32 UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 29 Mei 2026 01:13 WIB 2
32 UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft 2025

Hari pertama pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, Inacraft Oktober 2025, langsung menjadi momentum bisnis bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam sehari, total transaksi yang dibukukan tembus lebih dari Rp1,2 miliar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1-5 Oktober 2025.

Pencapaian itu memperlihatkan tingginya minat pasar terhadap produk UMKM Indonesia, sekaligus menguatkan peluang tembus ke pasar domestik dan mancanegara. Keberhasilan tersebut juga ditopang oleh persiapan matang para pelaku usaha sebelum tampil di pameran.

UMKM Pertamina di Inacraft

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyampaikan bahwa para UMKM binaan telah melalui proses kurasi dan seleksi sebelum tampil di Inacraft. Mereka juga mendapat coaching clinic terkait branding, packaging, storytelling, hingga penataan display booth.

Menurut Fadjar, hasil transaksi pada hari pertama menggambarkan kegigihan para pelaku usaha dalam mempersiapkan produk mereka. Persiapan yang terukur membuat sebagian UMKM langsung membukukan penjualan signifikan sejak pameran dibuka.

Inacraft Oktober 2025 menjadi ajang strategis bagi pelaku usaha untuk bertemu pembeli ritel dan memperluas jejaring bisnis. Kehadiran UMKM binaan Pertamina di ajang ini sekaligus mempertegas peran pembinaan berkelanjutan dalam mendorong daya saing usaha kecil.

Pertamina menilai, pencapaian tersebut tidak lepas dari sinergi antara pendampingan usaha, kualitas produk, dan kesiapan pemasaran. Kombinasi itu menjadi modal penting bagi UMKM untuk tampil lebih percaya diri di pasar yang semakin kompetitif.

Transaksi Jutaan Rupiah

Salah satu UMKM yang mencatat transaksi jumbo adalah Kainnesia milik Nur Salam dari Umbulharjo, Yogyakarta. Dalam sehari, Kainnesia mengantongi pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta.

Pesanan tersebut datang dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian yang melihat potensi produk Kainnesia. Capaian ini menunjukkan bahwa produk UMKM dapat bersaing di segmen pengadaan skala besar.

Selain Kainnesia, Smart Batik atau CV Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan juga mencatat performa kuat. UMKM asal Yogyakarta itu membawa produk kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit.

Pada hari pertama pameran, Smart Batik membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Produk unggulannya sebelumnya telah dikenal publik luas, termasuk digunakan pada sejumlah agenda nasional.

Branding Batik Sawit

Miftahudin menuturkan bahwa keikutsertaan dalam Inacraft bersama Pertamina memberikan dampak besar bagi Smart Batik. Selain meningkatkan transaksi, pameran ini juga membuka peluang jaringan baru dengan buyer domestik maupun internasional.

Ia menyebut optimisme terhadap Batik Sawit sebagai ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi pembeda sekaligus nilai tambah di tengah pasar fesyen yang terus berkembang.

Promosi produk melalui panggung pameran juga membantu memperluas pengenalan merek di kalangan konsumen. Hal itu penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan memperkuat posisi produk lokal di industri kreatif.

Keberhasilan Smart Batik memperlihatkan bahwa inovasi, narasi produk, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Dalam konteks persaingan pasar, kombinasi tersebut menjadi daya tarik yang semakin relevan.

Booth dan Dukungan Pertamina

Dalam pameran ini, 32 UMKM binaan Pertamina tersebar di beberapa area sesuai jenis produk yang ditampilkan. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori hadir di Lobby Hall A.

Selain itu, terdapat 6 UMKM makanan dan minuman di Talam Hall B. Sementara itu, 7 UMKM co-branding membeli booth mandiri di area pameran untuk memperluas eksposur usaha mereka.

Pertamina juga mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future yang menampilkan display produk, penjualan, hingga business matching dengan buyer. Aktivasi digital seperti lucky dip dan mobcast turut dihadirkan untuk menarik pengunjung.

Fadjar menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara rutin. Langkah tersebut juga sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya pada poin yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas, kewirausahaan, dan pengembangan industri kreatif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!