Viral Curhatan Pelaku Usaha Hijab Soal Retur COD

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 19:31 WIB 2
Viral Curhatan Pelaku Usaha Hijab Soal Retur COD

Curhatan pemilik usaha hijab lokal Dyalodya menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan tumpukan paket retur COD viral di media sosial. Dalam unggahan itu, pemilik usaha mengaku mengalami kerugian besar akibat paket yang dikembalikan dalam jumlah banyak selama sepekan.

Video tersebut menampilkan deretan paket berlabel cash on delivery yang gagal diterima pelanggan dan kembali melalui kurir. Pemilik brand menilai persoalan itu bukan sekadar retur biasa, melainkan dugaan penyalahgunaan sistem COD yang merugikan pelaku UMKM dan penerima paket yang tidak pernah memesan barang.

COD jadi sumber masalah

Pemilik Dyalodya, Siti Zahra atau Zahra, mengungkapkan bahwa usahanya berdiri sejak 2017 dan selama ini mengandalkan penjualan daring. Menurut dia, sistem COD yang semula memudahkan pelanggan justru menjadi titik rawan ketika disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Kondisi itu membuat operasional toko ikut terganggu karena banyak paket harus diproses ulang. Dalam sepekan, jumlah paket retur yang menumpuk disebut sangat memberatkan usaha.

Zahra menjelaskan bahwa unggahan videonya dibuat sebagai bentuk edukasi kepada pelanggan dan masyarakat luas. Ia menerima banyak keluhan dari orang-orang yang mengaku tiba-tiba mendapat paket Dyalodya, padahal tidak pernah melakukan pemesanan. Situasi tersebut memunculkan dugaan bahwa ada pihak yang memakai identitas toko tanpa izin. Ia menilai pola ini berpotensi merusak reputasi brand yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

Di dalam video, Zahra juga menunjukkan paket yang kembali dalam kondisi tidak wajar. Sebagian paket terlihat terbuka, sementara isi barang diduga sudah diganti dengan benda yang tidak sesuai. Ia menyebut temuan seperti celana bekas sebagai bukti bahwa masalah ini bukan retur biasa. Menurut dia, kejadian tersebut menimbulkan kerugian materi sekaligus tekanan emosional bagi pelaku usaha.

Retur yang merugikan usaha

Zahra menuturkan bahwa paket yang dikirim memang berisi pakaian, namun saat kembali, barang di dalamnya sudah berubah. Kondisi itu membuat produk tidak lagi layak dijual kembali dan langsung menambah beban kerugian. Ia mengaku pedih melihat paket hasil kerja timnya diperlakukan seperti itu. Bagi pelaku UMKM, kehilangan satu paket saja bisa berdampak pada arus kas harian.

Ia juga menyoroti adanya paket yang dikembalikan setelah ditolak pelanggan tanpa penjelasan yang jelas. Dalam praktiknya, penolakan tersebut menambah biaya pengiriman dan biaya penanganan retur. Jika kejadian serupa berulang, kerugian bisa semakin besar dalam waktu singkat. Zahra menilai sistem COD perlu pengawasan lebih ketat agar tidak dimanfaatkan untuk tindakan curang.

Menurut dia, kasus ini tidak hanya merugikan penjual, tetapi juga konsumen yang tidak pernah memesan barang. Paket dengan identitas toko yang dipalsukan bisa membuat penerima bingung dan khawatir. Di sisi lain, nama brand ikut tercemar meski tidak terlibat dalam pengiriman tersebut. Karena itu, ia meminta masyarakat lebih berhati-hati saat menerima paket COD yang tidak pernah dipesan.

Modus baru patut diwaspadai

Zahra mengungkap adanya dugaan modus baru yang lebih berbahaya, yakni penggunaan alamat dan identitas Dyalodya secara palsu. Dalam skema itu, paket dikirim ke alamat acak dengan sistem COD, sementara pengirim aslinya tidak jelas. Ia menilai pola ini berpotensi menjebak konsumen yang tidak mengetahui apa pun tentang pesanan tersebut. Modus semacam ini, kata dia, dapat merugikan banyak pihak sekaligus.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya mencurigai ada keterlibatan oknum tertentu dalam proses pengiriman. Dugaan itu muncul karena beberapa paket yang sampai ke pelanggan tidak sesuai dengan data pesanan. Zahra menyebut kemungkinan permainan terjadi di jalur pengantaran perlu diselidiki lebih lanjut. Namun, ia menegaskan bahwa semua pihak tetap harus mengedepankan kehati-hatian sebelum menerima paket COD.

Melalui videonya, Zahra meminta masyarakat tidak menerima paket jika memang tidak pernah memesan di Dyalodya. Ia juga mengimbau agar penerima mengecek ulang data, alamat, dan nama pengirim sebelum menyelesaikan transaksi. Menurut dia, langkah sederhana tersebut bisa membantu mencegah kerugian dan penyalahgunaan identitas toko. Edukasi ini diharapkan menjadi peringatan bagi konsumen agar lebih waspada terhadap penipuan berkedok COD.

Respons warganet mengalir deras

Video curhatan Zahra telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan menuai banyak komentar dari warganet. Sebagian besar pengguna media sosial menyampaikan simpati atas kerugian yang dialami pelaku usaha hijab tersebut. Ada pula yang mengaku pernah mengalami kasus serupa ketika data pribadi atau alamatnya dipakai tanpa izin. Respons itu menunjukkan bahwa masalah COD bukan persoalan tunggal, melainkan sudah dirasakan oleh banyak orang.

Sejumlah warganet menilai pengetatan sistem COD perlu segera dilakukan oleh penjual maupun jasa kurir. Mereka meminta toko untuk memverifikasi pesanan dengan lebih detail sebelum pengiriman dilakukan. Ada juga yang menyarankan agar layanan COD dinonaktifkan sementara jika risiko penipuan terlalu tinggi. Pendapat tersebut mencerminkan kekhawatiran publik terhadap keamanan transaksi belanja daring.

Kasus yang dialami Dyalodya kembali mengingatkan bahwa pertumbuhan perdagangan digital harus diiringi pengawasan yang memadai. Tanpa pengendalian yang baik, pelaku UMKM bisa menjadi korban penyalahgunaan sistem pembayaran dan identitas toko. Sementara itu, konsumen juga berisiko menerima paket yang tidak pernah mereka pesan. Karena itu, kewaspadaan dari semua pihak menjadi kunci agar praktik curang semacam ini tidak terus berulang.

Tag Terkait
#hijab#COD#UMKM

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!