5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Teknologi BRH 28 Mei 2026 08:21 WIB 2
5G Dinilai Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital dan memperkuat perekonomian nasional melalui pemanfaatan teknologi 5G. Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menilai adopsi 5G yang masih rendah perlu segera digenjot agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi digital global.

Menurut Nora, 5G bukan lagi sekadar peningkatan jaringan seluler, melainkan fondasi bagi kecerdasan buatan, cloud, dan otomatisasi industri. Pandangan itu disampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026, ketika Indonesia tengah mengejar target Visi Indonesia Emas 2045.

5G dan ekonomi digital

Nora menegaskan bahwa 5G harus diposisikan sebagai infrastruktur kritikal dalam perjalanan digital Indonesia. Jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif, maka teknologi ini perlu menjadi prioritas utama.

Ia menyebut, arah pembangunan nasional menuju 2045 menuntut dukungan jaringan yang kuat, cepat, dan andal. Tanpa fondasi tersebut, berbagai inovasi digital akan sulit berkembang secara optimal.

5G juga dinilai relevan untuk mempercepat konektivitas di sektor-sektor yang selama ini membutuhkan efisiensi tinggi. Dalam pandangan Ericsson, teknologi ini akan menjadi penghubung penting antara kebutuhan industri dan layanan digital masa depan.

Adopsi 5G masih rendah

Meski telah diperkenalkan sejak lima tahun lalu, penetrasi 5G di Indonesia masih terbilang rendah. Nora menyebut tingkat adopsinya saat ini masih berada di bawah 10 persen.

Secara global, 5G tercatat sebagai teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Perkembangannya didorong oleh efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, serta latensi yang jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu telah mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka itu diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031, sementara di Indonesia kontribusi 5G diperkirakan melampaui 30 persen dari total langganan seluler pada 2030.

Potensi 5G bagi PDB

Nora mengungkapkan bahwa data GSMA menunjukkan implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut dianggap signifikan karena berasal dari peluang inovasi di berbagai sektor.

Sektor manufaktur pintar, smart city, kesehatan digital, pendidikan, logistik, hingga energi disebut akan merasakan dampak langsung dari pemanfaatan jaringan 5G. Teknologi ini dinilai mampu membuka ruang efisiensi dan pertumbuhan yang lebih luas.

Menurut Nora, besarnya potensi ekonomi itu menunjukkan bahwa 5G bukan hanya soal konektivitas. Lebih dari itu, 5G dipandang sebagai instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

AI dan cloud masa depan

Ericsson melihat masa depan transformasi digital Indonesia sangat ditentukan oleh tiga pilar utama, yaitu artificial intelligence, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiganya dianggap saling melengkapi dalam membentuk ekosistem digital yang lebih kuat.

Nora menjelaskan bahwa pemanfaatan AI yang semakin masif akan membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif. Kebutuhan itu hanya dapat didukung secara optimal oleh infrastruktur 5G.

Ia menambahkan, peluang terbesar justru muncul pada otomatisasi industri berskala besar. Dalam konteks tersebut, 5G akan menjadi tulang punggung yang menghubungkan data, mesin, dan layanan digital secara real time.

Langkah percepatan adopsi

Untuk mempercepat adopsi 5G, seluruh pelaku industri perlu bergerak bersama membangun ekosistem yang mendukung. Kolaborasi antara pemerintah, operator, dan pelaku teknologi menjadi kunci agar implementasi tidak berjalan lambat.

Selain dukungan infrastruktur, literasi digital dan kesiapan industri juga perlu diperkuat. Tanpa kesiapan tersebut, manfaat 5G akan sulit dirasakan secara merata oleh masyarakat dan dunia usaha.

Nora menilai, peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi besar dunia tetap terbuka lebar. Namun, percepatan transformasi digital melalui 5G harus dilakukan secara konsisten agar target jangka panjang dapat tercapai.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!