Apakah Sarden Kalengan Termasuk UPF? Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 10:25 WIB 3
Apakah Sarden Kalengan Termasuk UPF? Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial. Banyak orang mulai lebih cermat menilai makanan kemasan dan kalengan yang mereka konsumsi setiap hari. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut disorot setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu tergolong UPF.

Perdebatan ini memicu rasa penasaran karena selama ini makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk industri yang kurang sehat. Padahal, status suatu makanan tidak ditentukan hanya oleh bentuk kemasannya, melainkan juga oleh tingkat pemrosesan dan komposisi bahan di dalamnya. Lalu, apakah sarden kalengan benar-benar termasuk UPF atau tidak?

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan tidak selalu otomatis masuk kategori UPF. Penilaiannya bergantung pada cara produksi, bahan tambahan, serta tingkat pemrosesan yang digunakan. Karena itu, memahami definisi UPF menjadi langkah awal yang penting.

Dalam banyak kasus, ikan kalengan justru lebih dekat ke kelompok makanan olahan biasa, bukan ultra-processed food. Produk ini umumnya hanya melalui proses pengawetan dengan tambahan garam, minyak, atau saus tertentu. Kondisi tersebut berbeda dari makanan formulasi industri yang jauh lebih kompleks.

Di media sosial, penyederhanaan istilah sering membuat masyarakat menyamaratakan semua makanan kemasan sebagai UPF. Padahal, klasifikasi pangan memerlukan pembacaan yang lebih cermat. Sarden kalengan menjadi contoh yang menunjukkan bahwa label kemasan tidak cukup untuk menilai kualitas pangan.

Karena itu, publik perlu membedakan antara makanan yang diproses dan makanan yang sangat diproses. Perbedaan tersebut berpengaruh pada pemahaman gizi, pilihan konsumsi, dan persepsi terhadap makanan sehari-hari. Dengan begitu, penilaian terhadap sarden kalengan menjadi lebih proporsional.

Memahami Klasifikasi NOVA

UPF merupakan istilah yang berasal dari klasifikasi NOVA. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brasil, untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Tujuannya adalah memberi kerangka yang lebih jelas dalam memahami jenis pangan.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan dibagi menjadi empat kelompok utama. Kelompok pertama adalah makanan segar atau minim proses, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua berisi bahan kuliner olahan, seperti garam, gula, mentega, dan minyak.

Kelompok ketiga mencakup makanan olahan yang dibuat dengan penambahan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana. Sementara itu, kelompok keempat adalah UPF yang umumnya berupa formulasi industri dengan banyak bahan tambahan.

Pembedaan ini penting karena tidak semua produk dalam kemasan memiliki tingkat pemrosesan yang sama. Ada makanan yang hanya diawetkan, tetapi ada pula yang dirancang ulang secara industri dari berbagai bahan. Oleh sebab itu, membaca komposisi menjadi kunci dalam mengenali kategori makanan.

Posisi Ikan Kalengan

Secara umum, ikan kalengan seperti sarden lebih sering masuk kategori processed foods. Produk ini dibuat dengan menambahkan garam, minyak, atau saus untuk menjaga mutu dan memperpanjang daya simpan. Proses tersebut berbeda dari makanan ultra-proses yang biasanya memiliki formulasi lebih kompleks.

UPF umumnya mengandung banyak bahan tambahan, seperti perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan aditif lain. Produk seperti minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu lebih sering masuk dalam kelompok ini. Karena itu, sarden kalengan tidak otomatis sejajar dengan jenis makanan tersebut.

Meski demikian, tidak semua sarden kalengan memiliki komposisi yang sama. Ada produk yang hanya berisi ikan, air, minyak, dan garam, tetapi ada juga yang menambahkan saus atau bumbu lebih kompleks. Semakin panjang daftar bahannya, semakin penting bagi konsumen untuk meneliti kategorinya.

Dengan kata lain, status sarden kalengan sangat bergantung pada formulanya. Jika hanya melalui proses pengawetan sederhana, produk tersebut cenderung tetap berada di kelompok makanan olahan. Namun, bila telah melalui formulasi industri yang kompleks, penilaiannya dapat bergeser ke arah UPF.

Mengapa Banyak Orang Bingung

Kerancuan muncul karena masyarakat sering menyamakan makanan kalengan dengan makanan ultra-proses. Padahal, kalengan hanya merujuk pada cara pengemasan dan pengawetan, bukan kategori gizi atau tingkat pemrosesan. Kesalahan persepsi ini membuat banyak orang langsung memberi label tidak sehat tanpa membaca detail produk.

Di ruang digital, informasi yang beredar juga sering disampaikan secara singkat dan menimbulkan kesan mutlak. Klaim dari influencer dapat dengan cepat menyebar, meski tidak selalu disertai penjelasan klasifikasi pangan yang lengkap. Akibatnya, publik menangkap pesan yang terlalu sederhana dari isu yang sebenarnya cukup teknis.

Pemahaman yang lebih tepat akan membantu masyarakat membuat keputusan konsumsi yang lebih bijak. Konsumen dapat menilai komposisi, kadar garam, kandungan minyak, dan bahan tambahan lain sebelum membeli. Langkah ini jauh lebih akurat dibanding hanya menilai dari label kaleng.

Pada akhirnya, sarden kalengan tidak bisa langsung disebut UPF tanpa melihat formulanya. Makanan ini justru sering ditempatkan sebagai makanan olahan biasa dalam klasifikasi NOVA. Karena itu, informasi yang utuh diperlukan agar publik tidak terjebak pada generalisasi yang menyesatkan.

Bijak Memilih Makanan

Isu UPF seharusnya mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap komposisi makanan, bukan sekadar takut pada kemasan. Pemahaman yang benar membantu konsumen memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatannya. Dengan begitu, keputusan makan menjadi lebih rasional dan berbasis informasi.

Sarden kalengan tetap dapat menjadi pilihan praktis selama kandungan garam, minyak, dan bahan tambahannya masih dalam batas yang wajar. Produk ini juga bisa membantu asupan protein, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan makanan siap saji. Karena itu, konteks konsumsi perlu diperhatikan, bukan hanya kategorinya.

Informasi gizi pada label kemasan sebaiknya dibaca dengan teliti sebelum membeli. Konsumen perlu membandingkan beberapa merek agar dapat memilih produk dengan komposisi yang lebih sederhana. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi risiko salah persepsi terhadap makanan olahan.

Perdebatan tentang sarden kalengan menunjukkan pentingnya literasi pangan di tengah derasnya informasi digital. Semakin baik pemahaman masyarakat tentang klasifikasi makanan, semakin kecil pula peluang munculnya kesimpulan yang keliru. Pada akhirnya, pilihan yang cermat akan mendukung pola makan yang lebih sehat dan berimbang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!