Pembiayaan peer-to-peer (P2P) lending dan layanan buy now, pay later (BNPL) terus meningkat di Indonesia hingga pertengahan 2026. Fenomena ini mencerminkan ketergantungan masyarakat pada utang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama bagi kalangan konsumtif. Para ekonom memperingatkan potensi risiko yang membebani debitur, seperti tingginya bunga yang menambah beban pengeluaran bulanan.
Data terbaru menunjukkan peningkatan utang melalui kedua layanan tersebut tidak hanya soal volume, tetapi juga struktur pengguna. Peningkatan utang dapat melemahkan daya beli saat beban bunga membengkak. Mereka menekankan bahwa pola utang yang bertumbuh perlu diawasi dengan kebijakan yang lebih ketat terhadap produk kredit digital.
Dinamika utang konsumtif
Pertumbuhan P2P lending dan BNPL di Indonesia meningkat seiring kebutuhan konsumsi rumah tangga. Debitur banyak memanfaatkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan investasi produktif. Hal ini menimbulkan kekhawatiran soal stabilitas keuangan rumah tangga jika pendapatan tidak mengikuti biaya hidup.
Menurut Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF, peningkatan utang tidak bisa dianggap sepele karena sebagian besar kredit bersifat konsumtif. Ia menyoroti bunga yang membebani pengeluaran bulanan sehingga daya beli tertekan. Ia menilai pola utang yang bertumbuh perlu diawasi dengan kebijakan yang lebih ketat terhadap produk kredit tersebut.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menambahkan bahwa penggunaan utang untuk kebutuhan sehari-hari berisiko menjebloskan pengguna ke dalam siklus utang. Ketika cicilan membebani, banyak orang akan meminjam lagi dari platform lain untuk menutupi pengeluaran. Kondisi demikian menambah kekhawatiran bahwa utang konsumtif tidak secara umum mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Dampak terhadap daya beli
Bunga utang yang tinggi menambah beban pengeluaran rumah tangga dan berpotensi menekan daya beli. Konsumsi rumah tangga berbasis utang cenderung tidak sehat karena pembayaran bunga masih harus dilakukan pada bulan-bulan berikutnya. Akibatnya, penopang konsumsi berisiko melemah jika pendapatan tidak tumbuh seiring biaya hidup.
Tekanan keuangan nafsu belanja mendorong debitur untuk meminjam lagi pada platform lain ketika cicilan menumpuk. Fenomena ini menciptakan pola perilaku konsumtif yang berlanjut meski pendapatan tidak berkembang. Beberapa analis menilai dinamika ini berpotensi memperburuk volatilitas permintaan rumah tangga.
Jika tren ini berlanjut, siklus utang konsumtif berisiko menyebabkan kemiskinan struktural bagi sebagian rumah tangga. Beban bunga dan cicilan bisa melebihi pertumbuhan pendapatan rumah tangga. Oleh karena itu diperlukan edukasi keuangan dan perlindungan konsumen yang lebih kuat terhadap produk kredit digital.
Risiko kualitas kredit
Pertumbuhan BNPL tidak selalu menandakan kredit berkualitas. Kredit jenis ini berpotensi meningkatkan NPL jika terjadi guncangan ekonomi. Hal ini menjadi perhatian pelaku industri terkait kemampuan debitur membayar kembali.
Para ahli memperingatkan bahwa NPL paylater bisa melonjak lebih tajam ketika terjadi guncangan ekonomi dibanding kredit modal kerja maupun kredit produktif. Kondisi ini menimbulkan risiko sistemik bagi lembaga finansial yang menyediakan platform tersebut. Oleh karena itu evaluasi risiko dan manajemen kredit menjadi sangat penting.
Jika kondisi berlanjut, dampaknya bisa membuat rumah tangga tergelincir ke dalam kemiskinan struktural. Gagal bayar berpotensi menyebabkan aset seperti jaminan dilelang untuk menutup utang. Kebijakan perlindungan konsumen dan pengawasan platform harus diperkuat agar risiko serupa tidak terulang.
