Vanilla Hijab Keluhkan Beban Biaya Marketplace Makin Berat

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 22:25 WIB 2
Vanilla Hijab Keluhkan Beban Biaya Marketplace Makin Berat

Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Kondisi itu disampaikan Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, yang menilai berbagai potongan layanan dan kewajiban promo telah menggerus margin penjual. Dalam situasi harga bahan baku ikut naik, pelaku UMKM terpaksa mencari cara bertahan agar bisnis tetap berjalan. Atina menyampaikan keluhannya saat ditemui di Tuscan Dream, Cipete, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Menurutnya, kebijakan platform yang berubah sepihak membuat ruang gerak penjual semakin sempit. Kenaikan biaya layanan, ongkos gratis ongkir, hingga beban promosi disebut tidak jarang dibebankan langsung kepada seller. Karena harga pasar sulit dinaikkan secara mendadak, banyak pelaku usaha memilih menahan produksi dan menaikkan harga secara bertahap. Vanilla Hijab pun kini fokus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha dan penerimaan konsumen.

Biaya Marketplace Menekan UMKM

Atina menjelaskan bahwa biaya marketplace yang terus naik telah menjadi tantangan utama bagi usahanya. Ia menilai seller kerap tidak memiliki posisi tawar saat platform menetapkan potongan layanan baru. Menurut dia, kondisi itu semakin berat karena pelaku usaha juga menghadapi kenaikan harga bahan baku. Akibatnya, margin keuntungan menyusut dan strategi bisnis harus diubah dengan cepat.

Ia menuturkan bahwa biaya gratis ongkir yang semula dianggap sebagai dukungan pemasaran justru bisa berubah menjadi beban tambahan. Dalam praktiknya, sejumlah biaya kampanye dibebankan ke seller tanpa proses pemberitahuan yang memadai. Atina menyebut situasi ini membuat para pelaku usaha harus lebih sering memeriksa laporan biaya toko. Jika tidak cermat, pengeluaran kecil yang berulang dapat menumpuk dan menggerus keuntungan.

Vanilla Hijab pun memilih menaikkan harga produk secara perlahan agar tidak mengejutkan konsumen. Salah satu contohnya, harga produk yang semula berada di kisaran Rp80.000 dinaikkan menjadi Rp95.000 secara bertahap. Di saat yang sama, volume produksi massal ikut dikurangi sambil melihat respons pasar. Langkah itu diambil agar bisnis tetap sehat tanpa kehilangan pelanggan setia.

Strategi Nilai Tambah Produk

Untuk tetap bersaing dengan produk impor siap pakai, Vanilla Hijab memilih memperkuat nilai tambah pada produk. Atina menilai perang harga bukan jalan terbaik karena dapat merusak keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan lebih fokus pada inovasi yang memberi manfaat nyata bagi konsumen. Strategi ini dianggap lebih relevan ketimbang sekadar menekan harga.

Salah satu pengembangan yang sedang dilakukan adalah hijab instan dengan sistem magnet agar tidak perlu menggunakan pentul. Selain itu, perusahaan juga mulai beralih dari kemasan plastik ke packaging yang lebih dapat digunakan kembali. Perubahan tersebut diharapkan memberi pengalaman berbeda kepada konsumen. Dengan begitu, kenaikan harga tetap terasa sepadan dengan kualitas yang diterima pembeli.

Atina menegaskan bahwa added value menjadi kunci dalam mempertahankan daya saing merek lokal. Ia menilai konsumen kini semakin memperhatikan fungsi, kenyamanan, dan keberlanjutan produk. Karena itu, inovasi tidak hanya menyasar tampilan, tetapi juga kemudahan penggunaan dan nilai praktis. Pendekatan tersebut dinilai lebih tahan terhadap tekanan pasar yang terus berubah.

Risiko Dan Proteksi Seller

Selain biaya, Atina juga menyoroti lemahnya perlindungan seller terhadap risiko penipuan bermodus retur barang. Ia mengaku Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, tetapi melihat banyak UMKM lain mengalami kerugian. Menurutnya, kelonggaran aturan pengembalian barang dapat dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab. Kondisi ini membuat ekosistem jual beli daring terasa kurang aman bagi penjual.

Ia juga mengkritik fitur promosi yang kerap aktif otomatis tanpa persetujuan jelas dari penjual. Pengalaman serupa disebut terjadi pada program gratis ongkir maupun fitur Live Extra. Saat seller meminta penonaktifan, fitur itu baru dimatikan setelah diproses lebih lanjut. Dalam banyak kasus, biaya dari fitur tersebut tetap dibebankan kepada penjual.

Atina meyakini praktik serupa dialami banyak seller di Indonesia, bukan hanya Vanilla Hijab. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha untuk lebih rajin memantau laporan dan komponen biaya toko. Ia juga menyoroti pembebanan biaya saat pembeli memakai paylater, yang dinilai tidak semestinya dibebankan ke seller. Menurutnya, kebijakan seperti itu menambah tekanan bagi pelaku usaha kecil.

Peran Negara Di Ekosistem

Di akhir penjelasannya, Atina menekankan perlunya kehadiran negara dalam melindungi ekosistem digital. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap ekonomi Indonesia dan sebagian besar pasarnya kini bergantung pada marketplace. Karena itu, regulasi tidak cukup hanya menyentuh level makro, tetapi juga perlu mengatur aspek mikro yang langsung memengaruhi penjual. Tanpa aturan yang adil, pelaku usaha lokal akan terus berada di posisi rentan.

Ia menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, para penjual daring sering bergerak sendiri tanpa posisi tawar yang seimbang. Dalam situasi seperti itu, kebijakan internal platform dapat berubah menjadi beban yang sulit dikontrol. Atina menilai negara perlu hadir untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan platform dan perlindungan seller.

Menurutnya, penertiban kebijakan marketplace penting agar industri kreatif nasional tetap berkelanjutan. Stabilitas harga dan kepastian aturan dinilai akan memberi ruang napas bagi pelaku usaha lokal. Jika perlindungan tidak diperkuat, UMKM berisiko kehilangan daya saing di pasar digital. Ia berharap pemerintah dan platform dapat duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang lebih adil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!