UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 11:36 WIB 2
UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Istilah ultra-processed food atau UPF semakin sering dibahas di media sosial, terutama setelah sarden kalengan disebut tidak termasuk kategori itu. Perdebatan ini muncul karena banyak orang langsung menganggap semua makanan UPF berbahaya, padahal penelitian menunjukkan dampaknya tidak selalu sama.

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari makanan minim olahan hingga ultra-processed foods. Sejumlah studi terbaru juga menunjukkan bahwa jenis produk, kandungan gizi, dan pola konsumsi ikut menentukan risiko kesehatan yang ditimbulkan.

UPF dalam klasifikasi NOVA

Klasifikasi NOVA membagi pangan ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahan. Kelompok tersebut mencakup unprocessed or minimally processed foods, processed culinary ingredients, processed foods, dan ultra-processed foods.

UPF berada di kelompok terakhir, yaitu produk yang melalui banyak tahapan industri dan biasanya mengandung bahan tambahan. Meski demikian, status sebagai UPF tidak otomatis berarti produk tersebut sama buruknya dengan makanan lain dalam kelompok yang sama.

Istilah ini menjadi populer karena banyak orang mengaitkannya dengan makanan kemasan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Padahal, klasifikasi tersebut lebih menyoroti tingkat pengolahan, bukan hanya rasa atau bentuk produk.

Karena itu, pemahaman terhadap NOVA penting agar masyarakat tidak menyamaratakan semua makanan olahan. Informasi ini juga membantu konsumen menilai produk secara lebih cermat sebelum mengonsumsinya.

Risiko tidak selalu seragam

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidak semua produk UPF memberikan dampak kesehatan yang sama. Perbedaan ini biasanya terlihat dari komposisi gizi, kadar gula, serta kandungan garam dan lemak jenuh.

Beberapa produk UPF memang lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit metabolik. Namun, ada pula produk yang dalam studi tertentu tidak menunjukkan hubungan serupa.

Hal ini menunjukkan bahwa kategori UPF perlu dibaca dengan konteks yang lebih luas. Penilaian kesehatan tidak bisa hanya didasarkan pada label ultra-processed semata.

Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan. Jika konsumsi dilakukan berlebihan, produk apa pun dapat berdampak negatif bagi tubuh.

Temuan studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 meneliti lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Penelitian itu menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Meski begitu, peneliti mencatat bahwa tidak semua kelompok UPF menunjukkan hubungan yang sama. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa efek kesehatan pada tiap produk bisa berbeda.

Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2. Sementara itu, beberapa produk lain seperti yogurt, whole-grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda.

Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa kandungan nutrisi dan bentuk produk perlu diperhatikan. Dengan begitu, masyarakat dapat menilai risiko secara lebih akurat, bukan berdasarkan kategori umum saja.

Memilih makanan lebih bijak

Di tengah ramainya pembahasan UPF, konsumen perlu lebih cermat membaca label gizi. Langkah ini membantu mengenali kadar gula, natrium, lemak, serta bahan tambahan dalam produk kemasan.

Memilih makanan yang lebih seimbang tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan. Produk kemasan masih bisa dikonsumsi, selama tidak menjadi sumber utama asupan harian.

Ahli gizi umumnya menyarankan agar masyarakat memperbanyak pangan segar atau minim olahan. Sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan protein tanpa banyak tambahan tetap lebih disarankan.

Dengan pemahaman yang tepat, istilah UPF tidak lagi dipandang secara hitam putih. Konsumen dapat membuat pilihan yang lebih sehat, lebih sadar, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!