Mishka Project Angkat Kisah Pengungsi Perempuan di Panggung Mode

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 09:41 WIB 2
Mishka Project Angkat Kisah Pengungsi Perempuan di Panggung Mode

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Panggung ini menjadi ruang apresiasi bagi pengungsi perempuan dari berbagai negara untuk tampil sebagai model sekaligus seniman, di Jakarta.

Melalui Mishka Project, para peserta dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, Afghanistan, dan India menunjukkan karya serta kepercayaan diri mereka di hadapan publik. Inisiatif ini menegaskan bahwa mode dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan, pemberdayaan, dan solidaritas lintas negara.

Mishka Project dan Resiliensi

Mishka Project hadir sebagai ruang yang mengubah narasi pengungsi perempuan menjadi kisah tentang daya tahan dan talenta. Dalam ajang ini, para peserta tidak hanya berjalan di atas panggung, tetapi juga memperlihatkan identitas dan pengalaman hidup mereka.

Kolaborasi Makaila Haifa dengan UNHCR menempatkan mode sebagai jembatan antara ekspresi diri dan kepedulian sosial. Pendekatan tersebut memberi panggung yang setara bagi perempuan yang selama ini kerap berada di luar sorotan utama industri kreatif.

Konsep Women's Resilience dirancang untuk menegaskan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan keras. Dalam konteks ini, keberanian tampak melalui karya, penampilan, dan kemampuan bangkit dari situasi sulit.

Makaila Haifa dan UNHCR

Kolaborasi antara Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bahwa dunia mode dapat berkontribusi pada isu kemanusiaan. Acara tersebut juga memperluas pemahaman publik mengenai peran perempuan pengungsi dalam membangun kehidupan baru.

Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, mengusung gagasan bahwa pengungsi tidak identik dengan keterbatasan semata. Ia mendorong narasi yang lebih positif, dengan menonjolkan potensi, keterampilan, dan keberanian para perempuan yang terlibat.

Melalui kerja sama ini, brand lokal tersebut memperlihatkan kepedulian pada isu sosial tanpa meninggalkan karakter modest wear yang menjadi identitasnya. Langkah itu sekaligus memperkuat posisi fesyen lokal dalam percakapan yang lebih luas, termasuk kemanusiaan dan inklusi.

Trunk Show Para Pengungsi

Trunk show Mishka Project menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu model dari India, Revathi Prabaharan. Para pengisi panggung tersebut berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, yang saat ini mencari suaka di Indonesia.

Penampilan mereka menjadi sorotan karena memadukan busana, gestur, dan kepercayaan diri dalam satu rangkaian pertunjukan. Setiap langkah di runway memperlihatkan bahwa pengalaman hidup yang berat tetap bisa diterjemahkan menjadi energi kreatif.

Acara ini juga menjadi simbol penerimaan terhadap keberagaman latar belakang para peserta. Dalam suasana yang hangat, trunk show tersebut menghadirkan pesan bahwa panggung mode dapat menjadi ruang aman bagi ekspresi perempuan.

Mishka Project dan Karya Seni

Selain trunk show, acara ini menampilkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperkaya acara dengan sentuhan seni visual yang memperlihatkan perspektif personal para peserta.

Keberadaan pameran itu menegaskan bahwa kreativitas tidak terbatas pada peragaan busana. Seni lukis mode menjadi medium lain bagi para pengungsi untuk menyuarakan pengalaman, harapan, dan identitas mereka.

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bagaimana mode, seni, dan isu kemanusiaan dapat berjalan berdampingan. Mishka Project pun tampil bukan sekadar sebagai acara fesyen, melainkan sebagai ruang apresiasi bagi ketangguhan perempuan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!