Vanilla Hijab Keluhkan Beban Marketplace Kian Memberatkan

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 05:22 WIB 7
Vanilla Hijab Keluhkan Beban Marketplace Kian Memberatkan

Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Pendiri Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kenaikan potongan layanan, promo yang dibebankan ke seller, dan biaya operasional lain telah menggerus margin keuntungan. Kondisi itu membuat penjual harus mencari cara bertahan tanpa sepenuhnya mengandalkan penjualan daring. Di tengah tekanan harga bahan baku dan pasar yang sensitif, strategi bisnis pun ikut berubah.

Atina menilai kebijakan platform digital yang berubah sepihak telah mempersempit ruang gerak UMKM. Ia juga mengungkapkan adanya fitur promosi yang aktif otomatis tanpa pemberitahuan, sehingga biaya tambahan kembali ditanggung penjual. Keluhan tersebut disampaikan saat ditemui di Tuscan Dream, Cipete, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Menurutnya, perlindungan bagi penjual perlu diperkuat agar ekosistem e-commerce tidak timpang.

Tekanan biaya marketplace

Atina menjelaskan bahwa biaya layanan marketplace yang terus meningkat menjadi beban utama bagi penjual lokal. Ia menyebut biaya gratis ongkir yang semula dipahami sebagai insentif, justru ikut menekan sisi keuangan seller. Dalam kondisi yang sama, harga bahan baku juga bergerak naik sehingga ruang untuk menjaga harga jual semakin sempit. Situasi ini membuat pelaku usaha harus berhitung lebih cermat dalam setiap keputusan produksi.

Menurut Atina, marketplace memang membantu memperluas jangkauan pasar, tetapi manfaat tersebut kini diiringi risiko biaya yang tidak kecil. Ia menilai kebijakan promosi kerap muncul tanpa persetujuan yang jelas dari penjual. Ketika fitur aktif otomatis, beban pembayaran tetap jatuh kepada seller. Hal itu dinilai menimbulkan ketidakpastian dalam pengelolaan toko daring.

Vanilla Hijab mengaku harus menaikkan harga produk secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Contohnya, harga yang semula berada di kisaran Rp80.000 naik menjadi Rp95.000. Langkah ini dipilih untuk menjaga keberlangsungan usaha tanpa kehilangan pembeli secara drastis. Di saat yang sama, volume produksi massal juga dikurangi sambil memantau respons pasar.

Atina menegaskan bahwa penjual tidak bisa terus-menerus menahan kenaikan biaya di tengah perubahan pasar yang cepat. Ia menilai daya beli konsumen belum cukup kuat untuk menerima lonjakan harga secara tiba-tiba. Karena itu, penyesuaian dilakukan pelan-pelan dengan strategi komunikasi yang hati-hati. Bagi pelaku UMKM, kestabilan biaya menjadi kunci agar bisnis tetap sehat.

Strategi bertahan Vanilla Hijab

Alih-alih hanya bersaing lewat harga murah, Vanilla Hijab memilih meningkatkan nilai tambah pada produknya. Atina menilai strategi pemotongan harga berisiko merusak kesehatan bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan fokus pada inovasi yang membuat konsumen merasa memperoleh manfaat lebih. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dalam menghadapi produk impor siap pakai yang lebih murah.

Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah inovasi hijab instan dengan sistem magnet. Model ini dirancang agar pengguna tidak perlu memakai pentul dan lebih praktis dipakai sehari-hari. Selain itu, perubahan juga dilakukan pada kemasan produk. Jika sebelumnya menggunakan plastik, kini Vanilla Hijab perlahan beralih ke kemasan yang lebih reusable.

Menurut Atina, perubahan pada kemasan dan desain produk menjadi bagian dari upaya membangun persepsi nilai yang lebih tinggi. Konsumen diharapkan tidak hanya melihat harga, tetapi juga kualitas pengalaman saat membeli. Strategi tersebut dinilai penting ketika pasar semakin dipenuhi produk dengan harga kompetitif. Dengan nilai tambah, brand lokal bisa menjaga diferensiasi di tengah persaingan ketat.

Vanilla Hijab juga bekerja sama dengan produsen tekstil lokal besar, termasuk Gistex di Bandung. Namun, Atina mengakui bahwa sekitar 50 persen pasokan bahan baku di pasar Indonesia masih terkait jalur impor. Kondisi itu menunjukkan bahwa tantangan industri fashion lokal tidak hanya datang dari penjualan, tetapi juga dari rantai pasok. Karena itu, kestabilan industri hulu ikut menentukan daya tahan usaha di hilir.

Keluhan soal fitur otomatis

Selain biaya layanan, Atina menyoroti pengalaman tidak menyenangkan saat berjualan di marketplace. Ia mengaku pernah mendapati fitur gratis ongkir aktif sendiri tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Akibatnya, biaya program tersebut dibebankan langsung kepada seller. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus rutin memeriksa laporan keuangan toko mereka.

Masalah serupa, kata Atina, tidak hanya terjadi pada gratis ongkir, tetapi juga pada fitur lain seperti Live Extra. Ia menilai sistem yang berjalan otomatis tanpa konfirmasi berpotensi merugikan penjual. Saat seller meminta fitur dimatikan, proses itu justru baru dilakukan setelah komplain disampaikan. Situasi ini dianggap menunjukkan lemahnya transparansi di dalam platform.

Atina juga mengungkap adanya beban tambahan ketika pembeli menggunakan paylater. Menurutnya, biaya terkait layanan tersebut justru kerap dibebankan kepada seller, padahal fasilitas itu digunakan oleh pembeli. Ia menilai praktik semacam ini membebani penjual secara tidak proporsional. Karena itu, seller perlu semakin waspada terhadap rincian transaksi yang tercatat.

Ia meyakini pengalaman serupa dialami banyak penjual lain di Indonesia. Dengan jumlah seller yang besar, potensi kerugian akibat fitur aktif otomatis dinilai sangat luas. Atina meminta pelaku usaha untuk lebih teliti memantau aktivitas toko digital mereka. Menurutnya, kewaspadaan menjadi satu-satunya cara agar beban tak terkendali bisa segera diketahui.

Perlindungan UMKM digital

Di luar persoalan biaya, Atina juga menyoroti lemahnya perlindungan bagi penjual dari kasus fraud bermodus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, ia mengaku prihatin melihat banyak UMKM lain dirugikan. Ia menilai aturan pengembalian barang masih terlalu longgar dan rentan disalahgunakan. Hal itu membuat posisi seller semakin lemah di hadapan sistem platform.

Atina berharap negara hadir lebih konkret dalam melindungi ekosistem digital. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap penopang ekonomi Indonesia. Selain itu, sekitar 90 persen pasar mereka kini bergantung pada marketplace. Dengan ketergantungan sebesar itu, regulasi yang adil dinilai sangat mendesak.

Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya fokus pada kebijakan makro ekonomi. Regulasi mikro yang menyentuh operasional marketplace juga perlu diperhatikan agar tidak merugikan penjual lokal. Ia menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, para penjual daring kerap berjalan sendiri tanpa daya tawar yang seimbang.

Atina menutup dengan harapan agar harga lebih stabil dan kebijakan internal marketplace ditertibkan. Ia menilai keberlanjutan industri kreatif nasional bergantung pada keberpihakan terhadap pelaku usaha lokal. Jika perlindungan tidak diperkuat, UMKM akan terus menanggung beban yang tidak seharusnya. Dalam jangka panjang, kondisi itu berisiko melemahkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!