Viral, Pelaku Usaha Hijab Dyalodya Keluhkan Retur COD

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 19:57 WIB 13
Viral, Pelaku Usaha Hijab Dyalodya Keluhkan Retur COD

Sebuah video curahan hati pelaku usaha hijab lokal Dyalodya viral di media sosial setelah memperlihatkan tumpukan paket retur dalam sepekan. Pemilik brand mengaku merugi akibat paket berlabel COD yang gagal terkirim, ditolak pelanggan, atau diduga disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Unggahan di akun Instagram @dyalodya itu memantik perhatian warganet karena menyoroti masalah yang kerap dialami pelaku UMKM, yakni penyalahgunaan sistem Cash on Delivery. Dalam video tersebut, pemilik usaha juga mengingatkan konsumen agar lebih berhati-hati saat menerima paket yang tidak pernah dipesan.

Curhat Dyalodya Soal COD

Video yang diunggah memperlihatkan sejumlah paket retur menumpuk dengan label COD, menandakan barang telah dikirim tetapi gagal diterima pembeli. Dalam narasi videonya, pemilik usaha menyebut kondisi itu sebagai kerugian yang terus berulang selama satu minggu.

Ia mengeluhkan banyak paket yang dikirim dengan kemasan resmi Dyalodya justru kembali dalam kondisi tidak semestinya. Sebagian paket disebut masih bisa diterima, tetapi sebagian lain diduga menjadi sasaran penipuan.

Menurut pemilik usaha, kerugian bukan hanya muncul dari ongkos kirim yang hilang, tetapi juga dari waktu, tenaga, dan stok barang yang ikut tersendat. Situasi ini membuat operasional toko kecil semakin terbebani.

Unggahan tersebut disertai pesan emosional yang menggambarkan rasa kecewa terhadap pihak-pihak yang dinilai tidak amanah. Reaksi itu memperkuat pesan bahwa masalah COD bukan sekadar pembatalan pesanan, melainkan juga ancaman bagi pelaku usaha kecil.

Modus Paket Dan Data

Zahra, pemilik brand Dyalodya, menjelaskan bahwa video itu dibuat untuk merespons banyaknya keluhan dari orang yang mengaku tidak pernah memesan produk tetapi menerima paket. Ia menilai ada pola yang mengarah pada penyalahgunaan data dan alamat pengiriman.

Dalam keterangannya, Zahra menyebut ada kemungkinan keterlibatan pihak ketiga yang memanfaatkan data pelanggan. Ia bahkan menduga ada permainan dari oknum tertentu di sekitar proses pengiriman.

Ia juga menyebut alamat Dyalodya dipakai sebagai identitas pengirim, sementara pihak pengirim aslinya tidak jelas. Kondisi itu membuat konsumen bisa tertipu karena merasa menerima paket dari brand yang dikenalnya.

Zahra mengingatkan masyarakat agar tidak menerima paket jika memang tidak pernah memesan atau tidak melakukan transaksi COD dari Dyalodya. Peringatan itu disampaikan untuk mencegah korban baru sekaligus menjaga nama baik merek yang ia bangun sejak 2017.

Barang Retur Diduga Ditukar

Selain menumpuknya paket retur, Zahra juga membongkar isi paket yang dicurigai telah ditukar. Ia menunjukkan barang yang semula berupa pakaian, namun kembali dalam kondisi rusak atau diganti dengan benda yang tidak bernilai.

Dalam video itu, ia memperlihatkan contoh barang yang diduga menjadi hasil penukaran, termasuk celana bekas. Temuan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa kasus yang ia hadapi bukan sekadar pembatalan pesanan biasa.

Menurutnya, modus seperti itu sangat merugikan karena produk yang sudah dikemas dan dikirim harus kehilangan nilai jual. Jika terjadi berulang, maka UMKM bisa menanggung kerugian lebih besar dari perkiraan awal.

Zahra menilai penipuan semacam ini merusak kepercayaan antara penjual dan pembeli. Ia berharap pelaku usaha lebih waspada saat menghadapi transaksi yang berisiko tinggi, terutama pada sistem COD.

Respons Warganet Menguat

Video curhat Dyalodya telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan mendapat banyak komentar dari warganet. Sebagian besar pengguna media sosial menyampaikan simpati atas kerugian yang dialami pemilik usaha.

Sejumlah komentar menyoroti kemungkinan kebocoran data pelanggan, baik dari kurir maupun dari lingkungan internal. Ada pula yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa, ketika alamat pribadi dipakai untuk pengiriman barang yang tidak pernah dipesan.

Warganet lain menilai praktik semacam itu sangat merugikan dan membuat transaksi COD terasa menakutkan. Karena itu, sebagian pengguna menyarankan agar penjual mempertimbangkan pembatasan metode pembayaran tersebut.

Kisah Dyalodya menjadi pengingat bahwa pertumbuhan perdagangan daring perlu dibarengi perlindungan data dan pengawasan distribusi paket. Bagi pelaku UMKM, satu kesalahan dalam alur pengiriman dapat berubah menjadi kerugian yang panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!