terdiri dari mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin yang dapat digunakan untuk skala industri kecil maupun laboratorium. Sejumlah universitas dan pelaku usaha kecil kemudian menjadi pelanggan karena membutuhkan mesin mini untuk riset maupun produksi.

Pemasaran dibangun dari nol

Meski produknya unik, Alan menghadapi tantangan besar karena serat daun nanas belum dikenal luas oleh pasar. Pada tahap awal, ia harus membangun kepercayaan konsumen dari nol melalui langkah pemasaran yang sederhana.

Ia memanfaatkan blog gratis untuk memperkenalkan produknya kepada publik. Cara itu perlahan menarik perhatian akademisi, mahasiswa, dan media nasional yang kemudian membantu memperluas jangkauan informasi.

Alan mengakui bahwa pada tahun pertama produksi, kendala utama bukan pada proses pengolahan, melainkan pemasaran. Pasar masih perlu diyakinkan bahwa serat daun nanas memiliki nilai guna yang nyata dan layak dikembangkan.

Ekspor tembus pasar luar negeri

Perjalanan Alfiber mencapai babak baru ketika berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura pada 2021, meski saat itu pandemi COVID-19 masih berlangsung. Pengiriman dilakukan bertahap sesuai ketersediaan barang dan kondisi karantina di lapangan.

Alan menyebut total ekspor ke Negeri Singa itu mencapai 1,2 ton serat daun nanas. Harga jualnya berada di kisaran Rp187 ribu per kilogram, menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat naik kelas menjadi komoditas bernilai tinggi.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal mampu membuka peluang pasar internasional. Dari tumpukan limbah yang semula dibakar, daun nanas kini berubah menjadi sumber cuan bagi petani dan pelaku usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!