Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 02 Juni 2026 20:47 WIB 5
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat dalam pekan depan. Sejumlah analis menilai tekanan yang terjadi bukan hanya bersifat teknikal, tetapi juga dipicu oleh persoalan struktural dalam perekonomian nasional. Jika tekanan berlanjut, rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan peluang pelemahan itu kian terbuka karena pasar masih dibayangi defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, dan meningkatnya permintaan dolar di dalam negeri. Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah ikut menekan rupiah lebih dalam.

Rupiah dan Tekanan Eksternal

Ibrahim menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah sebagai salah satu sumber tekanan utama. Dalam kondisi harga minyak dunia bertahan tinggi, kebutuhan dolar untuk pembayaran impor ikut membesar dan membebani neraca eksternal.

Ia menjelaskan, harga minyak dalam asumsi APBN berada di kisaran US$70 per barel, sementara rupiah saat ini telah melemah jauh dari asumsi awal. Ketika harga minyak bergerak di atas US$90 per barel, pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk menutup kebutuhan energi nasional.

Menurut Ibrahim, beban itu semakin berat karena sebagian besar impor minyak terkait dengan subsidi energi. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar berjalan beriringan, sehingga pelemahan rupiah sulit dihindari dalam waktu dekat.

Rupiah dan Dividen Asing

Selain faktor energi, pasar modal juga dinilai menambah permintaan dolar di dalam negeri. Banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia perlu membagikan dividen kepada pemegang saham, terutama investor dari luar negeri.

Proses pembagian keuntungan itu membuat kebutuhan valas meningkat pada periode tertentu. Ketika pasokan dolar terbatas, permintaan yang naik akan mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

Ibrahim menyebut kondisi tersebut menimbulkan kegaduhan tersendiri di pasar. Di tengah kekurangan dolar, setiap kewajiban pembayaran kepada investor asing menjadi faktor tambahan yang menekan mata uang Garuda.

Rupiah di Tengah Kebijakan

Bhima Yudhistira menilai sentimen negatif investor asing juga dipicu oleh kebijakan pemerintah terbaru mengenai ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Menurut dia, kebijakan itu sebenarnya memiliki tujuan baik untuk menekan transfer pricing dan under invoicing.

Namun, peluncurannya yang cepat tanpa sosialisasi memadai membuat pasar memandang adanya ketidakpastian aturan. Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan minat investasi karena investor cenderung menghindari perubahan kebijakan yang terlalu drastis.

Bhima juga menilai pelaku usaha membutuhkan kepastian agar kontrak jangka pendek maupun jangka panjang tidak terganggu. Jika ketidakpastian berlanjut, rupiah bisa semakin rentan terhadap tekanan dari arus keluar modal asing.

Rupiah dan Risiko Lanjutan

Bhima memperkirakan pelemahan rupiah dapat berlanjut hingga menembus Rp19.000 per dolar AS jika level Rp18.000 sudah terlewati. Menurut dia, angka psikologis tersebut dapat mempercepat tekanan karena pasar akan membaca sinyal pelemahan yang lebih dalam.

Ia menambahkan, investor saat ini juga mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas program pemerintah. Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN, beban subsidi energi, serta sejumlah program populis ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik itu, rupiah diperkirakan masih menghadapi ruang pelemahan dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu respons kebijakan yang mampu meredam tekanan dolar sekaligus menjaga kepercayaan investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!