Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hanya Aman Saat Malam

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 14:19 WIB 6
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hanya Aman Saat Malam

Sonal Keay mengalami kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari, sehingga paparan UV dalam waktu singkat dapat memicu nyeri hebat. Perempuan ini bahkan hanya merasa aman ketika malam tiba, karena cahaya siang hari bisa membuat kulitnya seperti terbakar.

Keluhan itu mulai disadarinya sejak usia 18 tahun saat berlibur ke luar negeri, lalu berlanjut menjadi reaksi parah ketika kembali ke rumah. Setelah pemeriksaan medis, Sonal didiagnosis menderita dermatitis aktinik kronis, yaitu gangguan kulit langka yang membuat tubuh bereaksi terhadap cahaya matahari, bahkan saat cuaca mendung.

Alergi Sinar Matahari Langka

Sonal Keay menjelaskan bahwa dirinya harus sangat berhati-hati agar tidak terlalu lama terpapar sinar UV. Menurut pengalamannya, kulit bisa langsung terasa sakit dan seperti terbakar jika berada di bawah matahari lebih dari satu menit. Kondisi tersebut membuat aktivitas harian menjadi sangat terbatas, termasuk saat ia hanya hendak keluar sebentar dari rumah.

Perempuan yang sudah memiliki riwayat eksim sejak kecil itu awalnya tidak menyadari bahwa sumber masalahnya adalah matahari. Ia mengira rasa tidak nyaman yang dialaminya hanya berkaitan dengan kondisi kulit biasa. Namun, keluhan yang terus memburuk selama dua tahun membuatnya mencari penjelasan medis lebih lanjut.

American Academy of Dermatology menyebut ada berbagai jenis alergi kulit fotosensitif yang dapat memicu reaksi berbeda pada setiap pasien. Dalam kasus Sonal, respons tubuhnya tergolong ekstrem karena menimbulkan rasa nyeri yang sangat kuat. Bahkan, lesi eksim dapat muncul pada area kulit yang tidak langsung terkena sinar matahari.

Dampak Pada Aktivitas Harian

Kondisi tersebut memaksa Sonal mengubah hampir seluruh rutinitas hariannya agar terhindar dari paparan cahaya. Ia harus mengenakan tabir surya bahkan untuk melakukan hal sederhana, seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu sebelum keluar rumah. Perlindungan ekstra menjadi keharusan karena kulitnya dapat bereaksi sangat cepat.

Ia juga mengaku cahaya matahari yang masuk melalui jendela tetap bisa memicu masalah pada kulitnya. Karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV di rumah agar tetap bisa beraktivitas dengan lebih aman. Langkah ini menjadi salah satu cara agar ia dapat menjalani hidup sehari-hari tanpa terus-menerus merasakan sakit.

Dalam pengakuannya, matahari yang terbenam sepenuhnya menjadi penanda bahwa dirinya berada dalam kondisi aman. Selama siang hari, ia harus selalu waspada terhadap paparan cahaya, termasuk saat langit terlihat mendung. Pola hidup tersebut membuatnya tidak bisa menjalani aktivitas seperti kebanyakan orang.

Tekanan Fisik Dan Mental

Bukan hanya fisik, kondisi Sonal juga berdampak pada kesehatan mentalnya. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu, karena khawatir tubuhnya akan bereaksi. Ketakutan itu membuatnya harus terus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Rasa nyeri yang dialaminya tidak hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga sangat mengganggu secara emosional. Sonal menggambarkan sensasi tersebut begitu berat hingga sulit ditahan. Ia bahkan menyebut rasa sakitnya sangat ekstrem dan menekan kehidupan pribadinya.

Meski terlihat normal dari luar, Sonal menegaskan bahwa kehidupannya jauh dari normal. Ia harus terus menghitung risiko sebelum keluar rumah atau berinteraksi dengan cahaya. Situasi ini menunjukkan bahwa alergi sinar matahari dapat memberi dampak serius terhadap kualitas hidup seseorang.

Upaya Beradaptasi

Untuk bertahan, Sonal membangun kebiasaan baru yang lebih disiplin dalam melindungi kulit. Ia harus memastikan semua perlindungan dipakai sebelum beraktivitas, termasuk tabir surya dan pengaturan cahaya di rumah. Setiap langkah kecil menjadi penting untuk mencegah reaksi yang menyakitkan.

Kondisi ini juga membuatnya lebih bergantung pada penyesuaian lingkungan tempat tinggal. Tirai anti-UV menjadi salah satu perangkat utama agar sinar matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dengan cara itu, ia dapat menjalani sebagian aktivitas tanpa rasa takut berlebihan.

Kisah Sonal menjadi pengingat bahwa gangguan kulit langka dapat membawa dampak luas, bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada rutinitas dan kesehatan mental. Penanganan yang tepat dan perlindungan maksimal menjadi kunci bagi penderita kondisi serupa. Bagi Sonal, bertahan hidup berarti terus waspada terhadap hal yang bagi kebanyakan orang justru dibutuhkan setiap hari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!