Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 05:38 WIB 2
Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan 2025

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat mencuri perhatian setelah dinobatkan sebagai perempuan inspiratif 2025 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mereka adalah Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw, yang dinilai berhasil mengubah peran perempuan pesisir menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.

Keduanya menerima penghargaan dalam ajang bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045, dengan penilaian yang menyoroti kepemimpinan, dampak sosial-ekonomi, serta kontribusi pada pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut capaian mereka sebagai bukti bahwa perempuan pesisir memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

Perempuan nelayan dan perubahan

Sri Fany Mony memulai kiprah dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi yang kemudian memimpin kelompok pengolah dan pemasar di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Melalui Kelompok Dullah Tama, ia menggerakkan produksi olahan ikan dan ecoprint yang memberi nilai tambah bagi warga sekitar.

Transformasi itu terlihat dari kinerja kelompok yang pada 2025 mencatat pendapatan Rp44,1 juta. Angka tersebut naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan usaha berbasis komunitas mulai tumbuh lebih stabil.

Fany juga aktif membagikan praktik baik hingga ke tingkat nasional dan internasional. Peran ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada jejaring ekonomi yang lebih luas.

Inovasi usaha olahan ikan

Di Teluk Arguni, Kaimana, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda melalui Kelompok Seraphim Bofuwer. Sebagai pendeta Protestan sekaligus ketua wilayah, ia mendorong pemanfaatan ikan kakap cina yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan.

Nova mengolah komoditas tersebut menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan bergizi lain. Langkah ini mengurangi pemborosan hasil tangkap sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir.

Produk kelompoknya kini menjangkau pasar regional, mulai dari Fakfak, Sorong, Timika, hingga Jayapura. Seraphim Bofuwer juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 dan mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Ekonomi pesisir yang tumbuh

Kisah Sri Fany dan Nova memperlihatkan bahwa pengolahan hasil perikanan dapat menjadi penggerak ekonomi lokal. Model usaha berbasis komunitas ini membuka ruang kerja, meningkatkan ketahanan pangan keluarga, dan memperkuat daya saing produk pesisir.

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut keduanya sebagai pelopor penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM. Pendekatan tersebut menempatkan keberlanjutan sumber daya laut sebagai dasar dalam membangun usaha perikanan yang sehat.

Selain memperkuat ekonomi keluarga, kegiatan mereka turut mendorong pengelolaan perikanan yang lebih bertanggung jawab. Dampaknya, masyarakat tidak hanya memanfaatkan hasil laut, tetapi juga menjaga keberlanjutannya untuk jangka panjang.

Program dan dampak berkelanjutan

Kedua perempuan itu merupakan bagian dari Champion CFI Indonesia, program dalam Project GEF-6 CFI Indonesia yang dijalankan bersama KKP dan WWF-US sebagai lembaga GEF Agency. Proyek ini berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur.

Sejak dimulai pada Desember 2019, program tersebut telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan dan sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan. Pemberdayaan yang dilakukan mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern.

Produk kelompok binaan kini telah masuk ke lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menegaskan bahwa penghargaan ini menandai pentingnya kontribusi perempuan dalam ekonomi biru yang berkelanjutan.

Peran perempuan nelayan

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menyebut para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang mampu melanjutkan dampak program. Mereka dibekali keterampilan teknis, pengolahan bernilai tambah, teknologi ramah lingkungan, dan praktik perikanan berkelanjutan.

Penguatan kapasitas itu dirancang agar manfaat program tetap berjalan setelah proyek berakhir. Dengan demikian, komunitas memiliki peluang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi dan tetap menjaga sumber daya laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menekankan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan berkontribusi pada ekonomi keluarga, pengurangan limbah sumber daya perikanan, dan ketahanan sosial-ekologis pesisir. Dari Maluku hingga Papua Barat, peran perempuan nelayan kini semakin nyata dalam mendorong visi Indonesia Emas 2045.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!