Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Harus Malam Hari

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 04:15 WIB 2
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Harus Malam Hari

Seorang wanita bernama Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Paparan UV dalam waktu sangat singkat dapat memicu rasa sakit hebat, sensasi terbakar, dan reaksi kulit yang parah.

Kondisi tersebut membuat Sonal harus menghindari aktivitas di siang hari dan hanya merasa aman ketika malam tiba. Ia bahkan perlu menggunakan tabir surya, pelindung kulit, dan tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah.

Alergi sinar matahari Sonal

Sonal mengungkapkan bahwa dirinya harus sangat berhati-hati agar tidak terlalu lama terpapar cahaya matahari. Menurut pengalamannya, kulitnya bisa terasa sangat sakit dan seperti terbakar hanya dalam waktu lebih dari satu menit di luar ruangan. Bahkan saat cuaca mendung, reaksinya tetap dapat muncul dengan cepat.

Kondisi ini pertama kali disadarinya saat berusia 18 tahun, ketika ia sedang berlibur ke luar negeri. Setelah kembali ke rumah, reaksi pada kulitnya justru semakin parah dan tidak kunjung membaik. Ia kemudian menyadari bahwa masalah yang dialaminya berkaitan erat dengan paparan sinar matahari.

Sebelum mendapatkan diagnosis, Sonal sempat mengira rasa tidak nyaman itu hanya bagian dari eksim yang sudah dialaminya sejak kecil. Namun, keluhan yang terus berlanjut selama dua tahun membuatnya mencari penjelasan medis lebih lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dirinya mengidap dermatitis aktinik kronis.

Diagnosis dermatitis aktinik kronis

Dermatitis aktinik kronis merupakan kondisi kulit langka yang termasuk dalam kelompok alergi kulit fotosensitif. Pada kasus Sonal, paparan sinar matahari memicu peradangan yang tidak hanya terasa sakit, tetapi juga menimbulkan lesi eksim. Lesi tersebut dapat muncul bahkan pada bagian kulit yang tidak langsung terkena cahaya matahari.

American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa alergi kulit fotosensitif memiliki berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Pada sejumlah kasus, reaksi yang terjadi bisa sangat menyakitkan dan mengganggu aktivitas harian. Sonal menjadi salah satu contoh ekstrem dari kondisi tersebut.

Ia menggambarkan sensasi yang dialaminya sebagai rasa sakit yang sangat buruk dan sulit ditahan. Menurut pengakuannya, kondisi itu membuatnya ingin menggaruk atau mengoyak kulit sendiri agar terasa lebih lega. Pengalaman tersebut menunjukkan betapa berat dampak gangguan kulit ini terhadap kualitas hidupnya.

Dampak pada kehidupan harian

Akibat kondisinya, Sonal harus menyesuaikan hampir seluruh rutinitasnya dengan paparan cahaya. Ia tidak bisa sembarangan keluar rumah pada siang hari karena kulitnya bisa bereaksi sangat cepat. Bahkan, aktivitas sederhana seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu membutuhkan perlindungan ekstra.

Ia mengaku selalu perlu mengoleskan tabir surya sebelum beranjak keluar dari rumah. Dalam beberapa situasi, ia juga harus menutup hampir seluruh tubuh agar risiko reaksi kulit bisa ditekan. Langkah-langkah tersebut menjadi kebiasaan wajib dalam kesehariannya.

Selain paparan langsung, cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga dapat memicu reaksi parah. Karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV di rumahnya untuk mengurangi risiko terkena sinar matahari dari dalam ruangan. Upaya ini membantunya tetap beraktivitas dengan lebih aman.

Tekanan mental yang dialami

Masalah yang dialami Sonal tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kondisi mentalnya. Ia mengaku sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu di dalam rumah. Ketakutan itu muncul karena tubuhnya bisa bereaksi terhadap sumber cahaya yang dianggap biasa oleh banyak orang.

Perubahan gaya hidup yang sangat drastis membuat Sonal harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya tidak sama seperti kebanyakan orang. Meski penampilannya tampak normal, ia menjalani keseharian dengan batasan yang sangat ketat. Situasi ini menuntut disiplin tinggi agar kondisinya tidak memburuk.

Sonal menegaskan bahwa hidupnya tampak normal dari luar, tetapi tidak demikian di baliknya. Ia harus mengatur waktu, ruang, dan aktivitas agar terhindar dari paparan cahaya yang berlebihan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa gangguan kesehatan langka dapat mengubah seluruh pola hidup seseorang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!