Seorang remaja asal Lyon, Prancis, bernama Clelia Verdier menjadi sorotan setelah terbangun dari koma dan langsung menanyakan keberadaan tiga putrinya. Padahal, ia belum pernah menikah maupun melahirkan, sementara ingatan tentang kehidupan sebagai ibu ternyata hanya terjadi di alam bawah sadarnya.
Pengalaman itu bermula setelah Clelia koma selama tiga minggu pada 2025 usai percobaan bunuh diri dengan meminum obat. Kisahnya menunjukkan betapa nyata dan rinci mimpi yang dialami sebagian pasien koma, hingga mampu membentuk ingatan yang terasa seperti kehidupan sungguhan.
Mimpi koma yang terasa nyata
Clelia menceritakan bahwa dalam mimpinya, ia menjalani kehidupan sebagai ibu selama tujuh tahun. Ia mengaku merawat tiga anak kembar bernama Mila, Miles, dan Mailee. Menurut pengakuannya, pengalaman itu terasa penuh cinta sekaligus melelahkan. Saat bangun, ingatan itulah yang paling kuat muncul di kepalanya.
Ia bahkan mengingat proses melahirkan yang menurutnya penuh stres dan rasa sakit. Dalam kisah yang ia ceritakan, salah satu bayinya, Mailee, meninggal tak lama setelah lahir. Kenangan itu membuatnya merasa sangat sedih dan diliputi rasa bersalah. Ia mengatakan pengalaman itu seperti realitas yang tidak pernah benar-benar hilang.
Clelia juga mengaku mengingat momen kontak kulit ke kulit pertama dengan bayinya. Baginya, pengalaman tersebut terasa luar biasa dan dipenuhi gelombang cinta yang kuat. Ia menyebut masih dapat mengingat jalan-jalan bersama, makan bersama, hingga cerita sebelum tidur. Semua detail itu membuat dirinya sulit menerima kenyataan sesungguhnya.
Reaksi dokter dan keluarga
Ketika Clelia menanyakan ketiga putrinya, staf medis dibuat terkejut. Dokter kemudian memastikan bahwa ia tidak pernah hamil dan tidak pernah memiliki anak. Informasi itu membuat Clelia sempat tidak percaya karena ingatannya terasa sangat jelas. Ia merasa seolah benar-benar menjalani kehidupan lain selama bertahun-tahun.
Ingatan palsu yang dialaminya bukan sekadar potongan mimpi biasa. Clelia menyebut dirinya dapat merasakan emosi, rasa sakit, dan tekanan yang menyertai setiap peristiwa. Ia juga merasa sangat kehilangan setelah mengetahui semua itu tidak nyata. Kondisi tersebut membuatnya terpukul secara emosional.
Dalam pengakuannya, Clelia mengatakan dirinya kini merasa terputus dari orang lain. Ia juga mengaku masih merindukan putri-putri yang hanya ada dalam mimpinya. Meski sadar semuanya tidak nyata, ia tetap merasa telah hidup sebagai seorang ibu. Baginya, pengalaman itu menjadi realitas sementara yang sangat membekas.
Penjelasan ahli neurologi
Kisah Clelia mengingatkan publik pada cerita-cerita fiksi yang sering menggambarkan alam bawah sadar secara dramatis. Namun, ahli neurologi menilai mimpi saat koma bukanlah hal yang langka. Kondisi ini terutama dapat muncul setelah cedera otak traumatis. Pasien pun tidak selalu berada dalam keadaan gelap total tanpa pengalaman apa pun.
Sejumlah pasien koma dilaporkan mengalami mimpi yang sangat jelas dan detail. Mimpi tersebut bisa terasa begitu nyata, lengkap dengan emosi, suara, dan adegan yang konsisten. Dalam banyak kasus, pengalaman itu membentuk ingatan yang sulit dibedakan dari kenyataan. Karena itu, reaksi Clelia dinilai bukan hal yang mustahil secara medis.
Meski demikian, ada pula pasien yang bangun dari koma tanpa mengingat apa pun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa respons otak saat koma sangat beragam. Faktor penyebab, kondisi otak, dan durasi koma dapat memengaruhi pengalaman yang muncul. Para ahli menilai kasus seperti Clelia penting untuk dipahami sebagai fenomena medis yang kompleks.
Dampak emosional setelah sadar
Setelah sadar, Clelia mengaku masih memikirkan kehidupan yang dialaminya dalam mimpi. Ia mengatakan pengalaman itu membuatnya merasa seperti seorang ibu, meski hanya di alam bawah sadar. Ia juga menilai rasa cinta yang muncul dalam mimpi terasa sangat nyata. Karena itu, kehilangan yang dirasakannya pun menjadi sangat berat.
Pengalaman tersebut meninggalkan bekas emosional yang dalam. Ia tidak hanya harus menerima kenyataan bahwa dirinya belum pernah memiliki anak, tetapi juga harus melepaskan ikatan yang terasa nyata baginya. Kondisi itu membuat proses pemulihannya menjadi lebih rumit. Dalam banyak kasus, pengalaman semacam ini dapat memengaruhi kesehatan mental pasien setelah koma.
Kisah Clelia menjadi pengingat bahwa koma tidak selalu berarti ketiadaan pengalaman. Bagi sebagian orang, otak tetap membangun dunia yang hidup, detail, dan emosional. Meski tidak nyata, pengalaman itu dapat terasa seperti bagian dari hidup yang sesungguhnya. Karena itu, pendampingan medis dan psikologis menjadi penting setelah pasien sadar kembali.
