Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat untuk Olahan Kekinian

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 13:04 WIB 2
Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat untuk Olahan Kekinian

Olahan ubi kembali naik daun di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan ubi ungu sebagai pilihan yang lebih bernutrisi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa ubi ungu memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi. Zat warna alami ini juga dikenal sebagai sumber antioksidan yang kerap dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan metabolik.

Ubi ungu dan antosianin

Menurut dr Tjandraningrum, jenis ubi yang paling direkomendasikan adalah ubi ungu. Alasannya, ubi ini mengandung antosianin dalam jumlah cukup tinggi. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna ungu pada umbi tersebut. Senyawa ini juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu.

Antosianin termasuk zat warna alami yang mengandung banyak flavonoid dan polifenol. Keduanya dikenal memiliki sifat anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu dinilai memiliki nilai tambah dibanding jenis ubi lain. Kandungan tersebut membuatnya menarik untuk dijadikan pilihan camilan sehat.

Informasi ilmiah turut mendukung pernyataan tersebut. Dalam ulasan yang dipublikasikan di jurnal Molecules tahun 2019, kadar antosianin pada ubi ungu dilaporkan mencapai sekitar 218 sampai 244 mg per 100 gram. Jumlah itu bergantung pada varietas dan metode pengolahan. Artinya, cara memasak dapat memengaruhi kualitas nutrisinya.

Selain memberi warna yang khas, antosianin juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan. Senyawa ini berperan membantu melawan stres oksidatif di dalam tubuh. Beberapa kajian juga menghubungkannya dengan efek anti-peradangan. Kombinasi manfaat tersebut membuat ubi ungu semakin diminati sebagai pangan fungsional.

Manfaat ubi ungu bagi tubuh

Dr Tjandra menilai kandungan antosianin pada ubi ungu dapat bermanfaat bagi kelompok berisiko penyakit tidak menular. Contohnya adalah penderita atau kelompok rentan diabetes dan hipertensi. Hal ini karena asupan pangan kaya antioksidan dapat membantu menjaga kesehatan secara umum. Meski begitu, manfaatnya tetap bergantung pada pola makan keseluruhan.

Ubi ungu juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat yang lebih menarik. Teksturnya yang lembut membuatnya mudah diolah menjadi berbagai menu. Di sisi lain, kandungan seratnya dapat membantu memberi rasa kenyang lebih lama. Kondisi ini bisa mendukung pengaturan porsi makan harian.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul dari semua jenis olahan ubi. Bahan tambahan yang dipakai justru dapat mengubah profil gizinya. Jika diolah dengan berlebihan, kalori dan gula dapat meningkat tajam. Karena itu, cara penyajian perlu diperhatikan sejak awal.

Bagi masyarakat yang ingin hidup lebih sehat, ubi ungu dapat dijadikan pilihan yang masuk akal. Pengolahan sederhana seperti dikukus atau dipanggang lebih disarankan. Cara ini membantu mempertahankan kualitas gizinya. Dengan begitu, ubi ungu tidak hanya enak, tetapi juga tetap bernilai bagi tubuh.

Waspadai topping tinggi gula

Meski populer, olahan ubi ungu bisa kehilangan manfaat bila diberi topping tinggi gula dan lemak jenuh. Tambahan seperti keju berlebihan, krim manis, atau saus gula dapat meningkatkan asupan energi secara drastis. Dalam kondisi itu, ubi tidak lagi menjadi pilihan yang ringan. Bahkan, camilan tersebut bisa mendekati makanan penutup tinggi kalori.

Dr Tjandra mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak saat memilih tambahan topping. Porsi juga perlu diperhitungkan agar konsumsi tidak berlebihan. Semakin sederhana bahan tambahannya, semakin baik untuk menjaga mutu gizi. Pendekatan ini penting terutama bagi orang dengan risiko diabetes.

Masyarakat yang ingin menikmati ubi ungu tetap bisa memilih pelengkap yang lebih aman. Buah segar, yogurt tanpa gula, atau taburan kacang dalam jumlah wajar dapat menjadi opsi yang lebih baik. Kombinasi tersebut memberi rasa tanpa membuat gula dan lemak melonjak terlalu tinggi. Hasilnya, olahan ubi tetap nikmat dan lebih seimbang.

Kebiasaan memilih topping sehat juga dapat menjadi langkah kecil menuju pola makan yang lebih baik. Tren makanan viral tidak harus diikuti dengan berlebihan. Dengan pengolahan yang tepat, ubi ungu bisa tetap relevan sebagai camilan modern. Pada saat yang sama, manfaat gizinya tetap terjaga.

Tips memilih ubi ungu

Agar lebih optimal, masyarakat sebaiknya memilih ubi ungu yang masih segar dan berkualitas baik. Ubi yang baik umumnya memiliki kulit utuh, tidak busuk, dan tidak terlalu lembek. Setelah itu, cara memasaknya perlu dibuat sesederhana mungkin. Langkah ini membantu menjaga cita rasa dan kandungan nutrisinya.

Metode seperti kukus atau panggang tanpa banyak tambahan biasanya lebih disarankan. Teknik tersebut relatif tidak menambah kalori berlebih. Selain itu, rasa alami ubi ungu akan lebih menonjol. Ini membuatnya cocok untuk menu harian maupun camilan sore.

Perhatian lain adalah pada jumlah konsumsi. Meski tergolong sehat, ubi tetap merupakan sumber karbohidrat yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Porsi yang wajar akan lebih aman bagi orang yang sedang mengatur berat badan. Karena itu, keseimbangan tetap menjadi kunci utama.

Di tengah banyaknya pilihan camilan viral, ubi ungu bisa menjadi alternatif yang lebih cerdas. Kandungan antosianin, serat, dan potensinya bagi kesehatan membuatnya layak dipertimbangkan. Namun, manfaat itu hanya maksimal bila diolah dengan bijak. Dengan cara tersebut, tren kuliner tetap bisa sejalan dengan pola makan sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!