Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Memberatkan UMKM

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 17:18 WIB 2
Vanilla Hijab Soroti Beban Marketplace yang Kian Memberatkan UMKM

Vanilla Hijab menyoroti beban biaya marketplace yang dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal di tengah kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional. Keluhan itu disampaikan Atina Maulina, Founder Vanilla Hijab, yang menilai kebijakan sepihak platform digital telah mempersempit ruang gerak seller UMKM.

Atina mengatakan, situasi tersebut bukan hanya mengganggu arus kas bisnis, tetapi juga memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan harga secara bertahap agar tidak kehilangan pelanggan. Di sisi lain, ia menilai promosi otomatis dan potongan layanan yang terus naik membuat keberlanjutan usaha semakin rentan.

Marketplace Bebani Seller Lokal

Atina menjelaskan bahwa biaya layanan di marketplace terus meningkat, sementara seller tetap menanggung beban promosi yang sulit dihindari. Kondisi itu membuat margin keuntungan menyempit dan ruang untuk berkembang menjadi terbatas. Menurut dia, penjual lokal justru harus bekerja lebih keras untuk menjaga harga tetap kompetitif.

Ia mencontohkan, kenaikan biaya marketplace terjadi bersamaan dengan naiknya harga bahan baku. Dalam situasi seperti itu, pelaku usaha tidak mudah menaikkan harga karena pasar cenderung sensitif terhadap perubahan. Akibatnya, banyak seller memilih menahan ekspansi agar tidak memperbesar risiko.

Vanilla Hijab pun terpaksa menaikkan harga produk secara bertahap, misalnya dari Rp80.000 menjadi Rp95.000. Langkah itu diambil agar konsumen tidak terkejut dan tetap merasa nyaman membeli produk. Perusahaan juga mengerem produksi massal sambil memantau respons pasar.

Strategi Bertahan Vanilla Hijab

Untuk menjaga daya saing, Vanilla Hijab memilih memperkuat inovasi ketimbang terus menekan harga. Atina menilai strategi diskon berlebihan justru berisiko merusak kesehatan bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan fokus menambah nilai pada produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah hijab instan dengan magnet agar lebih praktis digunakan. Selain itu, perusahaan juga mulai beralih dari kemasan plastik ke kemasan yang dapat digunakan kembali. Perubahan itu dilakukan agar konsumen merasakan manfaat tambahan meski harga produk sedikit naik.

Atina menegaskan bahwa nilai tambah menjadi pembeda utama di tengah banjir produk impor white label yang lebih murah. Menurut dia, konsumen masih mau membayar lebih jika produk memberi kualitas, fungsi, dan pengalaman yang lebih baik. Karena itu, inovasi dinilai lebih sehat daripada perang harga tanpa batas.

Keluhan atas Sistem Otomatis

Atina juga mengkritik fitur marketplace yang kerap aktif sendiri tanpa pemberitahuan kepada seller. Ia menyebut kejadian itu pernah terjadi pada program gratis ongkir dan sejumlah kampanye promosi lain. Biaya dari fitur tersebut, kata dia, tetap dibebankan kepada penjual.

Ia mengaku kerap mendapati fitur seperti Live Extra menyala otomatis meski toko tidak mengaktifkannya. Setelah dikonfirmasi, fitur itu baru dimatikan oleh pihak platform. Menurut Atina, pola seperti ini merugikan seller karena biaya tambahan muncul tanpa persetujuan yang jelas.

Selain itu, ia menyoroti beban tambahan saat pembeli menggunakan paylater. Biaya tertentu justru dialihkan kepada seller, padahal transaksi tersebut tidak diputuskan oleh penjual. Atina meminta pelaku usaha lebih rutin memeriksa laporan biaya agar tidak dirugikan secara diam-diam.

Perlindungan UMKM Mendesak

Di luar persoalan biaya, Atina menilai sistem perlindungan seller terhadap fraud dan retur barang masih lemah. Ia mengaku beruntung belum mengalami kerugian besar, tetapi banyak pelaku UMKM lain disebut menjadi korban. Kondisi itu dinilai menciptakan ketidakadilan dalam ekosistem perdagangan digital.

Atina berharap pemerintah hadir lebih konkret dalam melindungi pelaku usaha kecil di ruang digital. Menurut dia, UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap perekonomian nasional, sementara sekitar 90 persen pasarnya kini bergantung pada marketplace. Karena itu, regulasi mikro yang adil dinilai sama pentingnya dengan kebijakan ekonomi makro.

Ia juga menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, seller sering bergerak sendiri tanpa posisi tawar yang seimbang terhadap platform besar. Atina berharap ada penertiban kebijakan internal marketplace agar industri kreatif nasional tetap tumbuh secara sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!