5G Dinilai Jadi Fondasi Transformasi Digital Indonesia

Teknologi BRH 24 Mei 2026 02:02 WIB 6
5G Dinilai Jadi Fondasi Transformasi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan 5G. Teknologi ini disebut bukan lagi sekadar peningkatan jaringan seluler, melainkan fondasi bagi kecerdasan buatan, cloud, dan otomatisasi industri. Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menilai posisi 5G sangat strategis dalam mendukung visi ekonomi Indonesia. Namun, adopsi 5G di Tanah Air masih tergolong rendah meski sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu.

Dalam sambutannya di IndoTelko Forum, Jakarta, Rabu (29/4/2026), Nora menyebut 5G harus menjadi prioritas utama jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif. Ia menegaskan bahwa infrastruktur digital merupakan elemen krusial menuju target Visi Indonesia Emas 2045. Menurut dia, 5G berada di pusat transformasi tersebut karena mendukung layanan digital yang lebih cepat dan efisien. Kondisi ini membuka ruang besar bagi percepatan inovasi di berbagai sektor.

5G dan visi ekonomi digital

Nora mengatakan Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045. Untuk mencapai target itu, penguatan infrastruktur digital menjadi syarat yang tidak bisa ditunda. 5G disebut berperan sebagai infrastruktur kritikal yang menopang digitalisasi nasional. Tanpa fondasi konektivitas yang kuat, transformasi digital akan berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan.

Ia menjelaskan bahwa 5G bukan hanya soal kecepatan internet, tetapi juga soal kesiapan industri memasuki era baru. Teknologi ini mendukung ekosistem yang mengandalkan respons cepat, efisiensi tinggi, dan koneksi stabil. Dalam pandangannya, kemampuan tersebut sangat relevan bagi perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas. Karena itu, adopsi 5G dinilai harus dipercepat secara serius.

Ericsson melihat masa depan ekonomi digital Indonesia akan ditentukan oleh kualitas konektivitas yang tersedia. AI, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G disebut sebagai tiga pilar utama yang saling menguatkan. Ketiganya akan menjadi penopang utama layanan digital di masa depan. Dengan kombinasi itu, Indonesia berpeluang membangun fondasi ekonomi yang lebih kompetitif.

Adopsi 5G masih rendah

Secara global, 5G menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Teknologi ini terus berkembang karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, dan latensi yang jauh lebih rendah. Laporan Ericsson Mobility mencatat jumlah pelanggan 5G global mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir tahun lalu. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031.

Di Indonesia, kondisi berbeda karena penetrasi 5G masih berada di bawah 10 persen. Meski demikian, seluruh pelaku industri disebut tengah berupaya mempercepat adopsinya. Nora menilai perkembangan ini masih bisa dikejar jika ekosistem berjalan selaras. Dukungan kebijakan dan kesiapan industri menjadi penentu utama dalam fase ini.

Ia juga menyebut kontribusi 5G di Indonesia diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Proyeksi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas. Transformasi digital tidak bisa hanya bergantung pada jaringan yang ada saat ini. Karena itu, percepatan implementasi menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dampak 5G bagi PDB

Berdasarkan data GSMA, implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut dinilai sangat besar karena menyentuh berbagai sektor strategis. Manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, dan energi termasuk di dalamnya. Potensi itu menunjukkan bahwa 5G memiliki dampak ekonomi yang melampaui sekadar urusan komunikasi.

Nora mengatakan tambahan nilai ekonomi tersebut memperlihatkan bahwa 5G adalah mesin pertumbuhan baru. Menurut dia, manfaatnya tidak hanya terlihat pada konektivitas, tetapi juga pada penciptaan peluang usaha dan efisiensi biaya. Industri yang terhubung dengan baik akan lebih mudah berinovasi. Pada akhirnya, produktivitas nasional dapat terdorong lebih tinggi.

Ia menekankan bahwa peluang terbesar justru berada pada otomatisasi industri berskala besar. Dalam skenario tersebut, jaringan yang stabil, cepat, dan responsif menjadi kebutuhan mutlak. 5G dinilai mampu menjawab kebutuhan itu lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, investasi pada jaringan generasi kelima dianggap sebagai langkah strategis bagi ekonomi Indonesia.

AI mendorong 5G

Ericsson menilai pemanfaatan AI yang semakin masif akan ikut meningkatkan kebutuhan terhadap 5G. Kecerdasan buatan membutuhkan jaringan yang mampu memindahkan data secara cepat dan konsisten. Tanpa dukungan konektivitas yang memadai, kinerja AI berisiko tidak optimal. Kondisi ini membuat 5G dan AI saling menguatkan dalam ekosistem digital.

Di sisi lain, cloud juga memerlukan infrastruktur yang mampu menangani lalu lintas data dalam jumlah besar. 5G memberi ruang bagi layanan berbasis awan untuk berjalan lebih lancar dan efisien. Hal ini penting bagi perusahaan yang mengandalkan sistem digital dalam operasional harian. Dengan koneksi yang lebih baik, proses bisnis dapat berjalan lebih responsif.

Menurut Nora, pemanfaatan AI secara luas akan mempercepat adopsi 5G di Indonesia. Semakin banyak sektor menggunakan teknologi pintar, semakin besar kebutuhan terhadap jaringan yang andal. Hubungan itu membuat 5G bukan hanya relevan untuk saat ini, tetapi juga penting untuk masa depan. Dalam konteks itu, Indonesia dinilai harus bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam persaingan digital global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!