Yield Obligasi AS Melonjak, Pasar Global Kian Tertekan

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 25 Mei 2026 11:25 WIB 4
Yield Obligasi AS Melonjak, Pasar Global Kian Tertekan

Imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS) terus tertekan setelah meningkatnya persepsi inflasi di Negeri Paman Sam. Kenaikan ini memicu kekhawatiran atas biaya pinjaman yang lebih mahal di seluruh perekonomian AS dan menekan sentimen pasar global.

Yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik ke 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007. Lonjakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap dampak perang Iran, suku bunga The Fed, dan prospek keuangan pemerintah AS.

Yield Obligasi AS Menguat

Investor menilai risiko inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini mendorong aksi jual di pasar Treasury AS karena pelaku pasar meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

CEO deVere Group, Nigel Green, menilai pasar obligasi sedang memberi peringatan serius. Ia mengatakan inflasi bisa menjadi lebih sulit dikendalikan daripada yang diantisipasi banyak investor.

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang menjadi acuan suku bunga hipotek juga naik ke 4,67 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari setahun.

Dampak Pada Biaya Pinjaman

Kenaikan yield obligasi pemerintah biasanya berdampak langsung pada biaya pinjaman di ekonomi riil. Suku bunga hipotek, pinjaman mobil, dan kredit usaha berpotensi ikut naik.

Obligasi yang sensitif terhadap inflasi membuat investor menuntut kompensasi lebih besar. Mereka khawatir kenaikan harga konsumen akan menggerus nilai pengembalian investasi.

Tekanan pada biaya pendanaan juga dapat menjadi hambatan bagi pasar saham. Saat imbal hasil naik, valuasi saham cenderung terlihat kurang menarik bagi investor.

Pasar Global Tertekan

Gejolak tidak hanya terjadi di pasar obligasi AS, tetapi juga merambat ke berbagai negara. Investor global menjual obligasi karena khawatir inflasi, belanja pemerintah, dan defisit yang terus berlanjut.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun disebut mencapai level tertinggi sejak 1998. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun juga naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Perang antara AS dan Iran turut memicu guncangan energi global. Dampaknya mulai terasa pada sektor lain, termasuk harga pangan dan tiket pesawat.

Saham Dan The Fed

Pasar saham AS sempat melemah seiring tekanan pada obligasi pemerintah. Pada Selasa, Dow Jones turun 322 poin, S&P 500 melemah 0,67 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,84 persen.

S&P 500 dan Nasdaq mencatat kerugian tiga hari berturut-turut karena yield yang lebih tinggi menekan minat beli. Kondisi ini menunjukkan pasar masih sensitif terhadap arah inflasi dan kebijakan moneter.

Imbal hasil obligasi tenor dua tahun juga melonjak ke level tertinggi. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi investor bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, atau bahkan menaikkannya, dalam beberapa bulan ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!