Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak tajam seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi, yang memicu tekanan pada biaya pinjaman dan sentimen pasar global. Kenaikan tersebut terjadi di tengah persepsi bahwa perang Iran dapat mengganggu harga energi, pangan, dan transportasi dalam waktu lebih lama.
Menurut laporan CNN pada Kamis, 21 Mei 2026, yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik ke 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007. Pada saat yang sama, yield tenor 10 tahun yang memengaruhi suku bunga hipotek turut meningkat ke 4,67 persen dan menandai level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Tekanan Yield Obligasi AS
Kenaikan yield obligasi Treasury AS mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi yang sulit dikendalikan. Pasar menilai tekanan harga dari perang Iran dapat bertahan lebih lama dan memengaruhi banyak sektor ekonomi. Kondisi ini membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menutup risiko penurunan daya beli.
CEO deVere Group, Nigel Green, menilai pasar obligasi sedang memperingatkan bahwa inflasi mungkin jauh lebih sulit dikendalikan daripada perkiraan banyak investor. Ia menyampaikan pandangan tersebut kepada CNN pada Kamis, 21 Mei 2026. Pernyataan itu memperkuat sentimen bahwa pasar keuangan kini berada dalam fase kehati-hatian yang tinggi.
Investor juga mulai mempertimbangkan keberlanjutan keuangan pemerintah AS di tengah naiknya ekspektasi suku bunga The Federal Reserve. Akumulasi kekhawatiran itu mendorong sebagian pelaku pasar keluar dari obligasi Treasury. Tekanan jual yang berlanjut kemudian ikut mengerek imbal hasil ke level yang lebih tinggi.
Dampak Ke Biaya Pinjaman
Peran pasar obligasi pemerintah sangat penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS. Ketika yield naik, suku bunga hipotek, pinjaman mobil, dan kredit usaha berpotensi ikut meningkat. Kenaikan ini dapat menekan konsumsi rumah tangga dan memperlambat ekspansi bisnis.
Obligasi yang sensitif terhadap inflasi membuat investor menuntut kompensasi lebih besar saat harga konsumen berpotensi naik. Dalam kondisi tersebut, pasar meminta return yang sepadan dengan risiko yang dihadapi. Akibatnya, biaya pendanaan untuk pemerintah maupun sektor swasta menjadi lebih mahal.
Lonjakan imbal hasil juga berpotensi menjadi hambatan bagi pasar saham karena valuasi aset ekuitas sangat dipengaruhi tingkat suku bunga. Saat biaya modal naik, prospek laba perusahaan menjadi kurang menarik di mata investor. Situasi ini menambah volatilitas di pasar global yang sedang mengkhawatirkan inflasi.
Guncangan Pasar Global
Perang antara AS dan Iran memicu guncangan energi global yang mulai merembet ke sektor lain. Dampaknya terasa pada harga pangan, tiket pesawat, dan berbagai komponen biaya hidup masyarakat. Tekanan tersebut memperbesar risiko inflasi yang lebih persisten di banyak negara.
Investor di seluruh dunia dilaporkan ikut menjual obligasi karena kekhawatiran inflasi dan defisit anggaran pemerintah yang terus berlanjut. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 1998. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 30 tahun juga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Di pasar saham, kondisi ini sempat mendorong penurunan indeks utama di Amerika Serikat sebelum kembali mendekati rekor tertinggi. Namun, pasar obligasi belum menunjukkan pemulihan yang berarti. Tren tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih lebih memilih mengamankan aset ketimbang menanggung risiko tambahan.
Respons The Fed Dan Saham
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sempat diperdagangkan sedikit di bawah 4 persen sebelum perang dengan Iran dimulai. Kini, yield tersebut bergerak mendekati 4,7 persen akibat aksi jual yang semakin besar dalam sesi perdagangan terakhir. Pergerakan ini menunjukkan perubahan cepat dalam ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun juga melonjak ke level tertinggi, mencerminkan harapan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini atau menaikkannya dalam beberapa bulan ke depan. Kenaikan itu bertentangan dengan preferensi Presiden AS Donald Trump yang menginginkan suku bunga lebih rendah. Situasi tersebut menambah kompleksitas arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar saham AS ikut terpukul, dengan Dow Jones turun 322 poin atau 0,65 persen pada Selasa, 19 Mei. S&P 500 turun 0,67 persen, sementara Nasdaq merosot 0,84 persen, dan keduanya mencatat kerugian tiga hari berturut-turut. Tekanan dari yield obligasi yang lebih tinggi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek aset berisiko.
