5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Teknologi BRH 28 Mei 2026 23:18 WIB 2
5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital dan memperkuat posisi sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia melalui pemanfaatan teknologi 5G. Namun, adopsi jaringan seluler generasi kelima itu di dalam negeri masih tergolong rendah, meski sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menyebut 5G bukan lagi sekadar peningkatan jaringan seluler, melainkan fondasi utama bagi perkembangan kecerdasan buatan, cloud, dan otomatisasi industri. Pandangan itu ia sampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

5G dan Transformasi Digital

Nora menilai Indonesia memiliki target ambisius dalam Visi Indonesia Emas 2045, yakni menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia. Untuk mencapai tujuan itu, infrastruktur digital menjadi elemen yang sangat krusial.

Dalam pandangannya, 5G berada di pusat transformasi tersebut karena berfungsi sebagai infrastruktur kritikal. Ia menegaskan, jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif, maka 5G harus menjadi prioritas utama.

Secara global, 5G berkembang sangat cepat karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, dan latensi yang jauh lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Teknologi ini disebut menjadi salah satu pendorong utama digitalisasi lintas sektor.

Adopsi 5G di Indonesia

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031.

Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Meski demikian, penetrasinya saat ini masih berada di bawah 10 persen.

Nora menyebut seluruh pelaku industri tengah bekerja untuk mempercepat adopsi teknologi tersebut. Ia menilai percepatan ini penting agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dalam pemanfaatan jaringan generasi baru.

Dampak Ekonomi 5G

Menurut data GSMA, implementasi 5G memiliki potensi menambah sekitar USD 41 miliar ke Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Nilai itu dinilai besar karena 5G membuka peluang inovasi baru di banyak sektor.

Sektor yang berpotensi terdorong antara lain manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, dan energi. Dengan konektivitas yang lebih andal, efisiensi operasional di berbagai industri dapat meningkat.

Nora menegaskan bahwa 5G bukan hanya soal konektivitas, melainkan soal pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai dampaknya akan terasa langsung pada produktivitas dan daya saing Indonesia.

AI dan Masa Depan 5G

Ia menambahkan, peluang terbesar 5G justru berada pada otomatisasi industri berskala besar. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif.

Ericsson melihat masa depan transformasi digital Indonesia akan ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni artificial intelligence, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiga elemen itu saling mendukung dalam membentuk ekosistem digital yang lebih kuat.

Pemanfaatan AI yang semakin masif diprediksi akan ikut meningkatkan adopsi 5G di Indonesia. Dengan kombinasi teknologi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mempercepat lompatan ekonomi digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!