Vanilla Hijab Soroti Beban Biaya Marketplace bagi UMKM

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 09:24 WIB 3
Vanilla Hijab Soroti Beban Biaya Marketplace bagi UMKM

Vanilla Hijab menyoroti semakin beratnya beban biaya di marketplace yang dinilai menekan margin keuntungan penjual lokal, terutama pelaku UMKM fashion. Kondisi itu disebut makin sulit karena potongan layanan, promo otomatis, dan kenaikan biaya operasional terjadi di tengah harga bahan baku yang ikut naik.

Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyampaikan keluhan tersebut saat ditemui di Jakarta Selatan baru-baru ini. Ia menegaskan, platform digital memang membantu memperluas pasar, tetapi kebijakan yang dianggap sepihak membuat banyak seller harus ekstra hati-hati menjaga keberlangsungan usaha.

Tekanan biaya marketplace

Atina menjelaskan, kenaikan biaya layanan di marketplace tidak hanya menggerus margin, tetapi juga menyulitkan penjual saat ingin menyesuaikan harga jual. Menurut dia, pasar sulit menerima kenaikan harga, padahal beban dari sisi platform dan bahan baku terus meningkat.

Situasi itu membuat Vanilla Hijab memilih menaikkan harga produk secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Perusahaan juga menahan volume produksi massal sambil memantau respons pasar.

Langkah tersebut diambil sebagai cara bertahan di tengah tekanan biaya yang terus bertambah. Bagi pelaku usaha lokal, penyesuaian kecil dinilai lebih aman dibandingkan perubahan harga yang terlalu tajam.

Strategi bertahan brand lokal

Agar tetap kompetitif, Vanilla Hijab tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga menambah nilai pada produk. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah menghadirkan hijab instan dengan magnet agar lebih praktis digunakan.

Perusahaan juga memperbarui kemasan dari plastik biasa menjadi kemasan yang dapat dipakai ulang. Menurut Atina, tambahan nilai ini penting agar konsumen tetap merasa mendapatkan manfaat meski harga jual naik.

Di sisi bahan baku, Vanilla Hijab bekerja sama dengan produsen tekstil lokal seperti Gistex di Bandung. Namun, Atina mengakui sekitar 50 persen pasokan bahan lainnya masih tidak terlepas dari rantai impor.

Keluhan seller di platform digital

Selain biaya, Atina mengeluhkan fitur promosi yang kerap aktif sendiri tanpa pemberitahuan kepada penjual. Ia menyebut kondisi itu terjadi pada program gratis ongkir hingga fitur lain seperti Live Extra.

Menurut dia, biaya dari fitur yang menyala otomatis itu dibebankan kepada seller tanpa persetujuan yang jelas. Saat penjual meminta penjelasan, jawaban yang diterima kerap hanya bahwa fitur tersebut aktif secara otomatis.

Atina menilai pengalaman serupa kemungkinan dialami banyak penjual lain di Indonesia. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha untuk rutin memeriksa laporan biaya agar tidak dirugikan oleh sistem platform.

Harapan perlindungan pemerintah

Atina juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap penjual saat terjadi kasus penipuan bermodus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, ia menilai aturan pengembalian barang masih sering merugikan seller.

Ia menyebut ekosistem marketplace membutuhkan pengawasan yang lebih adil agar pelaku usaha tidak terus berada pada posisi lemah. Menurut dia, kebijakan yang tidak transparan berpotensi mengganggu keberlangsungan UMKM di sektor fashion.

Atina berharap pemerintah hadir lebih konkret dalam melindungi ekosistem digital, bukan hanya fokus pada kebijakan makro ekonomi. Dengan kontribusi UMKM yang besar terhadap ekonomi nasional, regulasi mikro dinilai perlu segera diperkuat demi menjaga industri kreatif tetap tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!