Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Berubah Total

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 07:55 WIB 4
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Berubah Total

Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Paparan cahaya UV dalam waktu singkat saja dapat memicu rasa sakit hebat, sehingga ia harus menghindari aktivitas di luar rumah pada siang hari.

Wanita asal Inggris itu baru menyadari gangguan tersebut saat berusia 18 tahun, ketika reaksinya memburuk usai liburan ke luar negeri. Setelah didiagnosis menderita dermatitis aktinik kronis, Sonal kini hanya merasa aman ketika malam tiba.

Alergi Matahari Langka

Sonal mengaku kulitnya dapat terasa seperti terbakar jika terkena matahari lebih dari satu menit. Kondisi ini bukan sekadar membuatnya tidak nyaman, tetapi juga menimbulkan rasa sakit yang sangat berat.

Gangguan yang dialaminya tergolong dermatitis aktinik kronis, yakni penyakit kulit langka yang memicu reaksi fotosensitif. Menurut American Academy of Dermatology, jenis alergi seperti ini dapat menyebabkan lesi eksim, bahkan pada area yang tidak terkena sinar langsung.

Ia mengungkap bahwa paparan matahari, termasuk saat cuaca mendung, tetap bisa memicu reaksi parah pada kulitnya. Sonal menyebut dirinya harus sangat berhati-hati agar tidak terpapar sinar ultraviolet terlalu lama.

Gejala Bermula Saat Remaja

Keluhan itu mulai disadari Sonal saat berusia 18 tahun. Saat itu, ia tengah berlibur di luar negeri dan kondisi kulitnya justru memburuk setelah kembali ke rumah.

Awalnya, ia mengira rasa sakit itu hanya reaksi biasa dari eksim yang sudah dialaminya sejak kecil. Namun, ketidaknyamanan yang terus berlanjut selama dua tahun membuatnya mencari penjelasan yang lebih serius.

Setelah menjalani pemeriksaan, barulah Sonal memahami bahwa sumber masalahnya adalah sinar matahari. Ia mengaku tidak pernah membayangkan ada kemungkinan alergi terhadap sumber utama kehidupan itu.

Dampak Pada Aktivitas Harian

Kondisi tersebut memaksa Sonal mengubah hampir seluruh rutinitasnya. Ia harus mengoleskan tabir surya bahkan untuk aktivitas singkat, seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu sebelum keluar rumah.

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga dapat memicu reaksi pada kulitnya. Karena itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Selain fisik, kondisi ini juga berdampak pada mental Sonal. Ia mengaku sempat takut terhadap cahaya, termasuk lampu, karena khawatir tubuhnya kembali bereaksi.

Menjaga Diri Setiap Waktu

Sonal menegaskan bahwa kehidupannya terlihat normal dari luar, tetapi kenyataannya sangat berbeda. Ia harus merencanakan banyak hal hanya untuk memastikan dirinya tidak terpapar sinar berbahaya.

Ia juga harus menghindari keluar rumah pada siang hari dan baru merasa aman saat matahari benar-benar terbenam. Kebiasaan sederhana yang bagi orang lain biasa saja, baginya bisa menjadi sumber risiko yang serius.

Meski penuh keterbatasan, Sonal terus beradaptasi dengan kondisinya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa gangguan kulit langka dapat berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!