Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Harus Berubah

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 05:34 WIB 2
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Harus Berubah

Sonal Keay, seorang pebisnis asal Inggris, hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Paparan UV selama lebih dari satu menit dapat memicu rasa sakit hebat, bahkan membuat kulitnya terasa seperti terbakar.

Kondisi tersebut membuatnya harus menghindari aktivitas di siang hari dan lebih aman beraktivitas setelah matahari terbenam. Pengalaman ini juga berdampak pada kesehatan mentalnya, karena ia harus waspada terhadap cahaya, termasuk cahaya yang masuk dari jendela rumah.

Alergi Sinar Matahari yang Langka

Sonal mulai menyadari ada sesuatu yang tidak normal saat berusia 18 tahun. Saat itu, ia tengah berlibur ke luar negeri dan reaksinya justru semakin memburuk setelah pulang ke rumah.

Ia mengatakan rasa sakit yang dialami sangat parah dan tidak kunjung membaik. Kondisi itu membuatnya bingung karena ia belum memahami bahwa sumber masalahnya adalah sinar matahari.

Sebelumnya, Sonal juga sudah lama menderita eksim sejak kecil. Namun, gejala yang dirasakannya kali ini jauh lebih berat dan berbeda dari keluhan kulit yang pernah ia alami.

Setelah menjalani pemeriksaan, Sonal didiagnosis menderita dermatitis aktinik kronis. Kondisi ini termasuk alergi kulit fotosensitif yang dapat memicu lesi eksim, bahkan pada bagian tubuh yang tidak terkena matahari.

Dampak Saat Beraktivitas

Menurut penjelasan American Academy of Dermatology, alergi kulit fotosensitif dapat menimbulkan berbagai reaksi. Pada kasus Sonal, dampaknya bukan hanya gatal atau iritasi, melainkan rasa nyeri yang luar biasa.

Sonal menggambarkan kondisinya sebagai rasa sakit yang sangat berat dan menyiksa. Ia mengaku kadang ingin menggaruk kulitnya karena tidak tahan dengan sensasi yang muncul.

Bahkan cuaca mendung tidak membuatnya aman sepenuhnya. Kulitnya tetap bisa bereaksi parah meski ia berada di luar ruangan dalam waktu singkat.

Ia menyebut, reaksi alergi berat bisa muncul jika berada di luar sekitar satu menit. Setelah matahari benar-benar terbenam, barulah ia merasa lebih aman untuk beraktivitas.

Perubahan Besar di Rumah

Kondisi itu juga memengaruhi kehidupan sosial dan psikologisnya. Sonal mengaku sempat takut terhadap cahaya, termasuk lampu, karena khawatir memicu reaksi pada kulitnya.

Untuk beraktivitas, ia harus disiplin memakai tabir surya meski hanya untuk mengambil kunci mobil atau memakai sepatu sebelum keluar rumah. Kebiasaan sederhana yang bagi kebanyakan orang terasa sepele, baginya menjadi bagian penting dari perlindungan diri.

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga bisa memicu reaksi berbahaya. Karena itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas lebih normal di dalam rumah.

Meski terlihat baik-baik saja dari luar, Sonal menegaskan hidupnya jauh dari kata normal. Ia harus menjalani keseharian dengan kewaspadaan tinggi terhadap sumber cahaya yang bagi banyak orang justru dianggap biasa.

Waspada Gejala Kulit Aneh

Kasus Sonal menunjukkan bahwa alergi terhadap sinar matahari bukan sekadar iritasi ringan. Dalam kondisi tertentu, paparan cahaya bisa memicu nyeri, lesi kulit, dan gangguan psikologis yang serius.

Masyarakat perlu lebih peka terhadap gejala kulit yang muncul berulang setelah terpapar matahari. Jika keluhan tidak membaik, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Perlindungan kulit, seperti penggunaan tabir surya, pakaian tertutup, dan penghindaran paparan UV, menjadi bagian penting dalam pencegahan. Namun pada kasus langka seperti Sonal, perlindungan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi medis yang dialami.

Pengalaman Sonal menjadi pengingat bahwa kesehatan kulit perlu mendapat perhatian serius. Gejala yang tampak sederhana bisa saja menandakan masalah langka yang membutuhkan penanganan jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!