UPF Tidak Selalu Tidak Sehat, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 14:47 WIB 3
UPF Tidak Selalu Tidak Sehat, Ini Penjelasan Ahli

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah sarden kalengan sempat dianggap tidak sehat lalu dinilai bukan UPF. Perdebatan ini memunculkan kesan seolah-olah semua UPF pasti buruk, sementara semua non-UPF otomatis lebih baik. Padahal, penilaian pangan tidak sesederhana itu. Pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai definisi UPF masih menyisakan banyak ruang tafsir.

Menurutnya, masyarakat perlu berhati-hati saat menerima label UPF sebagai penentu tunggal sehat atau tidaknya makanan. Ia menegaskan, kualitas pangan seharusnya dilihat dari kandungan gizi, keamanan, porsi, dan frekuensi konsumsi. Sejumlah produk olahan justru bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. Karena itu, stigma terhadap seluruh makanan olahan dinilai terlalu menyederhanakan persoalan.

UPF dan Persepsi Kesehatan

Prof Purwiyatno menjelaskan, istilah UPF kerap menimbulkan salah paham karena definisinya belum sepenuhnya konsisten. Akibatnya, penerapan istilah tersebut sering bias, multitafsir, dan tidak seragam di berbagai konteks. Kondisi ini membuat publik mudah menarik kesimpulan yang terlalu jauh. Padahal, kategori pangan tidak selalu menggambarkan mutu gizi secara utuh.

Ia menilai, masalah utama muncul ketika produk yang masuk kategori UPF langsung dianggap tidak menyehatkan. Padahal, makanan olahan memiliki komposisi yang sangat beragam, baik dari sisi bahan maupun zat gizinya. Ada produk yang memang perlu dibatasi, tetapi ada pula yang masih relevan dalam pola makan sehari-hari. Karena itu, penilaian seharusnya tidak berhenti pada label pengolahan.

Menurutnya, pendekatan yang terlalu hitam-putih justru berisiko menyesatkan konsumen. Masyarakat dapat mengabaikan fakta bahwa sebagian pangan olahan tetap aman, bergizi, dan memenuhi standar. Dalam kondisi tertentu, produk seperti itu bahkan membantu masyarakat memperoleh asupan yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, edukasi gizi menjadi penting agar publik tidak terjebak pada stigma.

Stigma Pada Pangan Olahan

Prof Purwiyatno mencontohkan, susu UHT, pangan fortifikasi, dan beberapa produk lokal produksi IMK atau UMKM ikut terseret stigma negatif. Produk-produk tersebut dianggap otomatis buruk hanya karena masuk kategori UPF dalam sebagian klasifikasi. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan. Perbedaan komposisi dan tujuan pengolahan sangat menentukan nilainya.

Ia menegaskan, pangan olahan yang aman dan bergizi semestinya tidak disamakan dengan makanan yang memang tinggi gula, garam, atau lemak. Di lapangan, masyarakat kerap mencampuradukkan definisi dengan kualitas kesehatan produk. Akibatnya, pilihan konsumsi menjadi dipengaruhi persepsi, bukan informasi yang lengkap. Situasi ini membuat edukasi pangan perlu diperkuat secara berkelanjutan.

Stigma terhadap UPF juga berpotensi memengaruhi kepercayaan terhadap produk lokal yang sebenarnya memenuhi standar. Jika narasi yang beredar terlalu ekstrem, konsumen bisa kehilangan panduan yang objektif dalam memilih makanan. Produsen pun dapat terdampak karena produk mereka dinilai hanya dari kategorinya. Karena itu, penilaian terhadap makanan perlu ditempatkan secara proporsional.

Parameter Menilai Makanan

Menurut Prof Purwiyatno, penilaian pangan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada tingkat pengolahannya. Kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, dan frekuensi konsumsi harus ikut diperhitungkan. Dengan cara itu, masyarakat bisa memahami konteks setiap produk secara lebih utuh. Pendekatan semacam ini dinilai lebih ilmiah dan relevan.

Ia menekankan, pangan yang baik bukan berarti harus selalu minim proses. Dalam banyak kasus, proses justru dilakukan untuk menjaga keamanan, memperpanjang daya simpan, atau menambah nilai gizi. Yang perlu diwaspadai adalah produk yang komposisinya tidak seimbang atau dikonsumsi berlebihan. Artinya, manfaat dan risiko harus dilihat secara bersamaan.

Karena itu, masyarakat disarankan membaca label gizi dan memahami kandungan bahan pada kemasan. Langkah tersebut membantu konsumen membedakan mana produk yang layak dikonsumsi rutin dan mana yang sebaiknya dibatasi. Dengan informasi yang cukup, keputusan makan menjadi lebih rasional. Pada akhirnya, kesehatan tidak ditentukan oleh istilah semata, melainkan oleh pola makan secara keseluruhan.

Bijak Memilih Konsumsi

Di tengah ramainya diskusi soal UPF, pesan terpenting adalah tidak terjebak pada generalisasi. Tidak semua makanan olahan buruk, dan tidak semua makanan yang tampak alami pasti lebih sehat. Setiap produk memiliki karakter, manfaat, dan batas konsumsi yang berbeda. Karena itu, literasi pangan menjadi kebutuhan yang semakin penting.

Ahli menilai, pola makan sehat tetap harus disusun berdasarkan keseimbangan dan kecukupan gizi. Konsumen perlu mengutamakan variasi pangan, memperhatikan kebutuhan tubuh, dan menghindari konsumsi berlebihan. Jika perlu, pemilihan makanan dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi. Pendekatan ini jauh lebih tepat daripada hanya mengikuti tren media sosial.

Perdebatan tentang UPF seharusnya menjadi kesempatan untuk memahami pangan secara lebih kritis. Masyarakat perlu membedakan antara proses pengolahan dan kualitas kesehatan produk. Dengan pemahaman yang benar, stigma dapat berkurang dan pilihan makan menjadi lebih cerdas. Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana makanan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!