Wanita Ini Alami Alergi Sinar Matahari yang Langka

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 09:22 WIB 2
Wanita Ini Alami Alergi Sinar Matahari yang Langka

Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Paparan UV dalam waktu sangat singkat dapat memicu rasa sakit hebat, bahkan saat cuaca mendung.

Wanita ini harus menghindari aktivitas di siang hari dan baru merasa aman setelah matahari terbenam. Pengalaman tersebut berawal saat usianya 18 tahun, ketika reaksinya memburuk usai liburan ke luar negeri.

Alergi Sinar Matahari Langka

Sonal mengaku baru menyadari ada yang tidak beres ketika rasa sakit di kulitnya tidak kunjung membaik. Ia sebelumnya mengira masalah itu berkaitan dengan eksim yang sudah dideritanya sejak kecil.

Selama sekitar dua tahun, ia terus merasakan ketidaknyamanan setiap kali berada di luar rumah. Menurut pengakuannya, kondisi itu membuat tubuhnya terasa sangat sakit dan tidak nyaman.

Setelah menjalani pemeriksaan, Sonal didiagnosis mengalami dermatitis aktinik kronis. Kondisi ini termasuk gangguan kulit langka yang membuat tubuh bereaksi keras terhadap paparan sinar matahari.

Menurut American Academy of Dermatology, alergi kulit fotosensitif dapat memunculkan berbagai gejala, termasuk lesi eksim di bagian tubuh tertentu. Pada kasus Sonal, reaksinya tidak hanya menyakitkan, tetapi juga sangat mengganggu aktivitas harian.

Gejala Yang Sangat Menyiksa

Sonal menyebut kulitnya bisa terasa seperti terbakar hanya dalam waktu kurang dari satu menit di bawah sinar matahari. Reaksi itu dapat muncul bahkan ketika ia berada di luar rumah pada hari berawan.

Ia menggambarkan rasa sakitnya sebagai sesuatu yang sangat berat dan sulit ditahan. Dalam pengakuannya, dorongan untuk menggaruk atau mengoyak kulit muncul karena rasa perih yang begitu intens.

Kondisi itu membuatnya harus sangat berhati-hati sebelum keluar rumah, meski hanya untuk mengambil kunci mobil atau memakai sepatu. Tabir surya menjadi perlindungan wajib yang tidak boleh dilupakan.

Ia juga tidak bisa meremehkan cahaya yang masuk melalui jendela. Karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV agar tetap dapat beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Dampak Pada Keseharian

Gangguan ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental Sonal. Ia mengaku sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu di sekitarnya.

Ketakutan tersebut membuat kehidupannya jauh lebih terbatas dibandingkan orang pada umumnya. Ia harus menyesuaikan jadwal, pakaian, dan kebiasaan keluar rumah agar tidak memicu reaksi kulit.

Setiap aktivitas luar ruang menjadi hal yang perlu diperhitungkan secara matang. Bahkan keputusan sederhana seperti kapan harus berjalan keluar rumah dapat menentukan kondisi kulitnya sepanjang hari.

Meski terlihat normal dari luar, Sonal menegaskan bahwa kehidupannya sangat tidak normal. Ia menilai tantangan terbesar justru terletak pada upaya mempertahankan rutinitas tanpa memicu rasa sakit.

Waspada Sensitivitas Kulit

Kisah Sonal menjadi pengingat bahwa paparan matahari tidak selalu aman bagi semua orang. Sebagian orang dapat mengalami gangguan kulit serius yang membutuhkan penanganan medis dan perubahan gaya hidup.

Jika kulit sering terasa perih, memerah, atau bereaksi berlebihan setelah terkena cahaya, pemeriksaan dokter perlu segera dilakukan. Diagnosis dini dapat membantu penderita memahami pemicu dan langkah perlindungan yang tepat.

Perlindungan dasar seperti tabir surya, pakaian tertutup, dan pengaturan aktivitas di luar ruangan dapat membantu mengurangi risiko. Pada kasus tertentu, pengamanan tambahan di dalam rumah juga diperlukan untuk mencegah reaksi lanjutan.

Pengalaman Sonal menunjukkan bahwa kondisi langka dapat mengubah kehidupan sehari-hari secara drastis. Di balik penampilan yang tampak biasa, ia harus berjuang keras menjaga tubuh tetap aman dari cahaya matahari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!